BREAKING NEWS
 

Daniel Yergin, Wood Mackenzie, Hingga IPA Convex

Politik Energi dan Masa Depan Hulu Migas

Reporter & Editor :
MUHAMMAD RUSMADI
Senin, 13 April 2026 10:10 WIB

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah pergeseran lanskap energi global, dua suara dari panggung internasional memberikan pesan yang sama: masa depan energi tidak hitam-putih. Daniel Yergin, pakar energi dunia menegaskan, negara berkembang seperti Indonesia tidak bisa serta-merta meninggalkan migas.

“Negara seperti Indonesia membutuhkan pendekatan hibrida—mempertahankan produksi migas sambil mempercepat investasi energi bersih,” ujarnya dalam forum CERAWeek by S&P Global di Houston, Amerika Serikat, 11 Maret 2025.

Yergin adalah penulis asal Amerika Serikat, sejarawan ekonomi, sekaligus konsultan sektor energi dan ekonomi. Dia dikenal luas sebagai otoritas terkemuka dalam bidang energi, geopolitik, dan ekonomi global, penulis buku terlaris, serta peraih Penghargaan Pulitzer, penghargaan bergengsi Amerika Serikat yang diberikan oleh Universitas Columbia.

Baca juga : Cek Persiapan TKA Di Bali, Wamen Fajar: Cocok Untuk Kebutuhan Masa Depan

Pandangan itu diperkuat oleh analisa Wood Mackenzie dalam forum Asia Pacific Energy Summit di Singapura, 18 September 2025. Perusahaan riset, analitik, dan konsultasi global bidang energi, energi terbarukan, dan sumber daya alam yang berkantor pusat di Edinburgh, Skotlandia, Britania Raya ini menilai, Asia Tenggara, termasuk Indonesia, masih akan menjadi kawasan strategis bagi investasi migas global. Permintaan energi yang terus tumbuh membuat peran migas belum tergantikan dalam waktu dekat.

Dua pandangan ini seolah menjadi cermin bagi Indonesia, terutama dalam konteks penyelenggaraan The 50th IPA Convex: Shaping the Future of Energy. Forum tersebut bukan sekadar ajang industri, melainkan ruang refleksi atas dilema besar: bagaimana menavigasi transisi energi tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi dan politik nasional.

Dalam bukunya Multiplier Effect Industri Hulu Migas, Dr. Rinto Pudyantoro menjelaskan, industri hulu migas merupakan penggerak ekonomi yang memiliki efek berganda (multiplier effect) luas. Dampaknya tidak hanya terasa dalam penerimaan negara, tetapi juga menjalar ke daerah melalui Dana Bagi Hasil, penciptaan lapangan kerja, hingga tumbuhnya industri turunan.

Baca juga : Arus Balik Terus Meningkat, InJourney Airports dan Maskapai Siapkan Extra Flight

Namun, realitas fiskal menunjukkan tantangan. Kontribusi migas terhadap penerimaan negara terus menurun dalam dua dekade terakhir. Pergeseran ini menandakan transformasi ekonomi, tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan: apakah Indonesia siap mengurangi peran migas tanpa kehilangan daya tahan fiskal?

Adsense

Di sinilah politik energi memainkan peran penting. Pemerintah berada dalam posisi yang tidak mudah—menjaga keseimbangan antara komitmen transisi energi dan kebutuhan riil dalam negeri. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa migas masih menjadi energi transisi yang tak tergantikan.

“Kita tidak bisa meninggalkan migas begitu saja,” ujarnya dalam wawancara di Jakarta, 3 Maret 2026.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense