BREAKING NEWS
 

PT IIM: Eskalasi Geopolitik Timteng Dorong Pentingnya Diversifikasi Portofolio

Reporter & Editor :
OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Kamis, 23 April 2026 14:31 WIB
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, menjadi sumber guncangan utama bagi ekonomi global melalui lonjakan harga minyak dan meningkatnya volatilitas pasar.

Meski terdapat indikasi de-eskalasi, kondisi dinilai masih rapuh dan berpotensi kembali memburuk, sehingga arah ke depan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik.

Direktur PT Insight Investments Management (PT IIM), Camar Remoa, menyampaikan bahwa dampak konflik tersebut terhadap Indonesia akan tercermin melalui empat kanal utama, yakni neraca eksternal, nilai tukar, fiskal, dan inflasi.

Dari sisi eksternal, Indonesia sebagai net oil importer menghadapi tekanan akibat tingginya ketergantungan pada impor minyak.

Kenaikan harga minyak berpotensi memperburuk neraca perdagangan energi dan mendorong pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) hingga sekitar 1,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Meski terdapat penopang dari kenaikan harga komoditas lain seperti batu bara dan CPO, dampak bersihnya tetap negatif.

Dia menyebut, dari sisi nilai tukar, tekanan muncul dari meningkatnya kebutuhan dolar untuk impor energi serta fenomena flight to safety yang mendorong rupiah melemah ke kisaran Rp 17.100 per dolar AS.

Baca juga : Geopolitik Dunia Dorong Strategi Sinergi Energi Nasional

"Ruang intervensi Bank Indonesia melalui cadangan devisa yang terbatas berpotensi membutuhkan penyesuaian suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah,” ujar Camar, Kamis (23/4/2026). 

Dari sisi fiskal, kenaikan harga minyak di atas asumsi APBN berpotensi meningkatkan beban subsidi hingga Rp 200 triliun.

Sementara itu, tambahan penerimaan negara belum cukup mengimbangi tekanan tersebut, sehingga berisiko mendorong defisit fiskal mendekati atau melampaui 3 persen terhadap PDB.

Adapun dari sisi inflasi, dampak kenaikan harga energi masih relatif tertahan oleh kebijakan subsidi.

Namun, risiko inflasi tetap meningkat signifikan jika terjadi penyesuaian harga BBM subsidi, dengan potensi tambahan inflasi lebih dari 2–3 persen.

Risiko ini diperbesar oleh melemahnya daya beli kelas menengah dan rendahnya kepercayaan bisnis.

Adsense

Secara keseluruhan, Camar menilai ekonomi Indonesia masih memiliki penyangga jangka pendek melalui kebijakan fiskal ekspansif dengan pertumbuhan diperkirakan berada di kisaran 5,2 persen pada 2026. Namun, durasi tekanan energi menjadi faktor penentu utama.

Baca juga : Diversifikasi Pasokan Energi Menjaga Stabilitas Nasional

“Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar tekanan kumulatif terhadap stabilitas makroekonomi,” tuturnya.

Strategi Investasi di Tengah Volatilitas

Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, kebutuhan akan strategi investasi yang adaptif menjadi semakin penting. Faktor geopolitik, arah suku bunga global, serta pergerakan aliran dana asing mendorong investor untuk lebih selektif dalam mengelola portofolio.

Camar menekankan pentingnya pendekatan disiplin dan terdiversifikasi. Menurutnya, investor perlu menjaga keseimbangan alokasi aset dan tidak terfokus pada satu instrumen.

“Diversifikasi menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas sekaligus mengoptimalkan peluang,” katanya.

Untuk investor dengan profil risiko konservatif, strategi defensif dapat ditempuh dengan menjaga likuiditas melalui instrumen yang relatif stabil, seperti reksa dana pasar uang.

Instrumen ini dapat dimanfaatkan sebagai penempatan dana jangka pendek sekaligus “parkir dana” sambil menunggu momentum pasar.

Sementara itu, reksa dana pendapatan tetap dapat menjadi alternatif bagi investor yang menginginkan potensi imbal hasil lebih optimal dengan risiko yang tetap terjaga.

Baca juga : Dewi Yustisiana Dukung Langkah Pemerintah Diversifikasi Impor Energi

Bagi investor dengan profil risiko moderat hingga agresif, peluang tetap terbuka melalui instrumen obligasi pemerintah maupun saham dengan pendekatan investasi bertahap, seperti dollar cost averaging (DCA), guna mengurangi risiko timing dan mengoptimalkan potensi pertumbuhan jangka panjang.

Camar menegaskan, disiplin dalam pengelolaan portofolio serta keseimbangan antara alokasi aset dan likuiditas menjadi kunci dalam menghadapi dinamika pasar.

Sebagai bagian dari solusi investasi, PT IIM menawarkan produk Reksa Dana Pasar Uang Insight Money (I-Money) untuk menjaga likuiditas dengan potensi imbal hasil yang relatif stabil melalui diversifikasi pada instrumen pasar uang dan efek utang jangka pendek.

Berdasarkan Fund Fact Sheet per Maret 2026, I-Money mencatat pertumbuhan kumulatif sebesar 90,94 persen sejak diluncurkan pada 2015, melampaui benchmark Infovesta Money Market Fund Index di kisaran 57 persen.

Selain itu, PT IIM juga menghadirkan Reksa Dana Syariah Pendapatan Tetap Insight Elite Fund (I-Elite) yang berfokus pada optimalisasi imbal hasil jangka menengah hingga panjang melalui kombinasi sukuk korporasi dan sukuk negara.

Sejak diluncurkan pada 2016, I-Elite mencatat pertumbuhan kumulatif lebih dari 120 persen, melampaui benchmark Infovesta Sharia Fixed Income Fund Index yang berada di kisaran 57 persen.

Dengan pengelolaan profesional dan diversifikasi instrumen, reksa dana dinilai menjadi salah satu pilihan investasi yang dapat membantu investor menjaga stabilitas sekaligus memanfaatkan peluang di tengah volatilitas pasar.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense