Ekonomi Global Melambat
Di kesempatan yang sama, Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengamini, kondisi perbankan di Indonesia masih sangat solid. Hal ini lantaran perbankan sangat menjaga dan menerapkan prinsip kehatihatian yang sangat tinggi dalam menjaga kualitas aset.
“Memang secara relatif dan secara umum perbankan di Indonesia itu tidak ada masalah yang signifikan. Kondisi perbankan di Indonesia masih sangat solid,” ucapnya.
Baca juga : Harga MinyaKita Terus Melandai
Meskipun ada peningkatan tren NPL pada segmen menengah ke bawah yang sulit dihindari akibat kondisi global, imbuhnya, namun sistem manajemen risiko perbankan saat ini disebut jauh lebih baik dibandingkan periode krisis sebelumnya.
Andry juga menegaskan, perbankan tetap mampu mengantisipasi gejolak dengan cadangan yang memadai. Kondisi ini didukung kebijakan Pemerintah yang berhasil menjaga daya beli melalui stabilisasi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dengan memanfaatkan windfall dari fiskal.
“Sektor perbankan juga disebut menjadi pilar utama dalam mendukung program prioritas pembangunan nasional. Pertumbuhan kredit tetap solid di high single digit hingga low double digit,” tuturnya.
Baca juga : Gencarkan Sosialisasi Gerakan Pilah Sampah
Lebih jauh Andry memproyeksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,18 persen sepanjang 2026, di tengah tingginya ketidakpastian global. Angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,11 persen.
Andry memperkirakan inflasi Indonesia berada di level 3,53 persen pada 2026, naik dibanding proyeksi 2025 sebesar 2,92 persen. Nilai tukar rupiah juga diproyeksikan melemah ke level Rp 17.135 per dolar AS pada akhir 2026.
Dari sisi perbankan, pertumbuhan deposito diproyeksikan mencapai 10,61 persen pada 2026, sedangkan pertumbuhan kredit diperkirakan sebesar 10,34 persen.
Baca juga : Lazio Vs Inter Milan, Kesempatan Elang Bunuh Ular Besar
Andry menilai, kondisi global tahun ini masih akan dibayangi ketidakpastian, terutama terkait arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed.
“Ketidakpastian global juga dipicu oleh faktor geopolitik dan risiko ekonomi yang masih tinggi. Serta agresivitas kebijakan luar negeri Amerika, termasuk tarif impor dari Presiden Donald Trump, hingga konflik geopolitik di Timur Tengah,” ucapnya.
Berbagai proyeksi tersebut, kata Andry, menunjukkan pertumbuhan ekonomi global masih akan melambat pada 2026 sebelum mulai pulih pada 2027. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.