BREAKING NEWS
 

4th TPOMI 2026 Atasi Tantangan Pabrik Kelapa Sawit Masa Depan

Reporter : HAIKAL AMIRULLAH
Editor : FAQIH MUBAROK
Rabu, 3 Juni 2026 10:42 WIB
Diskusi bersama media dan Press Conference 4th Technology & Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026 di Selasa (2/06/2026). Foto: Dok TPOMI

 Sebelumnya 
Revolusi Dry Process: Solusi Minim Limbah dan Kaya Vitamin

Selama ini, Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Indonesia mayoritas mengandalkan wet process yang membutuhkan uap panas (steam) intensif. Konsekuensinya, proses ini menghasilkan emisi tinggi serta limbah cair yang masif berupa Palm Oil Mill Effluent (POME).

Adsense

Sebagai alternatif masa depan, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menawarkan konsep dry process.

Krisna Septiningrum, Direktur Industri Kemurgi, Oleokimia, dan Pakan Kemenperin, menjelaskan bahwa teknologi baru ini jauh lebih efisien karena beroperasi pada suhu yang lebih rendah dan memanfaatkan proses enzimatis serta penambahan mineral.

Melalui dry process, produk yang dihasilkan bukan lagi Crude Palm Oil (CPO), melainkan Degummed Palm Mesocarp Oil (DPMO) atau Palm Mesocarp Oil (PMO). Berdasarkan Permenperin Nomor 32 Tahun 2024, perbedaan mencolok terletak pada kadar kontaminan (impurities), PMO mematok standar maksimal 0,2 persen, jauh lebih ketat dibanding CPO yang berada di angka 0,45 persen.

Baca juga : Pakar ITB Soroti Tantangan Sistem Kelistrikan Hadapi Variabilitas Cuaca

Beberapa keunggulan utama dari dry process meliputi: Ramah Lingkungan, menurunkan emisi karbon sekitar 7 persen dibanding proses basah dan memangkas limbah cair secara drastis karena tidak menggunakan steam.

Kaya Nutrisi, menjaga kandungan Vitamin A dan E tetap tinggi. Inovasi ini dapat menjadi substitusi impor bahan baku suplemen softgel di Indonesia.

Desain Modular, mesin dirancang dalam skala kecil (5–10 ton per jam). Karena tidak membutuhkan sumber air besar, pabrik bisa didirikan langsung di dekat perkebunan. Saat ini, proyek percontohan (pilot project) berskala laboratorium hingga gudang (warehouse) telah berjalan di Yogyakarta dan Sukabumi, dengan rencana ekspansi ke Labuhan Batu.

Jika penandatanganan MoU rampung tahun ini, pembangunan fisik ditargetkan mulai berjalan tahun depan. Untuk skala miniplant berkapasitas 2 ton per jam, estimasi belanja modal (capex) berada di kisaran Rp13 Miliar (belum termasuk biaya operasional/opex).

Sentimen Pasar: Dukungan GAPKI dan Realitas Sektor Hulu

Baca juga : Idul Adha, Kementan Pastikan Stok Dan Harga Cabai Nasional Aman

Meski teknologi ini menjanjikan angin segar, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang juga hadir dalam diskusi mengingatkan pentingnya memperkuat sektor hulu sebelum melangkah terlalu jauh ke hilir.

R Azis Hidayat, Ketua Bidang Perkebunan GAPKI, memaparkan performa industri yang terus melaju positif. Sepanjang tahun 2024, produksi sawit naik 7,2 persen menjadi 51,686 juta ton dengan nilai ekspor menembus Rp 620 Triliun (asumsi kurs Rp 17.000/USD).

Tren kenaikan ini berlanjut hingga Maret 2026 yang mencatatkan angka 15,5 juta ton, didorong oleh melonjaknya konsumsi biodiesel domestik. Meski mendukung efisiensi teknologi baru, GAPKI menekankan beberapa poin kritis yang harus segera dibenahi.

Pertama, Peta Jalan PKS Nasional. Pemerintah perlu menyusun roadmap kapasitas PKS agar tidak terjadi kelebihan kapasitas (over capacity) serta memetakan posisi PKS swadaya. Radius maksimal antara kebun petani dan pabrik idealnya tidak lebih dari 50 km dengan waktu tempuh di bawah 24 jam demi menjaga kualitas Tandan Buah Segar (TBS).

Kedua, Pembenahan Hulu: Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) saat ini baru mencapai sepertujuh dari target. GAPKI kini tengah membentuk konsorsium untuk mendatangkan klon unggul yang tahan penyakit Ganoderma serta serangga penyerbuk dari Afrika.

Baca juga : BNPP Petakan Tantangan Pembangunan Perbatasan Entikong

Ketiga, Aspek Hukum & Kemitraan. Penyelesaian sawit di kawasan hutan dan penguatan kemitraan tata kelola bahan baku antara PKS dan petani mandiri harus menjadi prioritas. Terlebih, sertifikasi ISPO sektor hilir akan diwajibkan penuh pada tahun 2027.

Ketua Panitia TPOMI 2026 sekaligus Ketua Bidang PKS, Ir. Posma Sinurat turut mengonfirmasi bahwa teknologi dry process ini sangat dinantikan pelaku industri karena mampu menekan emisi limbah cair secara signifikan, emisi limbah cair konvensional saat ini mencapai 25 persen.

Kemenperin juga menegaskan bahwa penerapan wet process tidak akan dihentikan secara mendadak demi menghindari guncangan industri akibat lompatan skala operasional yang terlalu ekstrem.

Sebagai stimulasi, pemerintah menyiapkan berbagai insentif bagi industri yang mengadopsi teknologi lokal berkadar TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) tinggi, seperti mekanisme reimbursement biaya investasi hingga 30–35 persen, pemanfaatan skema KIPK, hingga pengurangan bunga bank sebesar 5 persen. 

Transformasi menuju dry process menjanjikan masa depan sawit Indonesia yang lebih hijau dan bernilai tinggi. Namun, keberhasilannya akan sangat bergantung pada kejelasan regulasi, standarisasi SNI baru untuk PMO, kemudahan perizinan, serta jaminan kelancaran arus kas (cash flow) bagi para petani rakyat yang menjadi ujung tombak pasokan energi hijau ini.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense