Dark/Light Mode

Pakar ITB Soroti Tantangan Sistem Kelistrikan Hadapi Variabilitas Cuaca

Jumat, 29 Mei 2026 17:46 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Blackout yang sempat terjadi di sejumlah wilayah Sumatra dinilai menjadi pengingat akan tantangan yang dihadapi sistem interkoneksi modern di tengah variabilitas cuaca yang semakin meningkat seiring perubahan pola iklim.

Pengamat sistem tenaga listrik Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Ir. Kevin Marojahan Banjar Nahor, ST, MT, mengatakan kondisi cuaca merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi keandalan sistem transmisi tegangan tinggi.

“Dalam sistem tenaga modern, kondisi cuaca menjadi salah satu parameter penting yang diperhitungkan dalam pengoperasian jaringan transmisi,” ujarnya.

Menurut Kevin, perubahan pola iklim membuat variabilitas cuaca semakin dinamis.

Kondisi tersebut menuntut operator sistem tenaga untuk memperhitungkan lebih banyak kondisi operasi yang berubah-ubah (dynamic operating condition) dalam menjaga stabilitas jaringan interkoneksi besar seperti Sumatera.

“Perubahan iklim tidak selalu berarti satu kejadian ekstrem langsung menyebabkan gangguan sistem. Namun, variabilitas cuaca yang meningkat dapat menambah tantangan dalam pengoperasian jaringan transmisi,” katanya.

Baca juga : MTI Minta Pemerintah Perkuat Sistem Keselamatan Transportasi

Ia menjelaskan, sistem transmisi tegangan tinggi sangat dipengaruhi faktor lingkungan seperti temperatur, kecepatan angin, curah hujan, dan kelembapan.

Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi karakteristik mekanis maupun kelistrikan konduktor saat beroperasi.

Kevin menambahkan, gangguan pada sistem interkoneksi berskala besar umumnya tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi berbagai faktor yang terjadi secara bersamaan.

“Gangguan pada sistem interkoneksi besar bersifat probabilistik. Dalam kondisi operasi tertentu, gangguan yang pada awalnya bersifat lokal berpotensi berkembang menjadi gangguan berantai (cascading disturbance) apabila berdampak pada aliran daya serta stabilitas sistem tenaga listrik,” ujarnya.

Menurutnya, sistem proteksi otomatis yang diterapkan pada jaringan interkoneksi memang dirancang untuk menjaga keamanan peralatan pembangkit dan transmisi ketika terjadi gangguan.

“Ketika kestabilan sistem tenaga terganggu, sistem proteksi akan bekerja otomatis untuk mencegah risiko kerusakan yang lebih besar pada jaringan maupun pembangkit, sekaligus mencegah blackout total pada seluruh sistem interkoneksi,” katanya.

Baca juga : DEN: Kehati-hatian Jadi Kunci Pemulihan Sistem Kelistrikan Sumatera

Kevin menilai, semakin besar sistem interkoneksi, semakin tinggi pula efisiensi dan fleksibilitas penyaluran energi.

Namun, di sisi lain, kompleksitas pengelolaan stabilitas sistem juga meningkat.

Karena itu, teknologi pemantauan real-time, analisis kondisi sistem berbasis data, hingga inspeksi jaringan menggunakan drone menjadi semakin penting dalam pengoperasian sistem tenaga modern.

Upaya tersebut juga perlu diimbangi dengan penguatan infrastruktur transmisi dan pembangkitan guna meminimalkan potensi gangguan.

“Perkembangan teknologi monitoring dan proteksi sekarang memungkinkan operator membaca kondisi sistem lebih cepat sehingga respons terhadap gangguan juga bisa dilakukan lebih dini,” ujarnya.

Ia menambahkan, tantangan akibat variabilitas cuaca tidak hanya dihadapi Indonesia, tetapi juga menjadi perhatian banyak negara yang mengoperasikan sistem interkoneksi berskala besar.

Baca juga : Raih Gelar Doktor, Sabar Tobing Soroti Pentingnya Kepercayaan dan Pemeriksaan Pajak di Era Coretax

"Di berbagai negara, isu power system resiliency terhadap perubahan pola cuaca memang menjadi perhatian utama dalam pengembangan sistem ketenagalistrikan modern,” jelasnya.

Sebelumnya, hasil investigasi awal gabungan Bareskrim Polri, Puslabfor, dan PLN menyebut kemungkinan gangguan berasal dari putusnya kabel transmisi pada area sambungan atau mid span jointing yang dipengaruhi kombinasi faktor cuaca dan tekanan mekanis.

Dalam konferensi pers hasil investigasi, aparat juga memperlihatkan potongan kabel yang dijadikan sampel barang bukti untuk pengujian laboratorium. Sampel tersebut diambil dari titik kabel yang mengalami kerusakan untuk dianalisis lebih lanjut.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.