Oleh: Sindu Rahayu
Atase Perhubungan Kuala Lumpur
RM.id Rakyat Merdeka - Setiap kali liburan tiba, Terminal Ferry Internasional Batam Center selalu punya wajah yang hampir sama: antrean lebih panjang dari biasanya, koper berjejer di lorong keberangkatan, keluarga yang bepergian bersama, pekerja yang pulang sebentar ke kampung halaman di seberang, dan wisatawan yang memanfaatkan waktu libur untuk menyeberang.
Bagi Batam, ini bukan sekadar pemandangan musiman. Ini adalah potret kecil dari hubungan yang jauh lebih besar antara Indonesia dan Malaysia, khususnya Johor. Hubungan itu hidup setiap hari: lewat perjalanan keluarga, mobilitas pekerja, kunjungan wisata, urusan usaha kecil, hingga aktivitas ekonomi lintas batas yang mungkin terlihat sederhana, tetapi terus bergerak.
Di balik keramaian itu, ada satu pertanyaan yang belakangan makin sering muncul dalam pembahasan konektivitas kedua negara: bagaimana kalau penyeberangan ini tidak hanya membawa orang, tetapi juga kendaraan?
Pertanyaan inilah yang membuat rencana pembukaan rute Roll-On/Roll-Off atau Ro-Ro Batam-Johor menjadi semakin relevan. Bukan sekadar menambah satu rute baru, Ro-Ro berpotensi membuka cara pandang baru terhadap konektivitas Indonesia–Malaysia: dari pergerakan penumpang menuju pergerakan kendaraan, barang, dan peluang ekonomi yang lebih luas.
Potret Ramainya Pergerakan Penumpang
Sebelum bicara tentang Ro-Ro, kita perlu melihat lebih dulu apa yang sudah terjadi setiap hari di Terminal Ferry Internasional Batam Center. Terminal ini bukan sekadar ruang tunggu penumpang atau titik keberangkatan kapal. Ia adalah salah satu simpul mobilitas lintas negara yang mempertemukan banyak kepentingan: keluarga yang saling mengunjungi, pekerja yang bergerak antara Batam dan Malaysia, wisatawan yang datang untuk berlibur, serta pelaku usaha kecil yang membawa aktivitas ekonominya melintasi selat.
Sepanjang 2025, data realisasi naik-turun penumpang Terminal Ferry Internasional Batam Center mencatat total 1.033.776 pergerakan penumpang, terdiri dari 527.444 kedatangan dan 506.332 keberangkatan, dengan 7.366 trip/call sepanjang tahun. Jika dirata-ratakan, terdapat sekitar 2.832 pergerakan penumpang per hari melalui terminal ini. Angka ini menunjukkan bahwa mobilitas melalui Batam Center bukan kejadian sesekali, melainkan ritme harian yang terus berlangsung sepanjang tahun.
Menariknya, jumlah kedatangan dan keberangkatan pada tahun 2025 relatif berimbang. Kedatangan tercatat 527.444 penumpang, sementara keberangkatan 506.332 penumpang. Keseimbangan ini memperlihatkan bahwa Batam Center tidak hanya berfungsi sebagai titik keluar menuju Malaysia, tetapi juga sebagai pintu masuk yang penting bagi arus balik penumpang ke Batam. Dengan kata lain, hubungan Batam-Johor tidak bergerak satu arah. Ia adalah mobilitas dua arah yang hidup, saling mengisi, dan terus berulang.
Jika dilihat dari pola bulanan, pergerakan penumpang juga menunjukkan dinamika yang menarik. Tiga bulan dengan total pergerakan tertinggi pada 2025 adalah Agustus sebanyak 115.149 penumpang, Desember sebanyak 104.394 penumpang, dan Juni sebanyak 101.861 penumpang. Pola ini menggambarkan bahwa masa liburan sekolah dan libur akhir tahun menjadi periode penting dalam membaca mobilitas penumpang melalui Batam Center. Namun, angka-angka di bulan lain juga tetap menunjukkan aktivitas yang cukup stabil, sehingga keramaian terminal ini tidak semata-mata bergantung pada satu musim liburan saja.
Baca juga : Prabowo: Dukungan India Perkuat Posisi Indonesia Di BRICS
Bulan Juni 2025, misalnya, mencatat 101.861 pergerakan penumpang, terdiri dari 45.348 kedatangan dan 56.513 keberangkatan. Sementara itu, Desember 2025 mencatat 104.394 pergerakan penumpang, terdiri dari 50.610 kedatangan dan 53.784 keberangkatan. Kedua periode ini menunjukkan bahwa ketika musim libur tiba, baik liburan sekolah maupun akhir tahun, Batam Center menjadi salah satu titik yang langsung merasakan peningkatan mobilitas lintas negara.
Puncak tertinggi terjadi pada Agustus 2025 dengan 115.149 pergerakan penumpang. Angka ini menarik karena tidak hanya memperlihatkan tingginya volume perjalanan, tetapi juga menunjukkan bahwa mobilitas melalui Batam Center dipengaruhi oleh berbagai faktor: kalender liburan, perjalanan keluarga, aktivitas wisata, pekerjaan, serta perjalanan usaha dan sosial masyarakat yang memang sudah terbiasa bergerak antara Batam dan Malaysia. Dengan jumlah sebesar itu dalam satu bulan, Batam Center terlihat bukan hanya sebagai terminal, tetapi sebagai ruang pertemuan mobilitas kawasan.
Memasuki 2026, arus penumpang pada masa liburan sekolah tetap menunjukkan aktivitas yang kuat. Pada Juni 2026, tercatat 634 call/trip dengan total 21.302 pergerakan penumpang. Sementara itu, pada Juli 2026 sampai dengan tanggal 5 Juli, tercatat 125 call/trip dengan total 16.507 pergerakan penumpang. Angka awal Juli ini penting dibaca secara proporsional karena datanya baru mencakup lima hari pertama, tetapi sudah menunjukkan pergerakan yang cukup besar. Jika dirata-ratakan, pergerakan penumpang pada awal Juli 2026 mencapai sekitar 3.301 penumpang per hari.
Dengan melihat data Juli 2026 tersebut, terlihat bahwa momentum liburan sekolah kembali menjadi periode yang aktif. Dalam lima hari pertama saja, jumlah pergerakan sudah mencapai lebih dari enam belas ribu penumpang. Angka ini memberi gambaran bahwa permintaan perjalanan lintas negara melalui Batam Center tetap kuat, bahkan ketika yang dilihat baru sebagian kecil dari bulan berjalan. Karena itu, membaca data Juli tidak bisa disamakan dengan membaca data satu bulan penuh, tetapi justru dapat dipakai untuk menangkap intensitas awal musim perjalanan.
Terminal Batam Center sudah lama menjadi salah satu pintu keluar-masuk penting di Kepulauan Riau untuk rute Malaysia, terutama melalui jalur Stulang Laut dan Pasir Gudang. Ketiganya melayani campuran penumpang: wisatawan, pekerja, keluarga, pelaku usaha kecil, dan masyarakat yang bergerak rutin di antara dua wilayah yang secara geografis dekat dan secara sosial-ekonomi saling terhubung. Ini penting, karena penumpang di jalur Batam-Johor tidak hanya datang karena liburan, tetapi juga karena kebutuhan hidup sehari-hari yang melampaui batas administratif negara.
Dari sudut pandang konektivitas, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa pasar penumpang Batam-Johor sudah terbentuk. Orang sudah terbiasa menyeberang, operator sudah melayani rute secara reguler, dan terminal sudah menjadi bagian dari ekosistem perjalanan masyarakat. Artinya, rencana Ro-Ro tidak dimulai dari ruang kosong. Ia berdiri di atas mobilitas yang sudah ada, sudah berjalan, dan sudah dikenal oleh masyarakat.
Pola lonjakan penumpang juga terlihat di luar masa liburan sekolah. Pemantauan Atase Perhubungan RI Kuala Lumpur pada periode Natal dan Tahun Baru 2025/2026 mencatat bahwa Terminal Feri Stulang Laut di Johor Bahru dapat bergerak dari sekitar 2.000 penumpang pada hari biasa menjadi 4.850 penumpang saat hari pemantauan, bahkan berpotensi mendekati 8.000 penumpang per hari pada puncak libur akhir tahun. Saat Lebaran 2025, arus mudik dan balik melalui Pasir Gudang, Stulang Laut, dan Melaka juga meningkat dari kondisi normal.
Semua gambaran tersebut mengarah pada satu kesimpulan yang cukup jelas: kebutuhan menyeberang antara Batam dan Malaysia sudah lama hidup. Ia bukan kebutuhan yang baru muncul ketika Ro-Ro mulai dibahas. Yang baru adalah pertanyaan berikutnya: apakah konektivitas yang sudah ramai ini dapat naik kelas?
Selama ini, penumpang datang dan pergi tanpa kendaraan pribadi. Setelah turun dari kapal, mereka tetap bergantung pada transportasi lokal di sisi tujuan. Bagi sebagian orang, itu mungkin bukan masalah besar. Tetapi bagi keluarga yang bepergian bersama, pelaku usaha kecil yang membawa barang, atau wisatawan yang ingin bergerak lebih fleksibel, keterbatasan ini menjadi ruang yang dapat dijawab oleh layanan Ro-Ro.
Baca juga : Peringati Tahun Baru Islam, KOWANI Perkuat Spiritualitas Perempuan Indonesia
Di titik inilah Ro-Ro menjadi penting. Ia tidak hanya menawarkan moda baru, tetapi juga membuka peluang baru: mobilitas yang tidak berhenti pada penumpang, melainkan bergerak bersama kendaraan, barang, dan aktivitas ekonomi yang menyertainya. Dengan kata lain, data penumpang bukan hanya menunjukkan bahwa jalur Batam-Johor ramai. Data itu juga memberi petunjuk bahwa ada kebutuhan konektivitas lanjutan yang mulai layak dibicarakan dengan lebih serius.
Peluang Baru Konektivitas dan Pekerjaan Rumahnya
Sepanjang 2025, terdapat tiga inisiatif pembukaan rute Ro-Ro Indonesia-Malaysia yang berjalan berdampingan dalam berbagai pembahasan, yaitu Melaka-Dumai, Johor-Batam, dan Krueng Geukueh-Penang. Ketiganya memiliki karakter berbeda, tetapi membawa tujuan yang sama: memperkuat konektivitas antara Indonesia dan Semenanjung Malaysia.
Berbeda dari Melaka-Dumai yang gagasannya telah dibahas lebih dari 14 tahun, rencana Ro-Ro Johor-Batam justru relatif lebih muda. Namun, justru di situlah letak menariknya. Inisiatif ini datang dari pihak Malaysia, sekitar tahun 2023, sebagai respons atas tingginya intensitas perdagangan dan mobilitas masyarakat di kawasan Selat Singapura dan Selat Johor.
Kedekatan geografis, pasar penumpang yang sudah terbentuk, serta hubungan sosial-ekonomi Batam-Johor yang telah berjalan aktif selama bertahun-tahun membuat rute ini dipandang sebagai “buah yang mudah dipetik” atau low hanging fruit dalam pengembangan Ro-Ro Indonesia-Malaysia. Bahkan, rute Johor-Batam sempat ditetapkan sebagai salah satu indikator kinerja utama atau KPI Kementerian Transportasi Malaysia pada tahun 2025.
Sementara itu, Krueng Geukueh-Penang menjadi inisiatif termuda dari ketiganya, dengan karakter yang lebih spesifik, yaitu mendukung mobilitas pekerja migran asal Aceh. Dengan demikian, masing-masing rute membawa kebutuhan yang berbeda: Melaka-Dumai sebagai agenda lama yang terus diperjuangkan, Johor-Batam sebagai rute yang paling dekat dan paling siap secara pasar, serta Krueng Geukueh-Penang sebagai jalur yang menyentuh kebutuhan mobilitas pekerja migran.
Secara teknis, rute Johor-Batam direncanakan menghubungkan Terminal Bintang 99 Persada di Batam dengan Pelabuhan Tanjung Belungkor di Johor, dengan jarak sekitar 49,68 kilometer. Tanjung Belungkor bukan pelabuhan baru. Pelabuhan ini pernah melayani rute ke Singapura sebelum berhenti sejak pandemi, dan kini mulai dilihat kembali dalam arah pengembangan baru menuju Batam.
Di sisi Indonesia, BP Batam terus mematangkan kesiapan Terminal Bintang 99 melalui kajian kelayakan. Sempat muncul opsi penggunaan kapal Ro-Ro dari Malaysia sebagai solusi sementara agar rute dapat segera berjalan. Namun, Indonesia mendorong pendekatan yang lebih hati-hati dan terencana: proposal bisnis yang jelas, kesiapan pelabuhan, pemenuhan aspek keselamatan, serta pengaturan jenis kendaraan dan komoditas yang dapat diangkut. Pendekatan ini penting karena Ro-Ro bukan hanya soal kapal berlayar dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Salah satu pekerjaan rumah terbesarnya justru berada di darat.
Ro-Ro menurunkan kendaraan, bukan hanya penumpang. Itu berarti jalur keluar-masuk kendaraan, area penumpukan, pemeriksaan dokumen, kepabeanan, karantina, imigrasi, pengaturan lalu lintas, sampai perbedaan standar teknis kendaraan antara Indonesia dan Malaysia harus dipetakan sejak awal. Semuanya perlu dirancang dengan matang agar layanan ini tidak hanya dapat dibuka, tetapi juga berjalan aman, tertib, dan berkelanjutan.
Baca juga : Indomaret Kembali Hadirkan Koleksi Produk Pokémon di Indonesia
Pengalaman operasional Terminal Batam Center juga menjadi pengingat penting. Nonaktifnya salah satu jeti pernah membatasi kapasitas sandar dan berpotensi memicu antrean pada jam sibuk. Meskipun Ro-Ro Batam-Johor direncanakan melalui pelabuhan berbeda, pelajaran tentang kapasitas pelabuhan, waktu bongkar-muat, dan alur pergerakan di darat tetap sangat relevan.
Aspek keamanan juga tidak bisa dipandang sebagai pelengkap. Begitu kendaraan dapat menyeberang lintas negara, ruang gerak orang dan barang menjadi lebih luas. Karena itu, koordinasi antara otoritas pelabuhan, kepabeanan, imigrasi, karantina, dan kepolisian perlu disiapkan sejak awal. Bukan untuk memperumit layanan, tetapi untuk memastikan bahwa konektivitas yang dibangun tetap aman, tertib, dan memberi rasa percaya bagi kedua negara.
Dalam konteks inilah penyusunan kajian keamanan, penyelarasan dokumen kerja sama, serta pembaruan SOP dan kerangka operasional kendaraan lintas batas menjadi sangat penting. Bea cukai perlu memastikan barang yang dibawa melalui kendaraan sesuai ketentuan. Imigrasi perlu menyesuaikan pola pemeriksaan untuk arus kendaraan, bukan hanya orang. Karantina perlu memastikan pergerakan barang dan komoditas tetap terkendali. Kepolisian juga perlu dilibatkan sejak awal untuk mengantisipasi potensi penyalahgunaan jalur baru, termasuk penyelundupan barang terlarang, narkotika, dan modus kejahatan lintas batas lainnya.
Koordinasi antara otoritas pelabuhan, kepabeanan, imigrasi, karantina, dan kepolisian bukan lagi opsional. Ia menjadi prasyarat agar Ro-Ro Batam-Johor benar-benar dapat berjalan aman dan tertib sejak hari pertama beroperasi. Konektivitas yang baik bukan hanya yang cepat dibuka, tetapi yang dapat dijaga keberlanjutannya.
Jika seluruh pekerjaan rumah ini dapat diselesaikan, Ro-Ro Batam-Johor tidak hanya akan menambah satu jalur penyeberangan. Ia dapat menjadi pintu bagi pelaku usaha kecil untuk mengirim barang dengan lebih fleksibel, bagi masyarakat untuk memiliki pilihan mobilitas baru, dan bagi Indonesia-Malaysia untuk menghadirkan contoh nyata kerja sama lintas batas yang manfaatnya langsung terasa.
Konektivitas transportasi antara Indonesia dan Malaysia sejatinya adalah hubungan yang hidup dan terus bergerak setiap hari. Ia bukan sekadar rangkaian kesepakatan formal di atas kertas, melainkan urat nadi yang menopang aktivitas sosial, ekonomi, dan pariwisata masyarakat di kedua sisi selat.
Ro-Ro Batam-Johor, apabila berhasil diwujudkan, dapat menjadi bukti bahwa hubungan itu terus naik kelas: dari mengantar orang, menjadi mengantar kendaraan, barang, dan peluang ekonomi. Sebuah langkah kecil di atas laut, tetapi berarti besar bagi konektivitas kawasan dan semangat mewujudkan Transportasi Maju menuju Indonesia Emas 2045.
Jarak Batam–Johor tidak akan berubah. Tetapi ketika kapal itu benar-benar berlayar, jaraknya akan terasa jauh lebih pendek dari yang pernah ada.
(Artikel disusun berdasarkan data realisasi naik-turun penumpang Terminal Ferry Internasional Batam Center tahun 2025 dan 2026, Laporan Tahunan Atase Perhubungan RI Kuala Lumpur 2025, serta perkembangan pembahasan konektivitas Ro-Ro Indonesia–Malaysia).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.