BREAKING NEWS
 

Seminar Literasi Bisnis Islam, Santri Didorong jadi Wirausahawan

Reporter : AHMAD LATHIF ROSYIDI
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Minggu, 26 Juli 2026 18:34 WIB
Foto: Universitas Paramadina.

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam dunia bisnis yang semakin kompetitif, pelaku usaha dan calon wirausahawan diingatkan agar tidak hanya menawarkan produk yang serupa dengan kompetitor.

Menjual produk tanpa keunikan hanya akan menjerumuskan pelaku usaha ke dalam persaingan harga yang merugikan.

Pesan tersebut disampaikan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Paramadina, Hardiansyah, dalam Seminar dan Workshop Santripreneur Global bertajuk "Inspirasi Bisnis Islam dan Halal Industry dari Turki bagi Generasi Muda" di Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Pondok Pesantren Al-Ikhwaniyah, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Minggu (26/7/2026).

Seminar tersebut juga menghadirkan Wakil Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia di Turkiye, Mohammad Handi Khalifah. Hardiansyah mengajak para santri mengubah pola pikir dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja.

Menurutnya, peluang menjadi wirausahawan terbuka bagi siapa saja yang berani memulai usaha dan terus mengembangkan kemampuan.

"Bisnis yang baik harus mampu menyelesaikan persoalan masyarakat, memenuhi kebutuhan konsumen, dan memiliki keunikan agar tidak terjebak dalam persaingan harga," ujar Hardiansyah.

Menurut Hardi, sapaan akrabnya, ide bisnis dapat lahir dari berbagai sumber, seperti hobi, jejaring, maupun pengetahuan.

Namun, ide tersebut harus dikembangkan menjadi solusi yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus memiliki nilai tambah agar mampu bersaing di pasar.

Baca juga : Seminar Literasi Bisnis Islam, Santri Didorong jadi Wirausaha

Ia menjelaskan, ide produk saja tidak cukup. Ide tersebut harus dikembangkan menjadi gagasan yang mampu menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan.

Untuk menciptakan ide bernilai bisnis, terdapat tiga sumber utama yang dapat digali, yakni hobi, jaringan, dan pengetahuan. Namun, hobi dan pengetahuan tidak akan optimal jika tidak terus ditingkatkan.

Hobi harus berkembang menjadi passion yang benar-benar menjiwai, sedangkan pengetahuan harus diwujudkan menjadi keterampilan terapan yang teruji kualitasnya.

"Pengetahuan yang dimiliki juga tidak boleh berhenti pada teori semata. Pengetahuan tersebut harus menjadi keterampilan terapan yang teruji kualitasnya," tegas lulusan Universitas Diponegoro tersebut.

Hardi juga mengingatkan bahwa pelaku usaha harus memastikan produk yang dihasilkan memenuhi prinsip halal, mulai dari bahan baku hingga proses produksinya.

Sementara itu, Mohammad Handi Khalifah menilai, Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu pemain utama dalam industri halal global yang nilainya mencapai sekitar 4,6 triliun dolar AS.

Menurutnya, potensi tersebut hanya dapat diwujudkan apabila generasi muda mampu bertransformasi dari sekadar konsumen menjadi produsen yang menciptakan nilai tambah sekaligus membuka lapangan kerja.

Adsense

Indonesia, kata Handi, memiliki modal besar berupa jumlah penduduk muslim yang tinggi. Potensi tersebut harus dimanfaatkan untuk membangun industri halal yang mampu bersaing di pasar internasional.

Baca juga : SAHI Minta Kongres Umat Islam Dorong Presiden Berantas Korupsi

"Jangan hanya menjadi konsumen, tapi jadilah produsen yang mampu menciptakan nilai tambah dan membuka lapangan pekerjaan," ujarnya.

Handi menambahkan, industri halal tidak hanya berkaitan dengan sertifikasi produk, tetapi juga membangun ekosistem bisnis yang berlandaskan etika, integritas, dan inovasi.

Ia mencontohkan konsep Ahi, organisasi pedagang dan pengrajin di Turki yang berkembang sejak abad ke-13 dengan menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab sosial, serta pengawasan terhadap kualitas produk.

Menurutnya, sistem tersebut telah menerapkan mekanisme perlindungan konsumen jauh sebelum sistem modern berkembang.

Pedagang yang menjual barang berkualitas buruk akan diberi tanda sehingga masyarakat mengetahui reputasinya.

"Mekanisme itu memiliki kemiripan dengan sistem customer review yang digunakan pada berbagai platform digital saat ini," katanya.

Handi juga memaparkan perkembangan ekonomi syariah di Turki melalui pengelolaan wakaf produktif, kawasan industri berbasis klaster, serta perkembangan participation banking atau bank partisipasi.

Saat ini terdapat sekitar 11 bank partisipasi dengan lebih dari 1.500 kantor cabang yang mencatat pertumbuhan sekitar 9 persen.

Baca juga : Ibu Selvi Gibran Buka Bazar Kreasi Bhayangkari 2026, Dorong UMKM Naik Kelas

Menurutnya, pembangunan ekosistem ekonomi syariah di Turki membutuhkan proses panjang hingga sekitar 15 tahun untuk mencapai perkembangan seperti saat ini.

Ia turut mencontohkan keberhasilan Modanisa, platform fesyen muslim asal Turki yang telah melayani pelanggan di lebih dari 140 negara dengan sekitar 20 juta pengunjung situs setiap bulan.

"Keberhasilan itu menunjukkan produk halal memiliki daya saing tinggi apabila mampu menawarkan kualitas, inovasi, dan keunikan," ungkapnya.

Pengasuh YPI Pondok Pesantren Al-Ikhwaniyah, Nur Muhammad Rifqi, mengapresiasi dosen dan mahasiswa Universitas Paramadina yang berbagi ilmu kepada para santri.

Ia berharapz para peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkaya wawasan kewirausahaan.

"Bila ada pertanyaan silakan ditanyakan. Karena ini kesempatan emas untuk menggali ilmu dan informasi," kata Rifqi.

Sebagai informasi, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) mahasiswa Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Paramadina.

Selain seminar, peserta juga mengikuti workshop Business Model Canvas (BMC) sebagai kerangka merancang dan mengevaluasi model bisnis, serta pelatihan kerajinan tangan (handcraft) sebagai bagian dari penguatan keterampilan kewirausahaan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense