BREAKING NEWS
 

298 Pekebun Paser Ikuti Pelatihan Budidaya Lewat Good Agricultural Practices

Reporter : NOVALLIANDY
Editor : SRI NURGANINGSIH
Sabtu, 8 Agustus 2026 18:54 WIB
Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit. (Foto: Dok. AKPY)

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah potensi peningkatan produksi tanpa perlu membuka lahan baru, kualitas sumber daya manusia (SDM) pekebun menjadi salah satu kunci untuk mengejar produktivitas hingga lebih dari 30 ton per hektare per tahun.

Upaya tersebut dilakukan melalui Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diikuti 298 pekebun Paser pada 2–7 Agustus 2026 di Balikpapan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).

Wakil Direktur AKPY Idum Satia Santi mengatakan, peningkatan produktivitas tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman bertani.

Pengalaman tersebut perlu diperkuat dengan ilmu pengetahuan, data, dan hasil penelitian agar setiap keputusan di kebun menjadi lebih tepat dan efisien.

Baca juga : IPB: Kelapa Sawit Berperan Strategis Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

“Petani mungkin sudah bertahun-tahun mengelola kebun, tetapi pengalaman itu perlu dikorelasikan dengan data dan hasil penelitian. Dengan begitu petani memahami mengapa harus menggunakan benih unggul, bagaimana pemupukan yang benar, hingga pentingnya menjaga kesehatan tanah,” ujarnya di Balikpapan, Senin (3/82026).

Menurut Idum, kompetensi pekebun menjadi investasi penting karena kesalahan dalam menentukan benih, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), hingga pengelolaan tanah dapat berdampak langsung terhadap produktivitas dan biaya produksi.

Idhum menambahkan, pelatihan membekali peserta dengan pengetahuan mengenai penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pemanfaatan pupuk organik, pengendalian OPT, serta pengelolaan ekosistem kebun.

Penerapan Good Agricultural Practices (GAP) secara konsisten, kata dia, bukan hanya berpeluang meningkatkan produksi TBS.

Adsense

"Praktik budidaya yang tepat juga dapat membuat penggunaan pupuk, tenaga kerja, dan sarana produksi menjadi lebih efisien," ujar Idhum dalam keterangannya, Sabtu (8/8/2026).

Baca juga : Percepat Implementasi ISPO, AKPY-BPDP Dan Ditjenbun Latih 150 Pekebun Sawit Wajo

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Paser Djoko Bawono mengatakan, peningkatan produktivitas kebun rakyat menjadi pekerjaan penting karena capaian saat ini masih jauh dari potensi yang dapat diraih.

“Target kita minimal produktivitas kebun bisa mencapai 30 ton per hektare per tahun. Ilmu yang diperoleh dari pelatihan ini harus diterapkan ketika kembali ke kebun,”  ujarnya.

Djoko menambahkan, angka tersebut bukan sekadar target produksi, tetapi menjadi indikator penting untuk meningkatkan pendapatan pekebun sekaligus memperkuat kontribusi sektor sawit terhadap perekonomian daerah.

Untuk memastikan materi pelatihan tidak berhenti di ruang kelas, peserta juga mengikuti praktik lapangan serta kunjungan ke perkebunan Astra Agro Lestari, yakni PT Waru Kaltim Plantation (WKP) dan PT Sukses Tani Nusasubur (STN).

Melalui kunjungan tersebut, pekebun dapat melihat secara langsung bagaimana prinsip GAP diterapkan dalam pengelolaan kebun, mulai dari pemeliharaan tanaman hingga pengelolaan produksi.

Baca juga : Firman Soebagyo: Sudah Saatnya Kita Memiliki UU Sendiri

Program peningkatan kompetensi pekebun Paser tidak berhenti pada pelatihan budidaya. Sepanjang 2026, AKPY juga telah menyelenggarakan lima kelas pelatihan panen dan pascapanen. Khusus pelatihan teknis budidaya,

AKPY tahun ini menyelenggarakan 10 kelas yang diikuti 298 pekebun Paser. Jika digabungkan dengan pelatihan panen dan pascapanen, total 556 pekebun di Kabupaten Paser telah memperoleh peningkatan kompetensi sepanjang 2026.

Idum mengatakan, dukungan terhadap pengembangan SDM menjadi investasi jangka panjang bagi keberlanjutan perkebunan kelapa sawit rakyat.

Menurutnya, pekebun yang memiliki pengetahuan dan keterampilan memadai, menurutnya, akan lebih mampu meningkatkan produktivitas, mengendalikan biaya produksi, sekaligus menerapkan prinsip keberlanjutan yang sejalan dengan standar industri seperti ISPO dan RSPO.

“Petani yang hebat adalah petani yang selalu mau belajar karena dunia terus berkembang. Kami berharap peserta mampu menjadi petani sawit yang unggul, mandiri, profesional, dan berdaya saing,” pungkas Idum.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense