Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
IPB: Kelapa Sawit Berperan Strategis Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
Sabtu, 18 Juli 2026 17:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Industri kelapa sawit memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional, baik dari aspek ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, maupun keberlanjutan lingkungan.
Kepala Pusat South East Asia Food and Agriculture Science & Technology (SEAFAST) Center IPB University, Puspo Edi Giriwono mengatakan, Indonesia memiliki keunggulan sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) mencapai sekitar 53 juta ton per tahun.
Menurutnya, kapasitas produksi tersebut tidak hanya mampu memenuhi seluruh kebutuhan minyak nabati di dalam negeri, tetapi juga menjadikan Indonesia sebagai pemasok utama minyak nabati dunia.
"Minyak sawit kita mampu memenuhi kebutuhan Indonesia secara 100 persen, bahkan surplus dan dapat memenuhi kebutuhan minyak nabati global," kata Puspo di Jakarta, Minggu (5/7/2026).
Puspo meyakini, peran strategis kelapa sawit akan semakin penting seiring meningkatnya jumlah penduduk dunia. Ia memperkirakan populasi global mencapai sekitar 10 hingga 11 miliar jiwa pada 2050 dengan kebutuhan minyak nabati sekitar 250 juta ton per tahun.
Baca juga : Kapolda Jabar Luncurkan Gerakan Jaga Rawat Jawa Barat, Perkuat Ekosistem Keamanan
Di tengah keterbatasan lahan, peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit dinilai menjadi solusi efektif untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati global tanpa harus mendorong perluasan deforestasi.
"Apa komoditas yang bisa sangat produktif dengan kondisi lahan semakin berkurang? Produktivitas kelapa sawit akan menjawab dan menyuplai kebutuhan populasi dunia yang mencapai 10–11 miliar tadi," jelasnya.
Selain unggul dari sisi produktivitas, Puspo menilai pengembangan industri hilir berbasis sawit di sektor pangan perlu terus diperkuat agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
Saat ini, minyak sawit telah dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk pangan, mulai dari minyak goreng, margarin, cokelat, hingga aneka makanan olahan.
Menurutnya, peluang pengembangan produk turunan pangan berbasis kelapa sawit masih sangat besar.
Baca juga : Pra Rakornas 2026, BAZNAS Perkuat Visi Dan Kelembagaan Pengelolaan Dana Umat
Ia mencontohkan sejumlah industri pangan di luar negeri yang mampu mengolah bahan baku hingga berbagai tahapan lanjutan sehingga menghasilkan produk yang lebih spesifik dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
"Semua yang Anda makan itu ada minyak sawit, karena minyak sawit begitu fleksibel dan memiliki harga yang sangat terjangkau," tuturnya.
Dalam mendukung pengembangan industri hilir, pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menjalankan Program Pangan dan Hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk sawit melalui pendanaan riset, pengembangan infrastruktur, serta penguatan kemitraan industri.
Program tersebut diharapkan mampu mendorong Indonesia menjadi pusat industri berbasis sawit yang berkelanjutan dan inovatif, khususnya di sektor pangan.
Puspo menilai, program tersebut perlu terus diperkuat, terutama untuk mendorong penelitian dan pengembangan minyak sawit merah (red palm oil) yang memiliki prospek besar, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi.
Baca juga : Elnusa Petrofin Perkuat HSSE Untuk Ketahanan Energi Nasional
Ia menjelaskan, minyak sawit merah mengandung antioksidan, beta-karoten, dan vitamin E dalam jumlah tinggi yang berpotensi memberikan berbagai manfaat kesehatan.
Selain itu, produk tersebut juga memiliki nilai tambah tinggi dan dapat memperluas pasar industri pangan nasional.
"Kalau dari pangan sendiri, saya melihat minyak sawit merah mengandung antioksidan yang sangat tinggi dan bermanfaat untuk kesehatan. Kita dorong supaya minyak sawit merah bisa dioptimalkan dengan baik," katanya.
Menurut Puspo, minyak sawit merah juga berpotensi mendukung berbagai program kesehatan, seperti meningkatkan fungsi kognitif, menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, hingga membantu upaya pemerintah dalam mengatasi stunting melalui perbaikan asupan gizi.
"Minyak sawit merah itu bisa meningkatkan kognitif. Kita bisa memanfaatkan minyak sawit merah untuk mengatasi persoalan stunting hingga memperbaiki gizi anak-anak Indonesia," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya