RM.id Rakyat Merdeka - Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan melakukan kunjungan kerja ke Difel Café dan Rumah Berdaya, dua lokasi program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Pertamina yang berfokus pada pemberdayaan penyandang disabilitas dan penyintas skizofrenia, Sabtu (15/8/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Iriawan menyampaikan apresiasi tinggi atas keberlanjutan program yang dinilainya bukan sekadar seremoni bantuan sosial biasa.
"Ini bukan program CSR biasa yang berhenti pada seremoni penyerahan bantuan lalu selesai. Ini adalah program yang dirancang dengan visi jangka panjang, membangun ekosistem usaha inklusif yang mandiri, kreatif, dan profesional," kata Iriawan.
Di Difel Café, Iriawan melihat langsung para penyandang tuna rungu, low vision, dan disabilitas daksa bekerja sebagai barista dan staf layanan secara profesional. Ia menegaskan bahwa mereka tidak diposisikan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai bagian dari layanan yang bermartabat.
Baca juga : MyPertamina Pasar Rakyat Hadir di GBK, Ada Tebus Murah Sembako
Sementara itu, di Rumah Berdaya, ia menyaksikan para penyintas skizofrenia mendapat ruang untuk pulih sekaligus berkarya melalui pengelolaan dupa herbal Arusaji dan layanan cuci motor secara mandiri. Iriawan menyoroti keterkaitan antara kedua program tersebut, di mana ampas kopi dari Difel Café dimanfaatkan sebagai bahan baku dupa herbal yang dikelola Rumah Berdaya.
Ia menyebut skema ini sebagai bentuk sinergi ekonomi sirkular yang tidak hanya berdimensi lingkungan, tetapi juga kemanusiaan. "Limbah yang seharusnya dibuang justru menjadi bahan baku ekonomi baru, dan mereka yang selama ini terpinggirkan justru menjadi pelaku utamanya," ujarnya.
Dari sisi capaian usaha, pria yang akrab disapa Iwan Bule itu mengatakan bahwa kas usaha Difel Café telah tumbuh hingga mencapai Rp49 juta sementara Rumah Berdaya melalui program Skizopreneur mencatatkan kas usaha sebesar Rp10.299.000.
Menurutnya, angka tersebut menjadi bukti bahwa kemandirian ekonomi bagi kelompok disabilitas dan penyintas skizofrenia bukan sekadar wacana.
Baca juga : Pertamina Patra Niaga Lakukan Penyesuaian Harga Bright Gas Per 15 Agustus 2026
"Ini adalah bukti bahwa kemandirian ekonomi bagi kelompok disabilitas dan penyintas skizofrenia bukan sekadar wacana, tetapi kenyataan yang bisa dicapai apabila kita memberi ruang, kepercayaan, dan pendampingan yang tepat," katanya.
Iriawan menegaskan bahwa kehadiran Pertamina di tengah masyarakat tidak boleh berhenti pada penyaluran BBM di SPBU, LPG ke rumah tangga, atau energi bagi industri semata.
Menurutnya, kehadiran tersebut harus turut dirasakan pada ruang-ruang kecil seperti Difel Café dan Rumah Berdaya, tempat penyandang disabilitas dan penyintas skizofrenia menemukan kembali kepercayaan diri dan tempatnya di tengah masyarakat.
Ia meminta seluruh perwira Pertamina yang terlibat dalam program CSR di seluruh Indonesia menjadikan satu prinsip kerja sebagai pegangan bersama. "Dari sekadar penerima bantuan, menjadi aktor ekonomi yang berdaulat," ujar Iriawan, seraya menambahkan bahwa bantuan sosial yang baik adalah bantuan yang pada akhirnya membuat penerimanya mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Baca juga : Local Hero Pastikan Desa Energi Berdikari Tetap Berjalan
Lebih lanjut, ia mengaitkan program tersebut dengan aspek lingkungan, menyebut pemanfaatan ampas kopi menjadi dupa herbal turut mencegah limbah organik dibuang ke tempat pembuangan akhir yang berpotensi memicu emisi gas metana. Ia menyebut gas metana memiliki daya pemanasan global hingga 21 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida, sehingga program ini sekaligus menjawab persoalan ketimpangan sosial dan krisis lingkungan dalam satu gerakan.
Iriawan menyebut model pemberdayaan di Difel Café dan Rumah Berdaya selaras dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs, khususnya poin delapan tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, poin sepuluh tentang pengurangan kesenjangan, serta poin tujuh belas tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.
Di akhir kunjungan, Iriawan berpesan kepada para pelaku usaha Difaprenuer dan Skizopreneur agar terus berkarya dan tidak lagi memandang diri sebagai penerima bantuan.
"Kalian bukan lagi penerima bantuan. Kalian adalah aktor ekonomi. Kalian adalah bagian dari kekuatan bangsa ini," katanya, sembari mengajak seluruh perwira Pertamina menjadikan semangat Difel Café dan Rumah Berdaya sebagai pengingat akan tanggung jawab kemanusiaan di balik setiap energi yang dihasilkan perusahaan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.