BREAKING NEWS
 

Akademisi Nilai B50 Hemat Devisa Dan Perkuat Ketahanan Energi

Reporter : BOY SAKTI HAPSORO
Editor : FAQIH MUBAROK
Minggu, 16 Agustus 2026 11:41 WIB
B50

RM.id  Rakyat Merdeka - Sejumlah akademisi merespons positif pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto yang menyinggung keberhasilan Indonesia mewujudkan swasembada energi melalui penerapan Biodiesel B50.

Ekonom Universitas Negeri Manado (Unima) Robert Winerungan menilai penghentian impor solar memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional, terutama karena mampu menghemat devisa dalam jumlah besar.

“Sebagian besar devisa kita habis untuk impor BBM dan bayar utang. Sekarang kalau BBM itu, solar tidak impor lagi, yang Rp170 triliun itu devisa hemat besar sekali. Jadi B50 ini sangat menghemat devisa. Devisa kita tidak terkuras oleh impor BBM lagi. Ada impor BBM, tapi sudah bukan solar,” kata Robert, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Robert, penghematan devisa tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar apabila dialihkan untuk memperkuat penguasaan teknologi di dalam negeri. Penguasaan teknologi dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi, sehingga produk nasional semakin kompetitif di pasar global.

Selain itu, meningkatnya pemanfaatan sawit sebagai bahan baku biodiesel dinilai dapat menciptakan kepastian permintaan. Kondisi ini pada akhirnya dapat membantu menjaga penjualan sekaligus stabilitas harga komoditas sawit.

Robert juga mengapresiasi kinerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang dinilai mampu mengeksekusi dengan cepat arahan Presiden terkait swasembada energi.

Baca juga : Innalillahi, Mantan Sekjen ESDM Rida Mulyana Meninggal Dunia Di Usia 63

“Itu spektakuler. Jadi intinya, peran besar untuk BBM yang tidak impor lagi itu, devisa bisa dipakai untuk alih teknologi. Akan lebih maju lagi Indonesia kita. Jadi devisa tidak terkuras dan kalau devisa itu terpakai untuk alih teknologi, itu akan membuat Indonesia kita lebih maju lagi,” ujarnya.

Sementara itu, pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti menilai manfaat B50 terhadap ketahanan energi perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas.

Menurut Yayan, industri sawit selama ini memiliki peran penting dalam perekonomian nasional. Selain menyerap jutaan tenaga kerja dan membantu mengurangi kemiskinan di perdesaan, sektor tersebut juga menjadi sumber devisa melalui ekspor sekaligus berkontribusi mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Namun, Yayan mengingatkan peningkatan penggunaan biodiesel hingga B50 harus dibarengi penguatan ekosistem pendukung. Peningkatan porsi biodiesel otomatis meningkatkan kebutuhan bahan baku.

Adsense

Karena itu, peningkatan produktivitas perkebunan sawit rakyat, diversifikasi bahan baku, serta penguatan pembiayaan menjadi faktor penting agar implementasi B50 dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Perbaiki pungutan dan pasang katup pengaman campuran sekarang, diversifikasi ke bahan baku limbah sembari melindungi pangan melalui Harga Eceran Tertinggi alih-alih kuota ekspor, dan mulai menaikkan produktivitas perkebunan rakyat segera, maka B50 menjadi kemenangan ketahanan energi yang benar-benar mampu ditanggung Indonesia, baik secara fiskal maupun lingkungan,” kata Yayan.

Baca juga : Bahlil Masuk Tiga Besar Menteri Berkinerja Terbaik Versi IPO

Yayan menilai sejumlah prasyarat tersebut telah tercermin dalam kebijakan Kementerian ESDM. Ia mencatat, Keputusan Menteri ESDM Nomor 113.K/EK.05/MEM.E/2026 telah mengatur arah kebijakan pencampuran biodiesel hingga 2030 dengan mempertimbangkan kesiapan bahan baku, pembiayaan, dan infrastruktur.

Dengan pendekatan tersebut, kebijakan B50 yang dijalankan Kementerian ESDM di bawah kepemimpinan Bahlil tidak hanya berorientasi pada peningkatan persentase campuran biodiesel. Kesiapan ekosistem juga menjadi pertimbangan sebelum peningkatan campuran dilakukan.

Menurut Yayan, hal tersebut penting untuk menjaga keberlanjutan program sekaligus memastikan manfaat B50 terhadap ketahanan energi dapat diperoleh secara optimal.

“Syarat gerbang itulah petunjuknya. Keputusan itu sendiri mengakui bahwa jalur pencampuran bergantung pada kesiapan pembiayaan yang persis merupakan variabel yang ditemukan model sebagai pengikat,” ujarnya.

Kajian Yayan juga menunjukkan kebutuhan bahan baku biodiesel dapat dikelola melalui peningkatan produktivitas dan peremajaan perkebunan sawit rakyat. Dengan demikian, pemenuhan bahan baku tidak harus bergantung pada pembukaan lahan baru.

“Dengan dukungan pembiayaan, bahan baku, dan infrastruktur yang memadai, B50 berpeluang menjadi instrumen penting untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi impor,” tegas Yayan.

Baca juga : Konflik Timteng Tak Kunjung Usai, Ketahanan Energi RI Tetap Terjaga

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengatakan Indonesia mulai berhasil mewujudkan swasembada energi. Salah satu indikatornya adalah keberhasilan memproduksi biodiesel B50 berbasis minyak kelapa sawit.

“Janji swasembada energi sekarang sudah mulai kita wujudkan dengan pertama kali swasembada BBM jenis solar. Kita berhasil produksi diesel dengan B50 dari kelapa sawit,” ujar Prabowo dalam pidato kenegaraan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Prabowo mengatakan penerapan B50 membuat Indonesia tidak lagi mengimpor solar dari luar negeri. Kebijakan tersebut mulai berlaku sejak 1 Juli 2026 dan disebut mampu menghemat devisa negara dalam jumlah besar.

“Kita berhasil hemat devisa Rp170 triliun, sekitar 9,5 miliar dolar Amerika, tidak lagi harus kita kirim ke luar negeri,” ucap Prabowo.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense