BREAKING NEWS
 

IHSG & Rupiah Kembali Bergairah

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : ADITYA NUGROHO
Jumat, 21 Agustus 2026 07:36 WIB
Foto: Rizki Syahputra/RM

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada kabar baik dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah. Seharian kemarin, keduanya kembali bergairah dan kompak menguat sepanjang perdagangan.

Pada pembukaan perdagangan Kamis (20/8/2026) pagi, IHSG menunjukkan penguatan sebesar 1,15 persen ke level 6.467,89. Tren positif IHSG berlanjut hingga sesi I berakhir, dengan naik 1,47 persen ke level 6.487,96. Hingga penutupan perdagangan, IHSG melesat 107,46 poin atau 1,68 persen ke level 6.501,58.

Tercatat sebanyak 452 saham menguat, 190 saham melemah, dan 150 saham bergerak di tempat. Sementara, kapitalisasi pasarnya mencapai Rp 11.444 triliun.

Rupiah juga perkasa sepanjang perdagangan kemarin. Pada pembukaan perdagangan, rupiah menguat 0,16 persen atau 31 poin ke level Rp 17.809 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp 17.840 per dolar AS.

Pada penutupan sesi I, rupiah perkasa 0,38 persen ke level Rp 17.771 per dolar AS. Hingga penutupan perdagangan, mata uang Garuda terus menguat 0,49 persen menjadi Rp 17.746 per dolar AS.

Penguatan rupiah dan mata uang kawasan ditopang oleh depresiasi dolar AS. Baht Thailand menguat paling tajam, disusul rupiah, ringgit Malaysia, peso Filipina, rupee India, dan yuan China, sedangkan won Korea Selatan melemah paling dalam bersama yen Jepang.

Baca juga : Kepuasan Rakyat AS ke Trump Nyungsep

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, penguatan IHSG terjadi di tengah membaiknya sentimen pasar global setelah Departemen Keuangan AS meningkatkan nominal operasi pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang menjadi sedikitnya 4 miliar dolar AS per operasi mulai 9 September 2026. Nilai tersebut naik dua kali lipat dibandingkan sebelumnya yang sebesar 2 miliar dolar AS.

Kebijakan tersebut membantu meredakan tekanan di pasar obligasi AS sekaligus menopang pasar saham. Sentimen tersebut turut mendorong bursa saham Asia bergerak positif pada perdagangan Kamis pagi.

“Kebijakan tersebut meredakan tekanan di pasar,” ujar Liza dalam kajiannya, Kamis (20/8/2026).

Faktor lainnya adalah risalah rapat The Fed Juli 2026 yang menunjukkan mayoritas pejabat mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga.

Adsense

Namun, kata dia, IHSG masih dibayangi ketegangan antara AS dan Iran yang berlanjut karena kedua pihak belum mencapai kesepakatan terkait Selat Hormuz. “Kebuntuan tersebut membuat risiko gangguan terhadap jalur perdagangan energi global tetap tinggi,” ujar Liza.

Menurut dia, penguatan IHSG akan terus berlanjut karena indeks berhasil menembus level 6.500. “Penguatan berpotensi berlanjut menuju 6.723,” ujarnya.

Baca juga : Perdana, Destry Pimpin Rapat Dewan Gubernur BI

Sementara itu, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan, pihaknya berencana menurunkan batas minimum harga saham dari Rp 50 menjadi Rp 1 di pasar reguler. Rencana tersebut bertujuan memberikan akses likuiditas dan price discovery yang lebih baik.

Sebagai catatan, price discovery merupakan proses penentuan harga pasar yang wajar atau nilai suatu aset melalui interaksi antara kekuatan penawaran (pembeli) dan permintaan (penjual) di pasar.

Dalam memuluskan rencana tersebut, BEI telah berdiskusi dengan Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) dan Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII), Rabu (19/8/2026). “Diskusi dengan investor global juga kami lakukan,” ungkap Jeffrey di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Sementara, Pengamat Keuangan dari Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan, l selain faktor pelemahan dolar AS, penguatan rupiah juga dipengaruhi oleh keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Rabu (19/8/2026) yang mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen.

Menurut dia, keputusan tersebut terbukti mampu memberikan jangkar stabilitas bagi mata uang lokal. Selain mempertahankan BI-Rate, BI juga menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen.

Lukman menyebut kebijakan tersebut dinilai pasar mampu menjaga imbal hasil aset berdenominasi rupiah tetap menarik bagi investor. “Dengan mengombinasikan sentimen positif dari pelonggaran tekanan dolar AS serta pijakan kuat dari kebijakan moneter domestik, rupiah diperkirakan akan berada di zona hijau,” tutur Lukman di Jakarta, Kamis (29/8/2026).

Baca juga : Kiriman Pemerintah Untuk Korban NTT, Ada Bantuan 253 Ton & Pendirian RS Darurat

Untuk diketahui, BI tidak hanya mengandalkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas rupiah dan menopang perekonomian nasional. Bank sentral juga menyiapkan sejumlah instrumen lain, mulai dari intervensi di pasar valuta asing, perluasan insentif untuk menarik modal asing, pengelolaan likuiditas, hingga pelonggaran kebijakan makroprudensial.

Penjabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, arah kebijakan tersebut ditujukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

“Bank Indonesia juga terus memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk modal asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, meningkatkan likuiditas dan mengurangi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA),” ujar Destry dalam konferensi pers RDG BI, Rabu (19/8/2026).

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense