Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Profil Jay Herdman, Putra Pelatih Timnas yang Jadi Andalan Baru Bali United
- Barcelona Tutup Pramusim dengan Gelar Joan Gamper Trophy 2026
- Fitrah Maulana Bangga Bawa Persib Juara Dewata Challenge Series
- STY Puji Perkembangan Persija Usai Laga Uji Coba Di Thailand
- Gabung Klub Arab Saudi, Kakak Pemain Persib Dibanderol Rp1,4 T
Buntut Perang dengan Iran
Kepuasan Rakyat AS ke Trump Nyungsep
Kamis, 20 Agustus 2026 08:54 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kepuasan rakyat Amerika Serikat (AS) kepada Presiden AS Donald Trump nyungsep. Salah satu penyebabnya, rakyat AS tak setuju dengan kebijakan perang melawan Iran yang dilaksanakan Trump.
Turunnya kepuasan publik AS itu tergambar dalam hasil survei yang dilakukan Reuters/Ipsos, yang berakhir pada Senin (17/8/2026) mencatat. Sebanyak 64 persen warga AS menyatakan tidak puas dengan kinerja Trump. Hanya 33 persen responden yang menyatakan puas. Angka ini menjadi yang paling rendah selama Trump menjabat presiden di periode kedua. Angka ini sama seperti Trump saat baru menjabat sebagai Presiden di periode pertama pada Desember 2017.
Survei dilakukan secara daring terhadap 1.166 warga dewasa AS di seluruh negeri. Margin of error survei plus minus 3 persen.
"Dalam survei sebelumnya yang berakhir awal Agustus, tingkat kepuasan terhadap Trump masih berada di angka 35 persen. Penurunan popularitas Trump terjadi di tengah perang AS bersama Israel melawan Iran yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda segera berakhir," tulis laporan Ipsos, seperti dikutip Reuters.
Baca juga : Destry Perdana Pimpin Rapat Dewan Gubernur BI
Saat awal kembali menjabat Presiden AS pada Januari 2025, Trump mendapat tingkat kepuasan 47 persen. Saat itu, hanya 41 persen responden yang tidak menyetujui kinerjanya.
Setelahnya, tingkat ketidakpuasan terhadap kinerja Trump melonjak di atas 50 persen dalam rentang kurang dari sebulan setelah ia kembali menjabat. Ketidakpuasan tersebut cenderung naik. Beberapa hari sebelum Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melancarkan serangan ke Iran, tingkat ketidakpuasan melonjak menjadi 58 persen. Angka ketidakpuasan itu kini menyentuh level tertinggi, sebesar 64 persen.
Perang AS versus Iran ikut berdampak bagi rakyat negeri Pam Sam. Perang tersebut mengganggu jalur perdagangan minyak global di Selat Hormuz. Imbasnya, harga bensin di AS melonjak dan inflasi naik. Warga AS pun kesulitan.
Kondisi ini menjadi persoalan politik bagi Trump dan Partai Republik. Padahal, saat kembali ke Gedung Putih tahun lalu, Trump berjanji akan menjaga inflasi tetap terkendali dan menghindari perang berkepanjangan.
Baca juga : Kiriman Pemerintah Untuk Korban NTT, Ada Bantuan 253 Ton & Pendirian RS Darurat
Saat awal perang bergulir pada akhir Februari lalu, Trump sesumbar, hanya akan berlangsung beberapa pekan saja. Namun, hingga hampir enam bulan, perang belum juga usai.
Survei Reuters/Ipsos juga menunjukkan pesimisme warga AS bahwa perang akan segera selesai. Sebanyak 80 persen responden survei, terdiri atas 87 persen pendukung Partai Demokrat dan 71 persen dari Partai Republik, merasa bahwa keterlibatan AS dalam perang dengan Iran akan berlangsung lama.
"Hanya 16 persen masyarakat yang meyakini bahwa perang itu akan berakhir dalam waktu beberapa pekan mendatang," tulis laporan tersebut.
Penurunan tingkat kepuasan terhadap Trump juga terjadi menjelang pemilu paruh waktu atau midterm elections pada November, ketika Partai Republik akan berupaya mempertahankan mayoritasnya di Kongres. Para kandidat Partai Republik di seluruh negeri sedang bergulat dengan dampak ekonomi yang ditimbulkan konflik Timur Tengah. Per Senin (17/8/2026), Decision Desk HQ memperkirakan, Partai Demokrat memiliki peluang 66 persen untuk merebut kembali kendali DPR dan peluang 45 persen untuk merebut Senat. Angka terakhir ini naik 3 poin dari bulan lalu.
Baca juga : Penetapan TSK Febrie Lebih Dari 2 Alat Bukti
Soal naiknya harga bensin di AS, Trump minta warganya maklum. Kata dia, kondisi yang terjadi sepadan agar AS dapat mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.
"Jadi ingatlah itu, ketika Anda harus membayar sedikit lebih banyak, misalnya 4 dolar AS, tidak apa-apa. Saya tidak akan pernah meminta maaf, saya melakukan hal yang benar," kata Trump, di Garden City, New York, Jumat (14/8/2026), seperti dikutip The Hill.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya