BREAKING NEWS
 

Bahan Baku Masih Impor, Industri Plastik Terancam Gejolak Global

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Kamis, 27 Agustus 2026 14:57 WIB
Pedagang merapikan produk plastik di Pasar Pondok Labu, Jakarta, Jumat (10/4/2026). (Foto: Khairizal Anwar/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketergantungan industri petrokimia nasional terhadap bahan baku impor dinilai masih menjadi tantangan besar karena membuat sektor industri dalam negeri rentan terhadap gejolak harga komoditas global.

Peneliti Center of Industry, Trade and Investment (CITI) INDEF Ahmad Heri Firdaus mengatakan, sejumlah bahan baku industri petrokimia masih harus didatangkan dari luar negeri. Pengurangan ketergantungan impor membutuhkan investasi besar dan peningkatan kapasitas produksi di dalam negeri.

"Ya, ada beberapa komponen yang kita memang masih bergantung sama impor. Jadi memang untuk jangka pendek masih belum memungkinkan. Seperti naptha, itu sudah ada roadmap-nya sampai kita bisa memenuhi kebutuhan bahan baku sendiri, cuma perlu investasi yang lebih besar lagi, perlu peningkatan kapasitas produksi yang lebih besar lagi," kata Heri di Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Menurut dia, strategi substitusi impor tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas produksi baru. Peralihan sumber pasokan juga perlu dilakukan tanpa mengganggu efisiensi rantai pasok yang selama ini telah terbentuk di industri pengguna.

"Strategi substitusi impornya itu harus bisa berjalan smooth tanpa mengganggu rantai pasok yang efisien. Rantai pasoknya pasti berubah, tapi berubahnya itu jangan mengurangi efisiensi," ujarnya.

Baca juga : INDEF: Pengganti Perry Warjiyo Harus Jaga Independensi BI

Ia mengatakan industri pengguna tidak akan menerima perubahan sumber bahan baku apabila justru menyebabkan peningkatan biaya dan menurunkan efisiensi. Karena itu, penguatan industri domestik perlu didahului dengan investasi yang memadai.

Heri menilai peluang investasi di sektor petrokimia nasional sebenarnya cukup besar karena didukung pasar domestik yang luas. Produk petrokimia dan turunannya digunakan oleh berbagai sektor manufaktur, mulai dari makanan dan minuman hingga industri otomotif.

Namun, menurut dia, investasi di sektor tersebut harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas produksi serta dukungan ketersediaan bahan mentah, infrastruktur, tenaga kerja yang mumpuni, dan pasokan energi.

"Kalau menurut saya, investasi di sektor petrokimia meningkat, peningkatannya cukup besar. Tapi ketika investasi itu masuk, harus diiringi dengan bagaimana meningkatkan kapasitas produksi," kata Heri.

Adsense

Selain investasi pada industri hilir, ia menekankan pentingnya penguatan investasi di sektor hulu. Ketersediaan minyak dan gas sebagai bahan dasar perlu ditingkatkan agar industri petrokimia memiliki pasokan bahan baku yang memadai.

Baca juga : Forum Pajak Asia-Pasifik Soroti Dampak Geopolitik Pada Fiskal

"Investasinya enggak cukup di petrokimia saja, tapi harus ada investasi di sisi hulunya untuk meningkatkan atau menyuplai migas atau minyak bumi yang lebih tinggi lagi untuk industri-industri selain energi," ujarnya.

Dari sisi kebijakan, Heri menilai pengembangan industri petrokimia tidak bisa hanya mengandalkan pemberian insentif fiskal. Pemerintah juga perlu membangun ekosistem industri yang memungkinkan produsen dalam negeri mencapai skala ekonomi dan meningkatkan efisiensi.

Menurut dia, besarnya kebutuhan bahan baku plastik di dalam negeri seharusnya dapat menjadi modal bagi pengembangan industri domestik. Plastik digunakan secara luas dalam berbagai sektor sehingga pasar nasional memiliki potensi besar untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi.

"Yang dibutuhkan industri ternyata bukan insentif fiskal semata, tapi bagaimana ekosistem industrinya sudah terbentuk, skalanya sudah besar, bisa lebih efisien dan seterusnya," katanya.

Ia menambahkan, ketergantungan terhadap impor membuat biaya produksi industri pengguna rentan terhadap perubahan kondisi global. Ketika harga bahan baku meningkat akibat gejolak global, tekanan biaya dapat merambat ke berbagai sektor yang menggunakan produk plastik.

Baca juga : Impor Plastik Murah Makin Deras, Investasi Terancam

"Kalau ketergantungan impor bahan baku tidak dikurangi, kita akan bergantung sama kondisi global. Kalau globalnya lagi bergejolak, kita juga ikut bergejolak sehingga industri yang tertekan," ujarnya.

Heri mencontohkan industri makanan dan minuman yang menggunakan kemasan berbahan plastik. Kenaikan harga bahan baku dapat meningkatkan biaya produksi dan memengaruhi strategi produsen dalam menentukan harga jual.

Jika kenaikan biaya tidak seluruhnya dibebankan kepada konsumen, perusahaan dapat mencari alternatif untuk mempertahankan harga produk, salah satunya dengan menyesuaikan volume atau isi produk.

"Itu kita rasain sebagai konsekuensi akibat kenaikan biaya produksi, salah satunya plastik," kata Heri.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense