Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Selangkah Lagi, Luis de la Fuente Ukir Sejarah
- Fabio Calonego Bakal 2 Musim Lagi Bareng Persija
- Tak Masuk Proyeksi Musim 2026/27, Persib Lepas Dimas Drajad
- Luke Anthony Vickery Resmi Jadi WNI, Siap Perkuat Timnas Menuju Piala Dunia 2030
- Kasus Korupsi & TPPU, Polisi Limpahkan Don Ritto ke Kejagung Besok
RM.id Rakyat Merdeka - Derasnya arus produk plastik impor berharga murah, terutama dari China, kembali menjadi sorotan. Kondisi tersebut dinilai semakin menekan daya saing produsen dalam negeri.
Ekonom mengingatkan ancaman yang lebih luas, mulai dari penurunan produksi, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga perlambatan investasi apabila pemerintah tidak segera mengambil langkah pengamanan perdagangan.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti menilai tekanan terhadap industri plastik nasional sudah terlihat, terutama pada sektor petrokimia hulu maupun hilir.
"Dampaknya adalah penurunan utilisasi pabrik bahkan berpotensi memicu penutupan operasi. Industri petrokimia hulu dan hilir terpukul akibat membanjirnya bahan baku dari negara seperti China, Thailand, dan Korea," kata Esther kepada wartawan, Rabu (15/7/2026).
Baca juga : PINTU Ajak Mahasiswa HIMAPEN Cermati Peluang Investasi di Era Ekonomi Digital
Menurut dia, kondisi tersebut tidak hanya mengganggu keberlangsungan perusahaan, tetapi juga berpotensi mengancam jutaan pekerja yang selama ini bergantung pada industri plastik nasional.
"Industri plastik nasional menyerap jutaan tenaga kerja. Persaingan yang tidak adil dari produk impor murah membuat kelangsungan hidup pabrik terancam sehingga berisiko menciptakan gelombang PHK," ujarnya.
Tekanan serupa juga dirasakan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang kesulitan bersaing dengan produk impor berharga sangat murah.
"Produk jadi dari luar negeri yang masuk dengan harga sangat murah, bahkan dicurigai ilegal atau dijual di bawah biaya produksi, mematikan pangsa pasar UKM lokal," tambah Esther.
Baca juga : DPRD DKI Soroti Dugaan Kekerasan Seksual Terhadap Anak Di Jagakarsa
Senada, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai industri plastik merupakan salah satu sektor yang paling rentan menghadapi lonjakan impor murah dari China.
"Industri plastik, sejauh pengetahuan saya, termasuk yang rentan dan mengalami penurunan kinerja pertumbuhannya dalam beberapa tahun terakhir, apalagi dengan banjirnya impor murah dari China. Setelah pandemi, banyak kasus yang mengindikasikan adanya kecenderungan dumping dari China yang memengaruhi banyak industri, termasuk industri tekstil dan produk tekstil," kata Faisal.
Ia menjelaskan, hasil analisis data perdagangan internasional menunjukkan produk plastik termasuk kelompok barang yang paling banyak menghadapi dugaan impor ilegal dari China.
"Dari catatan terakhir yang kami ambil dari data mirroring Trade Map, plastik dan barang dari plastik termasuk kategori produk impor yang menghadapi masalah dugaan impor ilegal dari China paling besar. Urutannya setelah mesin dan peralatan mekanik, besi baja, serta perabot dan lampu," ujarnya.
Baca juga : Worldpanel: Persaingan Produk FMCG Kian Ketat, Inovasi Jadi Kunci Daya Saing
Faisal juga melihat tren dugaan impor ilegal tersebut terus meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi itu membuat industri nasional semakin sulit bersaing karena produk yang masuk secara ilegal dapat dijual dengan harga jauh lebih murah.
"Kalau dibandingkan 2023 ke 2024, dugaan impor ilegalnya cenderung meningkat. Dampaknya tentu besar terhadap industri dalam negeri karena mereka harus bersaing dengan produk impor ilegal yang tidak membayar berbagai kewajiban seperti tarif impor dan pungutan lainnya," katanya.
Selain menggerus pangsa pasar industri nasional, praktik tersebut juga dinilai merugikan penerimaan negara.
"Produk impor ilegal tidak membayar pajak dan berbagai kewajiban lainnya. Ini berpotensi, bahkan mungkin sudah, berdampak terhadap kerugian negara dari sisi penerimaan fiskal atau APBN," ucapnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya