BREAKING NEWS
 

Dihajar Impor China Dan Logistik Mahal, Industri Plastik RI Terseok-seok

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Rabu, 2 September 2026 12:34 WIB
Pedagang merapikan produk plastik di Pasar Pondok Labu, Jakarta, Jumat (10/4/2026). (Foto: Kharizal Anwar/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Industri petrokimia nasional masih menghadapi sejumlah tekanan, mulai dari ketergantungan terhadap bahan baku impor, tingginya biaya logistik, fluktuasi harga global, hingga persaingan dengan produk impor yang masuk ke pasar domestik.

Anggota Komisi VII DPR Bambang Haryo Soekartono menilai, persoalan pasokan bahan baku menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi industri plastik nasional.

Menurut dia, industri plastik dalam negeri tidak hanya harus bersaing dengan produk impor yang lebih murah, khususnya dari China, tetapi juga masih bergantung pada bahan baku dari luar negeri.

"Kalau plastik ini kan kita tergerus dengan adanya impor dari China. Ini memang cukup mempersulit industri karena industri plastik kita ini juga impor bahan bakunya," kata Bambang kepada wartawan, Selasa (1/9/2026).

Ia mengatakan, penguatan industri nasional tidak cukup hanya mengandalkan kualitas sumber daya manusia, melainkan juga memerlukan kebijakan yang mampu menciptakan iklim usaha yang lebih kompetitif.

Pemerintah, menurut Bambang, perlu menyiapkan insentif untuk mendorong penggunaan produk dan bahan baku dalam negeri, termasuk memberikan keuntungan bagi pelaku industri yang menyerap bahan baku lokal.

Sementara, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (INAPLAS) Fajar Budiono mengatakan, industri petrokimia mulai memasuki fase pemulihan, meski kondisi pasar masih belum sepenuhnya stabil.

Menurut dia, perkembangan geopolitik global masih memengaruhi pergerakan harga energi dan sejumlah komoditas yang menjadi input bagi industri petrokimia.

"Memang posisinya itu masih belum menentu dari sisi harga karena naik turun, karena memang geopolitik masih begini sehingga harga minyak naik turunnya lebih sering," ujar Fajar.

Namun, ia mengatakan, persoalan yang saat ini lebih banyak dirasakan pelaku industri bukan hanya terkait harga bahan baku, tetapi juga meningkatnya biaya logistik.

Kenaikan tarif pengiriman atau freight membuat aktivitas perdagangan tertekan, sekaligus memengaruhi harga barang impor yang masuk ke Indonesia.

Baca juga : Bahan Baku Masih Impor, Industri Plastik Terancam Gejolak Global

"Yang jadi kendala adalah logistik. Sekarang freight-nya mahal-mahal semua, sehingga barang-barang impor pun juga mulai turun. Dari China juga sudah mulai agak tinggi harganya," katanya.

Meski demikian, pasar domestik dinilai masih cenderung mengambil sikap wait and see karena ketidakpastian waktu pengiriman dan fluktuasi harga.

Fajar mengatakan, tren permintaan juga mengalami penurunan setelah memasuki periode pascaajaran baru sehingga pelaku usaha masih berhati-hati dalam mengambil posisi pembelian.

Kondisi tersebut, menurut dia, seharusnya dapat menjadi momentum bagi industri nasional untuk memperkuat penjualan di pasar domestik.

Namun, peluang tersebut perlu didukung kebijakan pemerintah yang mampu menjaga industri dalam negeri agar tidak kembali tertekan ketika arus perdagangan dan impor global kembali normal.

"Kita berharap nanti di Oktober sudah mulai agak bisa lebih mengangkat lagi, tapi arahnya ke positif dengan catatan pemerintah terus mengontrol. Jangan sampai industri dalam negeri ini terseok-seok karena tidak mampu bersaing dengan barang-barang impor," ujar Fajar.

Utilisasi pabrik

Selain persoalan impor dan logistik, daya beli masyarakat juga menjadi faktor penting bagi pemulihan industri petrokimia karena penurunan permintaan berpengaruh langsung terhadap tingkat utilisasi pabrik.

Menurut Fajar, karakter industri petrokimia yang membutuhkan proses produksi secara berkelanjutan membuat perusahaan tidak dapat dengan mudah menghentikan kegiatan operasional.

Adsense

Pabrik, kata dia, umumnya tetap harus beroperasi selama 24 jam dan hanya berhenti pada periode pemeliharaan tertentu, sehingga penurunan permintaan biasanya direspons melalui penurunan tingkat operasi.

"Operating rate kemarin sempat di bawah 70 persen, nyaris di bawah 70 persen. Artinya kalau di bawah 70 persen itu sudah rugi," katanya.

Baca juga : Impor Plastik Murah Makin Deras, Investasi Terancam

Karena itu, pemulihan daya beli dan peningkatan aktivitas di berbagai sektor ekonomi menjadi faktor penting untuk mendorong kembali permintaan produk petrokimia dan plastik.

Fajar mengatakan, sektor pertambangan, tekstil, makanan dan minuman, pembangunan infrastruktur, hingga otomotif dapat menjadi penggerak yang saling berkaitan dalam proses pemulihan industri manufaktur.

Industri petrokimia juga menghadapi perubahan pola pasokan bahan baku global, terutama akibat terganggunya sumber pasokan tradisional dari kawasan Timur Tengah.

Kondisi tersebut memaksa perusahaan mencari sumber alternatif dengan konsekuensi harga yang lebih tinggi serta waktu pengiriman yang lebih panjang.

"Sumber bahan baku dari Timur Tengah sudah mulai susah sehingga harus mencari alternatif sumber bahan baku di tempat lain. Sudah dapat dari tempat lain, tapi dengan harga yang lebih premium," ujar Fajar.

Ia mengatakan waktu pengiriman bahan baku yang sebelumnya dapat ditempuh sekitar satu bulan kini bisa mencapai hingga 60 hari sehingga kebutuhan modal kerja perusahaan turut meningkat.

Di tengah kondisi tersebut, penggunaan LPG sebagai alternatif bahan baku pengganti naphtha pada periode tertentu dinilai dapat menjadi salah satu pilihan untuk menjaga efisiensi biaya produksi, terutama ketika harga LPG lebih kompetitif.

Namun, Fajar menilai efektivitas alternatif tersebut tetap bergantung pada pergerakan harga energi di pasar global.

Perlindungan industri

Fajar menekankan kebijakan pemerintah menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga momentum pemulihan industri petrokimia nasional.

Menurut dia, kecepatan pemerintah dalam mengambil keputusan perlu disesuaikan dengan kondisi pasar agar kebijakan perlindungan industri dapat memberikan dampak pada waktu yang tepat.

Baca juga : Industri Plastik RI Tertekan Impor China, Pabrik Pangkas Jam Kerja

"Pemerintah juga harus pandai-pandai mengatur strategi bagaimana perlindungan industri dalam negeri ini. Kecepatan pengambilan keputusannya harus benar-benar sesuai dengan kondisi pasar," katanya.

Selain itu, perkembangan industri kendaraan listrik juga dinilai dapat membuka peluang baru bagi industri manufaktur dan pemasok komponen lokal.

Produksi kendaraan listrik di dalam negeri diharapkan dapat meningkatkan penggunaan komponen dan bahan baku lokal sehingga turut memperluas permintaan bagi industri petrokimia nasional.

"Kita berharap mobil listrik segera diproduksi dalam negeri sehingga komponen-komponennya bisa menggunakan pemasok lokal dan bahan bakunya bahan baku lokal," ujar Fajar.

Meski mulai menunjukkan peluang perbaikan, ia menilai industri petrokimia nasional belum dapat dikatakan pulih sepenuhnya.

Pelaku usaha masih membutuhkan kepastian pasar, kelancaran pasokan bahan baku, pemulihan daya beli, serta kebijakan yang mampu melindungi industri domestik dari tekanan eksternal.

"Artinya sudah keluar dari ICU, tapi masih belum pulih dengan benar. Jangan sampai salah penanganan masuk ICU lagi," kata Fajar.

Ia menegaskan fase pemulihan justru menjadi periode yang sensitif karena industri belum memiliki ruang yang cukup besar untuk menanggung guncangan baru.

"Untuk industri petrokimia di masa-masa pemulihan ini harus benar-benar diperhatikan. Kalau ada kesenggol sedikit saja, bisa masuk ICU lagi," ujarnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense