Dark/Light Mode

Krisis Global Jadi Momentum Perkuat Kemandirian Petrokimia RI

Selasa, 5 Mei 2026 20:21 WIB
Foto: DIT/RM
Foto: DIT/RM

RM.id  Rakyat Merdeka - Tekanan global yang membayangi industri petrokimia nasional dinilai dapat menjadi momentum untuk memperkuat kemandirian industri dalam negeri melalui diversifikasi bahan baku dan penguatan kapasitas produksi.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi yang digelar Forum Wartawan Industri (Forwin) bersama INAPLAS terkait tantangan dan prospek industri kimia nasional di tengah krisis energi global.

Sekretaris Jenderal INAPLAS Fajar Budiono mengatakan kondisi tekanan industri saat ini justru membuka peluang untuk memperkuat fondasi industri petrokimia nasional agar lebih mandiri dan tidak bergantung pada impor.

“Situasi ini harus menjadi momentum bagi pemerintah dan pelaku industri untuk mengembangkan alternatif bahan baku, tidak hanya berbasis minyak bumi, tetapi juga dari gas, batu bara, hingga bio feedstock,” ujarnya.

Baca juga : Dumping Impor Dan Krisis Energi Tekan Industri Petrokimia RI

Menurut dia, ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku petrokimia masih sangat tinggi, bahkan mencapai sekitar 90 persen. Kondisi ini membuat industri rentan terhadap gejolak harga dan pasokan global, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik dan krisis energi.

Selain diversifikasi bahan baku, penguatan kapasitas kilang minyak (refinery) dalam negeri juga dinilai menjadi langkah krusial untuk menjamin pasokan bahan baku seperti nafta. Tanpa peningkatan kapasitas tersebut, Indonesia dinilai akan terus bergantung pada impor.

Wakil Ketua Umum INAPLAS Edi Rivai menambahkan bahwa tekanan terhadap industri petrokimia telah berlangsung sejak pascapandemi COVID-19, terutama akibat overcapacity global dan banjir produk impor berharga murah.

Namun demikian, pelaku industri tetap berupaya menjaga keberlangsungan produksi melalui berbagai strategi efisiensi dan adaptasi, termasuk penggunaan bahan baku alternatif seperti LPG dan kondensat.

Baca juga : Revitalisasi 809 Sekolah di NTT Dimulai, Perkuat Pendidikan Wilayah Timur

Di sisi lain, praktik dumping dari negara produsen besar seperti China dan kawasan Timur Tengah dinilai semakin menekan pasar domestik. Kondisi tersebut memperkuat urgensi kebijakan perlindungan industri melalui instrumen trade remedies.

Meski menghadapi berbagai tekanan, pelaku industri memastikan hingga saat ini belum terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) secara luas. Hal ini menunjukkan ketahanan sektor petrokimia dalam menjaga stabilitas tenaga kerja di tengah situasi yang menantang.

Ketua Umum INAPLAS Suhat Miyarso menegaskan bahwa industri petrokimia dan plastik tetap memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, baik sebagai penyedia bahan baku industri hilir maupun kontributor pertumbuhan ekonomi.

Pelaku industri berharap pemerintah dapat mempercepat langkah strategis untuk memperkuat kemandirian industri, mulai dari pengembangan bahan baku domestik, peningkatan kapasitas produksi, hingga penciptaan iklim investasi yang kondusif.

Baca juga : Darmizal: Jokowi Dorong Penguatan Asta Cita Pemerintahan Prabowo–Gibran

Dengan dukungan kebijakan yang tepat, industri petrokimia nasional diyakini mampu bertahan sekaligus tumbuh lebih kuat, serta mengurangi ketergantungan terhadap pasar global di masa mendatang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.