RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah mengandalkan pengembangan energi hijau sebagai salah satu mesin pertumbuhan untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.
Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Elen Setiadi mengatakan target pertumbuhan ekonomi tersebut membutuhkan kebijakan yang terintegrasi, termasuk memastikan ketersediaan energi untuk menopang aktivitas industri.
"Dari rata-rata pertumbuhan kita sekarang 5,5 persen, bahkan pernah 5 persen dan di bawah 5 persen pada masa Covid-19, menjadi 8 persen itu tentu tidak berdasarkan hitungan angka-angka, tetapi harus ada kebijakan yang terintegrasi," kata Elen pada acara Bisnis Indonesia Group Strategic Forum 2026 dengan tema Accelerating Growth Through Clean energy & Industrial Transformation di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Menurut dia, untuk melompat dari pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen menuju 8 persen diperlukan engine of growthatau mesin pertumbuhan baru. Indonesia memiliki modal berupa sumber daya alam yang melimpah untuk mendukung pencapaian target tersebut.
Namun, pengembangan industri dan hilirisasi tidak akan berjalan tanpa dukungan energi yang memadai. Karena itu, Pemerintah mendorong transformasi menuju penggunaan energi bersih atau green energy.
Baca juga : Purbaya Bilang Ada Gangguan, Tapi Sedikit
"Tidak ada industri, tidak ada pertumbuhan, tanpa energi," ujarnya.
Elen menuturkan, Pemerintah secara bertahap telah melakukan transformasi energi, antara lain melalui pengembangan biodiesel dan pemanfaatan etanol sebagai bahan bakar. Penggunaan solar yang sebelumnya berbasis bahan bakar fosil telah ditransformasikan menjadi biosolar, bahkan hingga B50. Sementara untuk bensin, Pemerintah mulai mendorong penggunaan etanol seperti E5 dan E10.
Untuk sektor kelistrikan, Pemerintah juga mendorong program pengembangan energi terbarukan berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp). Regulasi pendukung program tersebut saat ini tengah disiapkan agar implementasinya dapat berjalan optimal.
Menurut Elen, kebutuhan energi hijau juga semakin mendesak seiring berkembangnya industri digital dan kecerdasan buatan (AI). Perkembangan industri tersebut membutuhkan pusat data (data center) yang memerlukan pasokan listrik dari sumber energi bersih.
"Kita ingin unggul dalam bidang AI, digital. Digital itu membutuhkan data center. Data center mensyaratkan ada energi hijau. Tidak bisa pakai energi fosil," katanya.
Baca juga : Pemerintah Pasang Target Investasi Hilirisasi 10.000 T
Ia mengatakan, kebutuhan data center saat ini berkembang secara eksponensial sehingga Pemerintah perlu menyiapkan pasokan energi sekaligus ekosistem industri yang mendukung pertumbuhan sektor tersebut. Misalnya, Pemerintah menjadikan Batam kawasan ekonomi khusus digital.
Di sisi lain, Elen mengakui pengembangan energi hijau masih menghadapi persoalan keekonomian sehingga membutuhkan dukungan Pemerintah melalui berbagai fasilitas dan insentif.
Menurut dia, sejumlah proyek energi bersih, seperti pembangkit listrik berbasis sampah, belum dapat berjalan optimal apabila hanya mengandalkan harga jual listrik berdasarkan keekonomian proyek.
Karena itu, Pemerintah memberikan dukungan agar proyek-proyek energi hijau tetap dapat dikembangkan dan menjadi bagian dari transformasi energi nasional.
Elen menambahkan bahwa pengembangan energi hijau juga berkaitan erat dengan peningkatan daya saing industri, khususnya industri mineral dan hilirisasi. Penggunaan energi terbarukan dinilai dapat membuat produk industri Indonesia lebih kompetitif di pasar global, karena tren industri hijau semakin berkembang di berbagai negara.
Baca juga : PLN EPI Buka Kolaborasi Energi Hijau, Potensi Biomassa 83,4 Juta Ton
"Jadi tidak hanya dari hulunya, tetapi dari sisi tengahnya. Industrinya juga mempunyai daya kompetitif yang lebih baik apabila menggunakan energi terbarukan atau energi hijau," katanya.
Untuk mendukung transformasi tersebut, Pemerintah tidak hanya menyiapkan kebijakan makro, tetapi juga membenahi berbagai regulasi teknis yang dinilai menjadi bagian dari ekosistem industri.
Elen menegaskan Pemerintah tidak dapat menjalankan agenda transisi energi sendirian. Diperlukan keterlibatan seluruh unsur dalam ekosistem, mulai dari penyediaan energi, industri sebagai pengguna, hingga produk yang dihasilkan.
"Tugas Pemerintah adalah memastikan bahwa kebijakan besar kami berjalan, kebutuhan industri bisa dipenuhi, dan persoalan industri bisa kita selesaikan," ujar Elen.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.