RM.id Rakyat Merdeka - Pertanian melon menjelang panen di Desa Kebun Tanjung Seumantoh, Aceh Tamiang, luluh lantak diterjang banjir, akhir tahun lalu. Kabar menggembirakannya, kini petani sudah kembali bangkit memulihkan lahan dan menjangkau pembeli ke berbagai daerah.
Banjir besar yang menerjang Aceh Tamiang terjadi pada Kamis, 26 November 2025. Musibah ini sempat membuat harapan petani melon di Desa Kebun Tanjung Seumantoh runtuh. Tanaman yang sudah berusia sekitar dua bulan, tengah berbunga dan mendekati masa panen, seketika luluh lantak diterjang banjir.
Lumpur setinggi 50-100 sentimeter menutup lahan yang selama ini menjadi sumber penghasilan warga. Kerugian mencapai sekitar Rp 40 juta.
Namun, kebun itu kembali bangkit. PT Pertamina EP (PEP) Rantau Field membantu membersihkan lahan dan melakukan penanaman kembali. Kini, kebun melon yang dikembangkan sejak 2019 tersebut kembali berproduksi, bahkan menjangkau pembeli dari berbagai daerah.
Kepala Desa Kebun Tanjung Seumantoh Wahyu Risma Novita mengatakan, pemasaran melon kini semakin luas. Pembeli datang dari Langsa, Banda Aceh, Berandan hingga Medan.
“Sekali panen kami sebar info di Facebook dan WhatsApp, nanti warga dan pembeli dari daerah lain langsung datang, dan melon ludes dalam waktu singkat. Seringnya malah sebelum sempat dikirim ke luar Aceh,” terang Wahyu.
Baca juga : Waspada, Kebakaran Dan Penyakit Mengintai Warga
Dalam satu pekan, kebun tersebut mampu menghasilkan sekitar 1,8 ton melon. Dengan dua kali siklus panen dalam setahun, omzetnya dapat mencapai ratusan juta rupiah.
Kebangkitan kebun melon tersebut menjadi bagian dari upaya PEP Rantau memperkuat ketahanan pangan masyarakat melalui Program Ketahanan Pangan Lewat Pemberdayaan Petani Cabe dan Melon.
Field Manager PEP Rantau Field Tomi Wahyu Alimsyah menjelaskan, program tersebut tidak sekadar mendorong produksi pertanian, tetapi juga menyiapkan petani muda agar mampu menjadi penggerak pangan di daerah.
Melalui Program Future Farmer, PEP Rantau menyulap lahan tidur seluas 1,8 hektare menjadi kebun cabe produktif bersama Kelompok Tani Tunas Muda di Kampung Tanjung Seumantoh. Tanaman cabe telah dipanen puluhan kali dan memberikan penghasilan hingga jutaan rupiah bagi para petani muda.
Program serupa dikembangkan melalui Melonesia (Smart Farming Kelompok Melon Mutiara Aceh Tamiang). Lebih dari 25 calon petani melon mendapatkan pelatihan melalui Sekolah Lapang dan pendampingan untuk mengembangkan budidaya melon di rumah masing-masing.
“Melalui pendampingan dan kaderisasi, para petani muda dipersiapkan menjadi tulang punggung pangan daerah, sekaligus penopang logistik saat situasi darurat,” kata Tomi.
Baca juga : MU Ditendang Brighton
Pemberdayaan masyarakat PEP Rantau tidak berhenti di sektor pertanian. Di tengah wilayah yang memiliki risiko bencana, perusahaan juga mengembangkan Program Difabel Berdaya di Sektor Ekonomi dan Tanggap Bencana.
Lebih dari 30 penyandang disabilitas dilatih menjadi SATGAS DIGDAYA (Difabel Siaga Tanggap Bencana dan Berdaya). Mereka dibekali kemampuan membuat tempat pengungsian darurat, mengoperasikan perahu evakuasi bertenaga surya, hingga membuat kotak energi untuk menyimpan daya listrik saat terjadi banjir.
Program ini dijalankan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang. Pemberdayaan ekonomi juga dilakukan melalui Café Ramah Difabel yang dikelola penyandang tunarungu. Serta bengkel dan doorsmeer yang dikelola penyandang tunadaksa dan dilengkapi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
“Kami bersyukur, program ini tidak hanya memberi penghasilan. Tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas, dari penerima bantuan menjadi motor penggerak ekonomi,” tegas Tomi.
Kebutuhan energi untuk mendukung aktivitas masyarakat juga mulai dijawab melalui Program Energi Bersih dan Sekolah Inovatif. PEP Rantau memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sumber listrik alternatif di sejumlah lokasi, seperti Inklusi Coffee, bengkel difabel, Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Aceh Tamiang, dan Gedung Inclusive Shelter.
Rangkaian program tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PEP Rantau.
Baca juga : Bagnaia Merasa Dibiarkan Terpuruk
Komitmen tersebut turut mengantarkan perusahaan meraih Proper Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup selama sembilan kali berturut-turut.
Program pemberdayaan PEP Rantau juga meraih Asia Responsibility Enterprise Awards (AREA) 2025 kategori Social Empowerment melalui Sinar Pelita serta Public Relations Indonesia Awards kategori Community Based Development untuk Rumah Kreatif Tamiang.
Inklusi difabel, energi hijau, pertanian berkelanjutan, pencegahan stunting, dan pelestarian lingkungan bukan proyek sesaat.
“Akan tetapi, menjadi investasi sosial untuk masyarakat Aceh Tamiang yang lebih Tangguh,” pungkas Tomi. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.