BREAKING NEWS
 

Tempesantren, Usaha Tempe Santri yang Kini Suplai Program MBG

Reporter & Editor :
FAZRY
Minggu, 27 September 2026 08:36 WIB
Direktur Utama PDC, Hery Lesmana (kedua kiri) Pimpinan Pondok Pesantren, Kiai Amin (tengah), didampingi Corporate Secretary PT Patra Drilling Contractor (PDC) Ani Aryani di Pondok Pesantren Tarbiyatul Athfal di Temiyangsari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. (Foto: Fazry/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Patra Drilling Contractor (PDC) konsisten mendukung usaha ekonomi produktif rakyat hingga di tingkat madrasah. Adalah Tempesantren, usaha produksi tempe yang dikelola Pondok Pesantren Tarbiyatul Athfal di Temiyangsari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Usaha ini memberdayakan para santri dan masyarakat hingga mampu memberi manfaat bagi lingkungan sekitar dan pondok pesantren itu sendiri.

Direktur Utama PDC, Hery Lesmana bersama jajaran mengunjungi rumah produksi tempe tersebut pada Kamis, 25 September 2026.

PDC disambut oleh pimpinan pondok pesantren KH. Amin, hingga Kepala Desa. Hery menceritakan, PDC telah membantu usaha tersebut sampai produksinya meningkat dari dulunya 30-40 kg per hari, kini menjadi 1 kwintal per hari, atau mencapai 3 ton per bulan.

"Sekarang sudah meningkat bahkan lebih dari 1 kwintal per hari," kata Hery di lokasi rumah produksi.

Hery mengungkapkan, PDC tergerak lantaran memiliki kecocokan antara visi perusahaan, unit bisnis, dengan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan di pesantren.

Baca juga : PDC Perkuat Tata Kelola Penggunaan AI, Mitigasi Risiko Data dan Hukum

PDC sebagai perusahaan jasa penunjang industri migas sendiri diketahui memiliki unit bisnis Food Lodging Services.

"Kami merasa cocok di sini. Kami juga melihat leverage-nya besar karena pesantren ini bisa membantu masyarakat. Sehingga kami melakukan pendampingan di sini," tuturnya.

Untuk pembangunan rumah produksi dan pengadaan peralatan, PDC telah menggelontorkan anggaran sekitar Rp240 juta.

Bantuan yang digulirkan juga termasuk modal kerja dan peralatan yang lebih higienis, PDC pun telah memberikan pendampingan dan pelatihan, hingga Tempesantren telah memperoleh sertifikasi halal dan dalam proses mendapatkan sertifikat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Adsense

"Jadi target kami ada tiga. Pertama, produksi meningkat dua kali lipat; kedua, tingkat higienitas meningkat jauh; dan ketiga, secara pemasaran produk laku terjual. Dari tiga target tersebut, semuanya tercapai dan bahkan lebih dari target kami. Ke depan, usaha ini akan dikembangkan dengan membuat keripik tempe yang harapannya bisa masuk ke supermarket. Namun ada beberapa syarat, seperti aspek higienitas, izin dari BPOM," katanya.

Sudah Masuk Rantai Pasok MBG dan Suplai ke Tiga Titik SPPG Pimpinan Pondok Pesantren, Kiai Amin menceritakan, saat ini Tempesantren juga telah menjadi pemasok tempe ke 3 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah sekitar untuk mendukung program Makanan Bergizi Gratis (MBG) Pemerintahan Prabowo Subianto.

Baca juga : PDC Perkuat Supply Chain Lewat Transformasi Digital dan Sistem SAP

"3 titik SPPG yang disuplai dari sini," tuturnya.

Selain itu, tempe juga dikirim ke warung-warung sekitar untuk dijual. Kiai Amin berharap kerja sama dengan PDC ini bisa terus dilanjutkan.

Ke depannya, juga ada rencana pembuatan kripik tempe dan akan dibangun pabrik tahu untuk pengembangan usaha atau ekspansi.

"Harapannya, kerja sama ini bisa terus dilanjutkan, jangan diputus. Kami sudah cukup lama bekerja sama. Dulu pernah diberikan laptop, kemudian kemarin diberikan modal, dan ini yang ketiga kalinya dengan modal yang lebih besar lagi," jelasnya.

Menariknya, pesantren yang dipimpin Kiai Amin ini tidak memungut biaya alias telah menggratiskan pendidikan untuk para santrinya.

"Di sini enggak bayar, karena gimana caranya harta kita juga keluar. Total di sini santri putra-putri (Tingkat Madrasah Aliyah) 70-an, sementara yang MI (Madrasah Ibtidaiyah) dan MTS (Madrasah Tsanawiyah) 200 lebih," tutur Kiai Amin.

Kantongi Pendapatan Bersih Rp15 Juta per Bulan

Baca juga : PDC Ubah Minyak Jelantah Jadi Produk Bernilai lewat MALIKA 2.0

Makrus Ali, Marketing Tempesantren mengatakan, Tempesantren telah mendapatkan omzet sekitar Rp2.500.000 per hari atau sekitar Rp75 juta per bulan, dengan pendapatan bersih Rp500.000 per hari, sekitar Rp15 juta per bulan dari hasil produksi.

Itu dengan hitungan produksi yang telah naik jadi 1 kwintal per hari atau 3 ton dalam sebulan.

"Pendapatan bersih Rp500 ribu per hari dari omzet Rp2,5 juta yang diputar untuk bahan baku dan operasional," tutur Makrus.

Tempesantren sudah bisa mandiri yang diharapkan ini bisa menjadi pembelajaran wirausaha dan salah satu penggerak ekonomi masyarakat sekitar.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense