BREAKING NEWS
 

Anggota DEN: Industri Migas Indonesia Jauh dari Kata Senjakala

Reporter : NANA MAULANA
Editor : UJANG SUNDA
Rabu, 30 September 2026 16:51 WIB
Diskusi Buku Senjakala Industri Migas dan Seminar Tata Kelola Energi, di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Rabu (30/9/2026). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Dr. M. Kholid Syeirozi, menyatakan bahwa bisnis migas di Indonesia masih memiliki prospek cukup baik. Ia menegaskan, bisnis migas Indonesia jauh dari kata senjakala (sunset). 

“Dengan prospek bisnis migas yang belum masuk fase senjakala, memberi peluang besar Indonesia menjadi negara maju di 2045,” ujarnya, dalam Diskusi Buku Senjakala Industri Migas; Migas dan Pembangunan Indonesia 1899-2023 dan Seminar Tata Kelola Energi, yang dilaksanakan Rumah Energi Indonesia, bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji, di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Rabu (30/9/2026).

Baca juga : Penuhi Kebutuhan BBM, Pemerintah Siapkan E50

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini Sekjen Asosiasi Daerah Penghasil Migas dan Energi Terbarukan Dr. Ir. Andang Bachtiar dan Akademisi Universitas Maritim Raja Ali Haji Dr. Sayed Fauzan Riyadi.

Adsense

Mengenai penerimaan migas nasional, Kholid mengakui, tidak mencukupi untuk menambal subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan gas. "Penerimaan migas nasional Rp 138 triliun tahun 2025, sementara beban subsidi dan kompensasi BBM nasional Rp 160 triliun. Kita masih perlu menambal dana subsidi," ujarnya.

Baca juga : Prabowo Gelar Rapat Paripurna Dewan Energi Nasional, Ini yang Dibahas

Dalam diskusi, Dr. Ir. Andang Bachtiar menyatakan, Provinsi Kepulauan Riau memiliki aset migas yang sangat besar di Laut Natuna. Namun, sampai saat ini proses eskplorasi Migas Blok Natuna belum berjalan karena berbagai persoalan tata kelola migas.

'Masih terdapat 110 area potensial di Indonesia dengan cadangan baru minyak dan gas yang belum dieksplorasi hingga Januari 2026," ujar Andang.

Baca juga : DEN Dorong Penguatan Keandalan Listrik dan Transisi Energi NTB

Sementara Dr. Sayed Fauzan Riyadi menyampaikan, perlu pengawalan dan pendampingan terhadap proses revisi Undang-undang Migas yang tengah berjalan di DPR. Menurutnya, selama ini persoalan migas lebih banyak menjadi konsumsi elite. Masyarakat kurang mendapat pengetahuan yang cukup perihal migas sehingga perlu diberikan informasi yang baik. 

Untuk itu, Sayed Fauzan Riyadi mengajak kaum intelektual, khususnya para mahasiswa, untuk lebih peduli terhadap kebijakan sektor migas. Khususnya di Provinsi Kepulauan Riau, agar perbaikan tata kelola migas nasional berdampak langsung bagi daerah penghasil migas.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense