BREAKING NEWS
 

Akademisi Apresiasi Prabowo dan Rosan, Hilirisasi Buka 10.000 Lapangan Kerja

Reporter & Editor :
FAZRY
Minggu, 11 Oktober 2026 11:34 WIB
Presiden Prabowo Subianto (tengah) didampingi Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Rosan Perkasa Roeslani, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi merangkap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto; Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan, serta dihadiri Chairman Tsingshan Group Xiang Guangda; dan Chairman Huayou Indonesia Chen Xuehua, menekan sirine sebagai tanda peluncuran ekspor perdana baterai kendaraan listrik dan 11 proyek industri di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara, Kamis (8/10/2026). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kalangan akademisi mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, dalam mendorong percepatan hilirisasi industri dan peningkatan investasi nasional.

Kebijakan tersebut dinilai strategis untuk mendongkrak nilai tambah sumber daya alam, memperkuat struktur industri domestik, serta memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat.

Dr. Sarlina Sari, akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), menilai pengembangan industri hilirisasi merupakan instrumen penting dalam transformasi ekonomi nasional.

“Saya mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang terus mendorong hilirisasi sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar, dan tantangannya adalah bagaimana mengolah kekayaan tersebut menjadi produk bernilai tambah tinggi, memperkuat industri nasional, serta menciptakan lapangan kerja yang berkualitas bagi masyarakat,” ujar Dr. Sarlina dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (11/10/2026).

Baca juga : Prabowo Bakal Sambut El-Sisi di Istana Merdeka, Bahas Kemitraan Strategis

Dukungan tersebut selaras dengan peresmian 11 proyek ekosistem hilirisasi nikel di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada 8 Oktober 2026.

Proyek yang mencakup sektor baterai, material nikel, aluminium, hingga energi surya ini melibatkan total investasi sekitar Rp 180 triliun dan diproyeksikan menyerap lebih dari 10.000 tenaga kerja.

Adsense

Menurut Dr. Sarlina, esensi hilirisasi tidak hanya terletak pada besarnya nilai modal, melainkan pada pembentukan ekosistem industri yang terintegrasi dan berkelanjutan.

“Yang penting bukan hanya besarnya nilai investasi, melainkan juga seberapa jauh investasi tersebut mampu membangun ekosistem industri yang kuat, meningkatkan kapasitas teknologi nasional, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Hilirisasi harus menjadi instrumen untuk memperkuat daya saing Indonesia dalam rantai pasok industri global,” tegasnya.

Baca juga : Pemerintah Siapkan Empat Pilar Utama

Ia juga menyoroti peran penting Rosan Perkasa Roeslani dalam memastikan realisasi komitmen investasi dapat berjalan beriringan dengan penciptaan iklim usaha yang kondusif serta penguatan kapasitas tenaga kerja lokal.

“Peran Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menjadi penting dalam memastikan bahwa komitmen investasi dapat diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi yang produktif. Kita berharap investasi tidak berhenti pada pembangunan fasilitas industri, tetapi juga membuka peluang bagi tenaga kerja lokal, memperkuat pemasok domestik, dan mendorong tumbuhnya industri pendukung nasional,” ungkapnya.

Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi nasional pada semester I 2026 telah mencapai Rp 1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen secara tahunan, dengan sektor hilirisasi menyumbang Rp 300,1 triliun (29,7 persen).

Kendati demikian, Sarlina mengingatkan, agar pertumbuhan investasi ini diiringi dengan pemerataan manfaat, sinergi lintas sektor, termasuk keterlibatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta perguruan tinggi melalui riset dan pendidikan vokasi, serta penerapan prinsip keberlanjutan lingkungan.

Baca juga : Grebek Kampung Ambon & Boncos, Kapolri Tancap Gas Berantas Narkoba

“Indonesia perlu memastikan bahwa transformasi dari negara yang mengekspor bahan mentah menjadi negara industri menghasilkan manfaat jangka panjang. Kita ingin sumber daya alam tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga menjadi fondasi bagi kemajuan teknologi, peningkatan kualitas tenaga kerja, dan kesejahteraan masyarakat,” tutupnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense