BREAKING NEWS
 

Rapat Pleno III Wantimpres

Bamsoet: APBN Harus Mampu Perkuat Daya Beli, Ciptakan Lapangan Kerja

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Kamis, 22 Oktober 2026 17:32 WIB
Rapat Pleno III Wantimpres bersama Menteri Keuangan, di Kantor Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis (22/10/2026). (Foto: Dok. Wantimpres)

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Bambang Soesatyo (Bamsoet), menegaskan APBN harus terus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang inklusif, memperkuat daya beli rakyat, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.

Bamsoet menilai, kinerja ekonomi nasional hingga semester I-2026 memberikan alasan kuat untuk optimistis. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,45 persen, inflasi September tetap terkendali pada 3,28 persen, dan indeks manufaktur berada di level ekspansif 52,4. Capaian tersebut membuktikan ekonomi Indonesia tetap memiliki daya tahan kuat di tengah dinamika geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.

“Dari paparan Menteri Keuangan, kami melihat, di tengah situasi global yang sedang tidak baik-baik saja, fondasi ekonomi nasional kita tidak terlalu terganggu. Pertumbuhan tetap terjaga, inflasi terkendali, aktivitas industri tumbuh, dan kepercayaan terhadap Indonesia tetap tinggi,” ujar Bamsoet, usai menghadiri Rapat Pleno III Wantimpres bersama Menteri Keuangan, di Kantor Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Fondasi tersebut, lanjut Bamsoet, adalah modal besar bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat pembangunan yang manfaatnya dirasakan langsung oleh seluruh rakyat. 

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia ini menjelaskan, APBN memiliki peran strategis untuk menerjemahkan kekuatan ekonomi tersebut menjadi perbaikan nyata dalam kehidupan rakyat. Harga pangan yang stabil, peningkatan pendapatan keluarga, kesempatan kerja yang luas, layanan pendidikan dan kesehatan yang baik, serta tumbuhnya usaha rakyat harus menjadi hasil nyata dari kebijakan anggaran.

Baca juga : Habiburokhman: Tingkat Represivitas Aparat di Era Prabowo Turun Drastis

Hingga September 2026, pendapatan negara mencapai Rp 2.341,7 triliun atau tumbuh 25,5 persen. Penerimaan pajak tercatat Rp 1.607,6 triliun dan penerimaan negara bukan pajak mencapai Rp 492,3 triliun. Sementara belanja negara mencapai Rp 2.660,5 triliun atau meningkat 19 persen. Angka tersebut mencerminkan kapasitas negara yang semakin kuat dalam membiayai agenda pembangunan.

“Peningkatan penerimaan negara harus terus dipertahankan. Ruang fiskal ini harus dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan yang produktif, memperkuat sektor riil, dan memperluas perlindungan sosial. APBN harus hadir sebagai instrumen yang memberi rasa aman sekaligus membuka peluang kemajuan bagi rakyat,” kata Bamsoet.

Ketua MPR ke-15 dan Ketua DPR ke-20 ini menilai proyeksi defisit APBN sebesar 2,85 persen terhadap PDB tetap menunjukkan arah pengelolaan fiskal yang terjaga. Dengan disiplin anggaran dan belanja yang semakin berkualitas, APBN dapat terus menjadi instrumen yang kredibel untuk membiayai pembangunan nasional tanpa mengabaikan kesinambungan fiskal.

Adsense

“Pemerintah memiliki komitmen kuat menjaga keseimbangan antara keberanian membiayai pembangunan dan kehati-hatian menjaga kesehatan fiskal. Ini penting agar Indonesia mampu terus tumbuh, sekaligus memiliki ketangguhan menghadapi berbagai perubahan global,” jelas Bamsoet.

Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran ini juga mengapresiasi komitmen pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat melalui subsidi dan kompensasi energi. Proyeksi subsidi dan kompensasi energi sepanjang 2026 yang mencapai Rp525,9 triliun merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam melindungi masyarakat dari dampak gejolak harga energi dunia.

Baca juga : Prabowo Sebut Karhutla Terorisme Lingkungan, Menkum Siap Atur Di Undang-undang

Ke depan, Pemerintah perlu terus menyempurnakan data penerima subsidi, memperkuat pengawasan distribusi BBM dan LPG, serta mempercepat pengembangan energi alternatif. Langkah ini akan memastikan manfaat subsidi semakin tepat sasaran bagi petani, nelayan, pelaku UMKM, pekerja, dan masyarakat berpenghasilan rendah.

“Subsidi energi harus benar-benar dinikmati masyarakat yang membutuhkan, terutama kelompok berpenghasilan rendah dan pelaku usaha kecil. Pemerintah perlu memperbaiki data penerima, menutup kebocoran distribusi, serta mempercepat kemandirian energi nasional,” tegas Bamsoet.

Dosen pascasarjana Universitas Borobudur, Universitas Pertahanan, dan Universitas Jayabaya ini menambahkan, prospek perekonomian nasional juga didukung oleh masuknya aliran modal sebesar Rp 149,3 triliun hingga 16 Oktober 2026. Hal ini menunjukkan Indonesia tetap dipandang memiliki fundamental ekonomi yang menarik, pasar domestik yang besar, serta peluang investasi yang menjanjikan.

Terkait konsultasi MSCI mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia, Bamsoet menilai hal tersebut harus dijadikan momentum mempercepat penguatan tata kelola pasar modal, transparansi kepemilikan saham, dan perlindungan investor. Indonesia memiliki seluruh modal untuk menjaga serta meningkatkan kepercayaan investor global.

“Kepercayaan pasar harus terus kita perkuat melalui kepastian hukum, tata kelola yang baik, dan kebijakan yang konsisten. Indonesia memiliki sumber daya alam, pasar domestik, bonus demografi, serta posisi strategis. Dengan pembenahan yang berkelanjutan, Indonesia akan semakin diperhitungkan sebagai kekuatan ekonomi dunia,” ujar Bamsoet.

Baca juga : Bamsoet Dorong Capaian 2 Tahun Prabowo Jadi Modal Besar Menuju Indonesia Mandiri

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menekankan sinergi antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Danantara, kementerian teknis, dan dunia usaha harus terus diperkuat. Kebijakan fiskal, moneter, investasi, dan industrialisasi perlu berjalan dalam satu arah untuk mempercepat hilirisasi, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat industri nasional, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas.

“Arah kebijakan fiskal 2027 harus menjadi pondasi menuju Indonesia yang lebih kuat, mandiri, dan sejahtera. Optimisme kita memiliki dasar yang nyata, yakni ekonomi tumbuh, penerimaan negara meningkat, industri bergerak, investasi tetap datang, dan negara hadir melindungi rakyat. Tugas kita adalah memastikan seluruh kekuatan itu bekerja untuk kemakmuran rakyat Indonesia,” pungkas Bamsoet.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense