RM.id Rakyat Merdeka - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menghijau di tengah polemik usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) menurunkan status pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market. Pasar saham kita bangkit lagi.
Pada pembukaan perdagangan Jumat (23/10/2026), IHSG naik 9,44 poin atau 0,18 persen ke posisi 5.397,34. Penguatan berlanjut hingga penutupan dengan kenaikan 51,35 poin atau 0,95 persen ke level 5.439,25.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, sorotan MSCI tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia maupun kinerja emiten. Melainkan lebih berkaitan dengan tata kelola perdagangan saham yang masih perlu diperbaiki.
“Bukan juga dengan fundamental emiten, tetapi lebih kepada governance daripada trading market, khusus untuk saham yang free float,” kata Airlangga saat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, di Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Menurut dia, salah satu aspek yang menjadi perhatian MSCI adalah pemenuhan ketentuan free float minimal 15 persen. Pemerintah, kata dia, terus mendorong reformasi pasar modal agar tata kelola perdagangan saham semakin baik.
Baca juga : Hendri Satrio: Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih
Airlangga mengatakan, fundamental emiten yang tercatat di bursa masih baik, baik dari sisi laba rugi maupun pembagian dividen. Namun, ia mengakui, masih terdapat sejumlah perusahaan yang belum memenuhi ketentuan free float tersebut.
Menurut dia, pemerintah memiliki waktu hingga Juni 2027 untuk memenuhi agenda pembenahan yang diperlukan. Selain meningkatkan porsi saham beredar di publik, Pemerintah juga mendorong demutualisasi bursa sebagai bagian dari tahapan reformasi pasar modal.
Sementara itu, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir mengingatkan, investor agar membedakan persoalan tata kelola pasar modal dengan kondisi fundamental perusahaan.
Menurut Pandu, pembenahan pasar saham memang diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan investor. Namun, persoalan tata kelola tidak serta-merta menunjukkan bahwa perusahaan Indonesia memiliki fundamental yang buruk.
“Pasarnya silakan saja dibenahi, tetapi kekuatan bisnis perusahaan Indonesia tetap perlu dilihat secara objektif,” kata Pandu dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Kamis (22/10/2026).
Baca juga : Menghijau Lagi, IHSG Tembus 5.397
Ia memaparkan, dari 146 emiten dengan pendapatan tahunan di atas Rp 5 triliun, sebanyak 134 emiten mencatatkan laba. Secara agregat, laba perusahaan-perusahaan tersebut pada semester I-2026 tumbuh 15 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan pendapatan meningkat 7 persen.
Selain itu, sebanyak 121 emiten nonkeuangan memiliki total kas Rp 583 triliun pada kuartal II-2026, meningkat 13 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pandu juga menyebutkan sebanyak 61 emiten memiliki tingkat pengembalian ekuitas atau return on equity (ROE) di atas 15 persen. Menurut dia, data tersebut menunjukkan sejumlah perusahaan Indonesia masih memiliki profitabilitas yang kuat.
Meski demikian, ia mengingatkan, investor agar tidak menilai suatu saham murah hanya berdasarkan penurunan harganya di pasar. Investor perlu mempertimbangkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba, pertumbuhan bisnis, arus kas, tingkat utang, serta kualitas tata kelola sebelum mengambil keputusan investasi.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mendorong pembenahan pasar modal untuk memperkuat transparansi dan integritas perdagangan.
Baca juga : Singapura Bantah Recoki Bursa Saham Indonesia
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan pihaknya berkomitmen menuntaskan agenda reformasi, terutama dalam pengungkapan kepemilikan saham dan penguatan efektivitas pengawasan perdagangan.
OJK juga menegaskan akan menjatuhkan sanksi terhadap pihak-pihak yang terbukti melakukan manipulasi maupun pelanggaran lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sementara itu, BEI mengusulkan penyesuaian batas bawah auto rejection dari sebelumnya asimetris 15 persen menjadi 7 persen sebagai langkah cepat untuk meredam gejolak pasar. Kebijakan tersebut akan terus dievaluasi oleh OJK dan BEI hingga akhir 2026.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.