Dark/Light Mode

Singapura Bantah Recoki Bursa Saham Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 07:40 WIB
Ilustrasi, IHSG anjlok pada hari Senin (19/10/2026). (Foto: Rizki Syahputra/RM.id)
Ilustrasi, IHSG anjlok pada hari Senin (19/10/2026). (Foto: Rizki Syahputra/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pihak Singapura menjawab pernyataan mantan Menteri Perdagangan RI Muhammad Lutfi soal dugaan menekan lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Mereka membantah telah merecoki bursa saham Indonesia lewat MSCI.

Bantahan itu disampaikan lembaga pengelola dana abadi (sovereign wealth fund) Singapura: Government of Singapore Investment Corporation (GIC) dan Temasek. Seorang juru bicara GIC mengatakan kepada The Straits Times, keputusan investasi lembaganya tidak didasarkan pada klasifikasi indeks atau pandangan makro terhadap suatu pasar. GIC, kata dia, lebih mengutamakan fundamental perusahaan dan aset yang menjadi sasaran investasi.

“Kami telah berinvestasi di Indonesia lebih dari 30 tahun di berbagai kelas aset dan akan terus berinvestasi di mana pun kami menemukan peluang yang baik, berdasarkan analisis fundamental (bottom-up) dan disesuaikan dengan risiko,” katanya, dikutip dari The Straits Times.

Senada, Kepala Wilayah Asia-Pasifik Temasek Global Investments Fock Wai Hoong menegaskan tuduhan tersebut tidak berdasar.

Dia memastikan tidak ada pihak dari Temasek, baik individu maupun institusi, yang menghubungi MSCI untuk memengaruhi keputusan terkait status pasar modal negara mana pun di kawasan.

Baca juga : Kontrak Berakhir, InJourney Harap MotoGP di Mandalika Lanjut

“Mungkin cukup sampai di situ saja,” tegas Fock dalam acara peluncuran laporan e-Conomy SEA 2026 di kantor Google, Mapletree Business City, Rabu (21/10/2026).

Sebelumnya, Lutfi menduga lembaga investasi Singapura menekan MSCI agar menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Menurut Lutfi, Temasek dan GIC memiliki pengaruh besar terhadap MSCI.

Dia mengaku memperoleh informasi bahwa seseorang bernama Rachel Goh dari GIC menekan penyedia indeks tersebut.

Lutfi menduga langkah itu memicu kepanikan di pasar saham Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi menekan harga saham sehingga investor bisa membeli saham dengan harga lebih rendah.

Di tengah gejolak pasar, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap solid meski menghadapi tekanan global. Dia menyebut ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen pada semester I 2026. Inflasi juga masih berada dalam kisaran target 2,5 persen plus minus 1 persen.

Baca juga : Kasus Proyek Jalan Di Sumut, KPK Tetapkan 7 TSK Baru

Indikator aktivitas manufaktur atau Purchasing Managers’ Index (PMI) masih berada di level 52. Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat 118 dan cadangan devisa mencapai 146,3 miliar dolar AS.

“Kemudian kalau dari segi sektor riil juga relatif kuat, termasuk juga kondisi pangan kita tersedia baik,” kata Airlangga.

Meski begitu, Airlangga mengakui Indonesia menghadapi berbagai sentimen eksternal, termasuk persoalan yang berkaitan dengan usulan MSCI mengenai klasifikasi pasar modal Indonesia. “Ada riak-riak seperti MSCI, tetapi kan itu bukan sesuatu yang mengganggu secara keseluruhan,” ujarnya.

Airlangga optimistis pemerintah tetap mampu mencapai target pertumbuhan ekonomi. Dia menekankan pentingnya kerja sama antarkementerian dan lembaga untuk menjaga kinerja perekonomian.

Di tengah tekanan pasar, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mulai membeli saham di pasar modal sejak Rabu (21/10/2026). Pembelian terutama menyasar saham-saham BUMN yang dinilai memiliki valuasi menarik dan prospek pertumbuhan baik.

Baca juga : MotoGP Mandalika Hasilkan Dampak Ekonomi 5,2 Triliun

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Patria Sjahrir mengatakan, keputusan investasi tersebut didasarkan pada fundamental perusahaan serta potensi imbal hasil yang sepadan dengan risiko.

“Per kemarin, kita sudah mulai membeli saham-saham yang ada. Menurut kami efektif, dan kita akan terus selama harganya menarik, memiliki prospek yang baik,” ungkap Pandu dalam Coffee Morning Session di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Pandu mengatakan, Danantara akan terus menambah kepemilikan saham selama tersedia peluang dengan keseimbangan risiko dan imbal hasil yang menarik. “Kami selalu profit oriented,” tegasnya.

Dia juga menyoroti isu MSCI yang menjadi perhatian pelaku pasar. Menurut Pandu, persoalan yang berkembang di Malaysia berbeda dengan kondisi perusahaan-perusahaan yang tercatat di pasar modal Indonesia. Karena itu, dia menekankan pentingnya menilai perusahaan berdasarkan fundamental masing-masing, termasuk BUMN yang dinilai memiliki prospek investasi menjanjikan. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.