Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Arema FC Dibantai Persija, Walisson Maia Minta Maaf kepada Aremania
- Inter Milan Tekuk Shakhtar Donetsk, Carlos Augusto Jadi Penentu
- Mbappe Brace, Real Madrid Hajar RB Leipzig
- Jakmania Dilarang Hadiri 6 Laga Tandang, PSSI Sanksi Persija-Persita
- Madura United Vs Persib Bandung, Jadwal Padat Jadi Kendala
Pandu Sjahrir: Usulan MSCI Belum Final, Fundamental Emiten RI Tetap Kuat
Kamis, 22 Oktober 2026 12:38 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir menyampaikan tanggapannya soal usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) tentang penurunan klasifikasi indeks pasar saham Indonesia dari emerging market (pasar berkembang) menjadi standalone market (pasar mandiri/terisolasi). Usulan tersebut disampaikan MSCI melalui situs resminya pada 15 Oktober 2026.
Terkait hal tersebut, MSCI memberi waktu kepada pelaku pasar global untuk menyampaikan umpan balik hingga 30 April 2027. Keputusan akhir mengenai penurunan kelas pasar saham Indonesia akan disampaikan pada 30 Juni 2027.
Penurunan klasifikasi indeks pasar saham itu berisiko mensejajarkan Indonesia dengan negara-negara seperti Argentina, Zimbabwe, dan Lebanon.
"Kami memahami dan tidak menganggap ini sebagai sesuatu yang ringan. Di balik semua ini, kami paham bahwa dampaknya terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari. Ada 32 juta investor di pasar modal Indonesia yang memiliki cerita pribadi di balik investasi mereka di pasar modal," kata Pandu melalui akun Instagram pribadinya, Kamis (22/10/2026).
Menurutnya, masukan dari investor maupun penyedia indeks harus didengarkan sebagai bahan perbaikan. Kepentingan Indonesia diperkuat dengan membangun pasar yang transparan, adil, dan dipercaya.
Baca juga : MSCI Mau Takut-takuti Kita, Prabowo Tidak Gentar
"Ini perlu kita tanggapi dengan serius karena berkaitan dengan kepercayaan investor," ujar Pandu.
"Perlu ditegaskan, ini masih usulan. Belum keputusan final," lanjutnya.
Pandu menegaskan, reformasi pasar modal yang sedang berjalan itu harus didukung. Pelaksanaannya harus bisa dibuktikan.
"Tetapi, kita juga perlu membedakan persoalan tata kelola pasar dengan fundamental perusahaan. Pasarnya silakan saja dibenahi, tetapi kekuatan bisnis perusahaan Indonesia tetap perlu dilihat secara objektif. Semua itu harus kita lihat secara seimbang," tutur Pandu.
Pandu menambahkan, adanya persoalan yang perlu diperbaiki tidak mengindikasikan perusahaan-perusahaan di bursa Indonesia memiliki fundamental yang buruk.
Baca juga : Pintu-pintu Yang Diketuk
Dari total 146 emiten dengan pendapatan tahunan di atas Rp 5 triliun, 134 di antaranya mencatat laba. Laba agregat semester pertama 2026 tumbuh 15 persen, sementara pendapatannya tumbuh 7 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Sebanyak 121 emiten non-keuangan juga memiliki total cash Rp 583 triliun pada kuartal II-2026. Naik 13 persen dibanding tahun sebelumnya.
"Ini memberikan ruang untuk mendukung pengembangan usaha," tutur Pandu.
FTSE Russell Pertahankan Indonesia
Pandu juga menggarisbawahi opini FTSE Russell. Penyedia indeks pasar saham global terkemuka di dunia yang berbasis di Inggris itu tetap mempertahankan Indonesia dalam kategori secondary emerging market, dalam evaluasi tahunan yang dirilis pada 6 Oktober 2026. Meskipun efektivitas reformasi terus dipantau.
Posisi Indonesia di secondary emerging market setara dengan China dan India. FTSE Russell juga tidak menempatkan Indonesia ke dalam daftar pantau penurunan status (watch list).
Baca juga : Presiden Prabowo: MSCI Mau Takut-Takuti Kita
"Jadi, ada juga indeks provider lain yang memiliki opini berbeda. Harga saham yang turun belum tentu berarti murah. Jadi, kita harus melihat kemampuan menghasilkan laba, pertumbuhan bisnis, arus kas, hutang, dan tata kelolanya," beber Pandu.
Dari 146 emiten yang tadi disebut Pandu, sebanyak 61 di antaranya menghasilkan return on equity (ROE) di atas 15 persen. Di sektor perbankan maupun konsumsi, ada perusahaan yang mencetak ROE sekitar 20 persen dan price to earning di bawah 10 kali.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya