BREAKING NEWS
 

PLN EPI Kembangkan Biohidrogen, Potensi Biomassa RI Capai 83,4 Juta Ton

Reporter : NOVALLIANDY
Editor : FAZRY
Minggu, 25 Oktober 2026 08:32 WIB

RM.id  Rakyat Merdeka - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menjajaki pengembangan biohidrogen berbasis biomassa sebagai alternatif energi rendah karbon.

Langkah ini didukung potensi biomassa Indonesia yang diperkirakan mencapai 83,4 juta ton per tahun, dengan sekitar 60,6 juta ton di antaranya belum dimanfaatkan.

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan, pengembangan biohidrogen merupakan bagian dari strategi diversifikasi energi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan impor.

Hal itu disampaikan Hokkop dalam Program Diaspora Berdampak 2026 bertema Hidrogen: Prospek Nasional dan Lanskap Global di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Depok.

Menurut Hokkop, Indonesia memiliki beragam sumber biomassa yang berpotensi diolah menjadi bahan baku biohidrogen, mulai dari residu pertanian, limbah kayu, sekam padi, hingga limbah agroindustri.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya PLN EPI membangun ekosistem bioenergi terintegrasi dengan memanfaatkan sumber daya dalam negeri.

“Jadi, kita bikin ekosistem biomassa, ekosistem CBG, ekosistem hidrogen, untuk memanfaatkan energi kita secara domestik dan mengurangi ketergantungan impor dan fosil,” ujar Hokkop.

Baca juga : PLN EPI Ajak Pengusaha Daerah Kelola Limbah Jadi Bahan Bakar Biomassa

Berdasarkan pemetaan PLN EPI, potensi biomassa terbesar berada di Sumatra, yakni sekitar 42,8 juta ton per tahun. Berikutnya, Kalimantan dengan potensi 18,9 juta ton dan Jawa sekitar 13,1 juta ton.

Namun, Hokkop menegaskan, angka tersebut masih bersifat indikatif karena belum sepenuhnya memperhitungkan aspek teknis, keekonomian, aksesibilitas, serta kesiapan rantai pasok.

Karena itu, diperlukan pemetaan lebih lanjut untuk menentukan potensi yang layak dikembangkan secara teknis dan ekonomis.

Selain untuk program cofiring atau pencampuran biomassa dengan batu bara di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), PLN EPI mendorong pemanfaatan biomassa untuk menghasilkan produk bernilai tambah, seperti biochar, syngas, Compressed Biomethane Gas (CBG), pengelolaan sampah, hingga biohidrogen.

Dalam pengembangan biohidrogen, biomassa dapat dikonversi melalui proses gasifikasi untuk menghasilkan syngas.

Gas tersebut kemudian dimurnikan guna menghasilkan hidrogen dengan tingkat kemurnian tinggi yang berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan industri maupun rantai pasok energi rendah karbon.

Adsense

Meski memiliki potensi besar, Hokkop menilai pengembangan biohidrogen tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan bahan baku dan teknologi. Kepastian regulasi, keekonomian, investasi, serta terbentuknya pasar juga menjadi faktor penting untuk mendorong pengembangan menuju skala komersial.

Baca juga : PLN EPI Perkuat Ekosistem Biomassa Desa untuk Dukung Cofiring

Ia mencontohkan pengembangan biomassa untuk program cofiring yang telah didukung kebijakan dan mekanisme harga sehingga memberikan kepastian bagi pelaku usaha dalam membangun rantai pasok.

Sementara itu, pengembangan CBG dan hidrogen masih membutuhkan penguatan kerangka regulasi dan model bisnis.

“Jadi pekerjaan rumah terbesar kalau kita ingin mengembangkan pemanfaatan biohidrogen adalah memastikan adanya dasar hukum. Saat ini, regulasi untuk pengembangannya masih perlu didorong,” kata Hokkop.

Untuk membangun ekosistem tersebut, PLN EPI memetakan sejumlah skema kerja sama, mulai dari penyediaan bahan baku biomassa, pembelian hidrogen dari mitra produsen, hingga investasi bersama dalam pembangunan fasilitas produksi.

Setiap skema akan dievaluasi berdasarkan kesiapan teknologi, keekonomian, ketersediaan bahan baku, dan kebutuhan pasar.

PLN EPI juga menjajaki kolaborasi dengan mitra internasional untuk mengembangkan teknologi dan memperluas pasar.

Penjajakan tersebut mencakup pengembangan biohidrogen untuk electro-sustainable aviation fuel (e-SAF) bersama eFuels SEA Singapore serta kajian pengembangan biohidrogen dan amonia hijau bersama CISRI Hypore China.

Baca juga : PLN EPI Bidik 60,6 Juta Ton Potensi Biomassa untuk Transisi Energi

Pengembangan hidrogen menjadi bagian dari peta jalan bisnis bioenergi PLN EPI hingga 2030.

Pada 2026, perusahaan berfokus mengkaji pasokan amonia dan hidrogen, yang selanjutnya diarahkan pada pengujian pemanfaatan serta pencampuran hidrogen secara bertahap.

Hokkop mengatakan, pengembangan energi rendah karbon membutuhkan kolaborasi pemerintah, perusahaan, pelaku industri, mitra teknologi, investor, hingga pelaku usaha lokal. Kolaborasi diperlukan untuk menghubungkan potensi sumber daya domestik dengan teknologi, investasi, dan kebutuhan pasar.

“Perubahan zaman dan teknologi tidak bisa kita tolak. Kita harus mengajak berbagai pihak untuk bergerak ke arah tersebut,” ujar Hokkop.

Melalui pengembangan biohidrogen, PLN EPI mendorong pemanfaatan biomassa tidak hanya sebagai bahan bakar, tetapi juga sebagai bahan baku produk energi dengan nilai tambah lebih tinggi.

Dukungan regulasi, teknologi, investasi, dan pasar diharapkan dapat mengoptimalkan potensi biomassa untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense