RM.id Rakyat Merdeka - Memasuki satu abad pengembangan panas bumi, inovasi GeO-Fert Pertamina mengubah ekses uap menjadi pupuk organik. Petani Kamojang pun mampu memanen 70 ton kubis dan menghemat biaya produksi.
Kubis seberat enam kilogram itu tampak menonjol di antara hasil panen lainnya. Ukurannya hampir dua kali lipat dibandingkan kubis lokal yang rata-rata berbobot sekitar tiga kilogram.
Bagi petani di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, kubis berukuran besar tersebut menjadi penanda keberhasilan sebuah inovasi yang mereka kembangkan bersama.
Dari lahan seluas sekitar 1,2 hektare, Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang berhasil memanen sekitar 70 ton kubis varietas Granova sepanjang September 2026.
Hasil penjualannya mencapai sekitar Rp78 juta. Tak hanya memperoleh hasil panen yang menggembirakan, petani juga mampu menghemat biaya pembelian pupuk sekitar Rp20 juta. Ada sesuatu yang berbeda di balik keberhasilan tersebut.
Pupuk yang digunakan bukan semata-mata produk yang dibeli dari luar. Sebagian berasal dari pengolahan limbah organik yang proses pengeringannya memanfaatkan panas bumi.
Energi yang selama ini dikenal sebagai sumber pembangkit listrik ternyata menyimpan manfaat lain bagi kehidupan masyarakat.
Di Kamojang, panas dari perut bumi ikut menyuburkan lahan pertanian dan membuka peluang bagi petani untuk lebih mandiri.
Inovasi itu bernama Geothermal Organic Fertilizer (GeO-Fert), pupuk organik yang dikembangkan melalui kolaborasi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang bersama masyarakat setempat.
Bagi para petani, GeO-Fert bukan sekadar inovasi teknologi. Di baliknya, ada harapan untuk mengatasi persoalan biaya produksi, memanfaatkan sumber daya di sekitar desa, dan menjaga keberlanjutan pertanian.
Seabad Panas Bumi, Manfaat yang Terus Berkembang
Keberhasilan petani Kamojang memanfaatkan GeO-Fert hadir pada momentum penting perjalanan energi panas bumi Indonesia.
Kamojang merupakan salah satu tonggak sejarah pengembangan panas bumi nasional. Pengeboran sumur panas bumi di kawasan ini telah dilakukan sejak 1926 pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Satu abad kemudian, panas bumi tidak hanya menjadi bagian penting dalam penyediaan listrik nasional, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan energi untuk berbagai kegiatan produktif masyarakat.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan, perjalanan satu abad panas bumi Kamojang menjadi momentum penting untuk melihat kontribusi energi tersebut bagi masa depan Indonesia.
"Jadi momen di mana perjalanan panas bumi sudah satu abad. Ditandai dengan pengeboran sumur tahun 1926 oleh Belanda. Panas bumi menjadi bagian strategis pengembangan energi Indonesia ke depan," jelas Ahmad Yani belum lama ini.
Menurut Ahmad Yani, panas bumi memiliki keunggulan dibandingkan sejumlah sumber energi bersih lainnya karena mampu menghasilkan listrik secara berkelanjutan selama 24 jam tanpa bergantung pada cuaca maupun musim.
Karakteristik tersebut menjadikan panas bumi sebagai energi baseload, yakni sumber pasokan listrik yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan secara terus-menerus.
Baca juga : Pertamina Bantu Warga Raup Cuan Ratusan Juta
"Produksi tahun ini kita akan segera mencatatkan all time high dalam performance produksi. Inilah pembuktian geotermal tidak dipengaruhi mesin. Kita energi base load," jelas dia.
Di wilayah kerja Kamojang, PGE mengoperasikan lima unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang 235 megawatt (MW). Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) tersebut memasok listrik bagi lebih dari 26.000 keluarga.
Sepanjang 2025, produksi listrik PLTP Kamojang mencapai 1.806,41 gigawatt hour (GWh), tertinggi di antara seluruh wilayah kerja panas bumi PGE. Namun, manfaat panas bumi di Kamojang kini tidak berhenti pada produksi listrik.
Di tengah perjalanan satu abad pengembangannya, energi dari perut bumi tersebut mulai dimanfaatkan untuk menjawab persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, salah satunya kebutuhan pupuk bagi petani.
Ketika Panas Bumi Menjawab Persoalan Petani
Pertanian telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kamojang. Namun, seperti petani di berbagai daerah lainnya, mereka menghadapi tantangan berupa biaya produksi, termasuk kebutuhan pupuk.
Selain itu, pengolahan pupuk organik secara konvensional juga tidak selalu mudah. Kondisi geografis dataran tinggi dengan kelembapan udara yang relatif tinggi membuat proses pengeringan membutuhkan waktu panjang.
Dalam kondisi tertentu, proses tersebut bisa berlangsung hingga 14 hari. Persoalan itu kemudian menemukan jalan keluar melalui pemanfaatan energi panas bumi.
PGE Area Kamojang mengembangkan GeO-Fert dengan memanfaatkan ekses uap dari PLTP Kamojang yang memiliki suhu sekitar 60–70 derajat Celsius.
Panas tersebut digunakan untuk mempercepat proses pengeringan pupuk organik. Hasilnya, proses yang sebelumnya membutuhkan waktu hingga sekitar dua pekan kini dapat diselesaikan hanya dalam waktu sekitar 12 jam.
Perubahan waktu pengeringan tersebut menjadi salah satu kunci efisiensi produksi pupuk. Limbah organik yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal kini dapat diolah menjadi produk yang kembali berguna bagi pertanian.
Inilah wajah lain pemanfaatan panas bumi yang dikenal dengan konsep Beyond Electricity. Energi panas bumi tidak hanya digunakan untuk menghasilkan listrik, tetapi juga dikembangkan agar memberikan nilai tambah bagi kehidupan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho mengatakan, keberhasilan petani memanen 70 ton kubis menjadi kebanggaan tersendiri, terlebih bertepatan dengan peringatan satu abad pengembangan panas bumi nasional.
“Pencapaian teman-teman petani dalam memanen 70 ton kubis varietas Granova menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami, terlebih di tahun ketika kita memperingati satu abad pengembangan panas bumi nasional. Selama ini, panas bumi memang lebih dikenal sebagai sumber listrik. Namun lewat GeO-Fert, panas bumi juga hadir untuk membantu masyarakat mengolah limbah organik menjadi produk yang bisa kembali dipakai untuk bertani. Itulah semangat Beyond Electricity yang terus kami dorong, supaya manfaat panas bumi bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya, dalam Keterangan tertulis yang diterima Rakyat Merdeka, Jumat (2/10/2026).
Dalam budidaya kubis tersebut, sekitar 30 ton GeO-Fert diaplikasikan pada lahan seluas 1,2 hektare. Pupuk organik padat diberikan sebelum penanaman, sedangkan pupuk organik cair diaplikasikan secara berkala setiap 15 hari selama masa budidaya. Namun, keberhasilan inovasi ini tidak hanya terletak pada teknologi pengeringan.
Keterlibatan masyarakat dalam proses produksi hingga pemanfaatan pupuk menjadi bagian penting dari upaya membangun kemandirian petani.
Ketua KTH Cikondang Kamojang Asep Muhamad Deni mengatakan, GeO-Fert memberikan pengalaman baru bagi masyarakat dalam memandang dan memanfaatkan limbah.
“Manfaat dari GeO-Fert ini bukan cuma bisa memproduksi pupuk sendiri, tapi juga melihat limbah yang tadinya tidak terpakai bisa dimanfaatkan kembali untuk lahan. Dari sana, pupuk GeO-Fert bisa membantu menyuburkan tanah dan mendukung hasil panen para petani.”
Baca juga : Pertamina Trans Kontinental Raih Dua Penghargaan Human Capital Awards 2026
Bagi Asep dan kelompoknya, kemampuan memproduksi pupuk sendiri menjadi modal penting untuk mengembangkan pertanian.
Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat program, tetapi juga terlibat dalam proses penciptaan nilai tambah dari sumber daya yang tersedia di lingkungan mereka.
Bukan Hanya Kubis, Ada Harapan dari Kentang
Keberhasilan panen kubis bukanlah cerita pertama tentang manfaat GeO-Fert bagi petani Kamojang.
Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya April 2026, PGE Area Kamojang bersama masyarakat menggelar Panen Raya Kentang GeO-Fert melalui program HAREPAN (Panen Hasil Bumi dari Aplikasi Pupuk GeO-Fert).
Dari lahan sekitar 4.200 meter persegi, produktivitas kentang dengan aplikasi GeO-Fert mencapai 7.581 kilogram.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan lahan dengan metode konvensional yang menghasilkan sekitar 4.525 kilogram.
Selisih produktivitas mencapai lebih dari 3.000 kilogram. Dari sisi biaya, penggunaan GeO-Fert juga membantu menekan pengeluaran petani.
Biaya produksi kentang yang sebelumnya sekitar Rp 73,1 juta per tahun turun menjadi sekitar Rp 49,5 juta per tahun. Artinya, terdapat penghematan sekitar Rp 23,5 juta per tahun.
Hasil tersebut memperlihatkan potensi pemanfaatan GeO-Fert untuk berbagai komoditas pertanian. Selain kubis dan kentang, pupuk organik tersebut kini juga digunakan dalam budidaya cabai, tomat, dan labu siam.
Petani kubis Hendro Gunawan menilai, pertanian saat ini membutuhkan keterbukaan terhadap inovasi. Pengalaman turun-temurun tetap penting, tetapi harus berjalan beriringan dengan pemanfaatan teknologi dan sumber daya yang tersedia.
“Tantangan pertanian sekarang adalah bagaimana kita bisa bersahabat dengan lingkungan dan memanfaatkan sumber daya yang ada. Kita perlu terus membuka mata dan berinovasi. Kolaborasi panas bumi dengan pertanian menjadi salah satu contoh nyata. Jadi, pertanian bukan hanya soal pengetahuan turun-temurun, tetapi juga tentang inovasi, hasil, dan bukti nyata,” ujarnya.
Bagi petani, hasil panen yang meningkat dan biaya produksi yang lebih efisien menjadi alasan untuk terus mengembangkan inovasi tersebut.
Lebih jauh, pemanfaatan pupuk organik juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk membangun praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.
Dari Energi Bersih Menuju Kemandirian Desa
Cerita GeO-Fert merupakan bagian dari upaya yang lebih luas dalam mengembangkan potensi energi bersih untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
Di Kamojang, pengembangan tersebut terintegrasi dalam program Desa Energi Berdikari (DEB) Kanyaah. Ekosistem ini turut diperkuat dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mandiri berkapasitas 6,6 kilowatt peak (kWp) dan baterai berkapasitas 20 kilowatt hour (kWh).
Melalui pengembangan tersebut, energi bersih, pengelolaan limbah, dan kegiatan ekonomi produktif masyarakat diupayakan saling terhubung.
Manfaatnya juga mulai terlihat pada berbagai produk olahan masyarakat. Dalam kegiatan HAREPAN yang digelar PGE Area Kamojang sepanjang September 2026, Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi Gayatri Lestari Kamojang memperkenalkan keripik hasil bumi.
Baca juga : PGAS Solution dan Direktorat Metrologi Perkuat Akurasi Pengukuran Gas
Sementara itu, Kelompok GCP mengembangkan teh daun kopi dengan bantuan alat pengering atau dehydrator.
Di sektor perikanan, Kelompok Budidaya Ikan Mekarjaya Kamojang mengembangkan produk ikan asin dan pakan ikan yang dikeringkan menggunakan Geothermal Dry House.
Beragam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pemanfaatan energi panas bumi memiliki peluang untuk dikembangkan lintas sektor.
Tidak hanya mendukung kebutuhan listrik, energi bersih juga dapat membantu proses produksi, pengolahan hasil pertanian, hingga pengembangan usaha masyarakat.
General Manager PGE Area Kamojang Albertus Novi Purwono mengatakan, program HAREPAN memperlihatkan bagaimana pemanfaatan panas bumi dapat terhubung langsung dengan kebutuhan masyarakat.
“Hari ini, kita melihat bagaimana energi panas bumi dapat terhubung dengan pengelolaan limbah organik dan pertanian hingga menghasilkan panen yang memberikan nilai tambah bagi petani. Panen kubis ini menjadi bukti bahwa inovasi yang dikembangkan bersama masyarakat dapat terus tumbuh dan memberikan manfaat nyata bagi produktivitas maupun efisiensi usaha tani,” ujarnya belum lama ini.
Kepala Desa Laksana UU Budiman juga menyampaikan apresiasi atas manfaat yang dirasakan masyarakat melalui pengembangan GeO-Fert.
“Alhamdulillah, kami merasakan manfaat yang sangat baik dari pupuk GeO-Fert. Terima kasih kepada PT Pertamina Geothermal Energy yang telah membantu masyarakat Desa Laksana. Semoga program ini terus berlanjut dan PGE semakin maju dan sukses,” katanya.
Bagi masyarakat Desa Laksana, keberhasilan GeO-Fert bukan semata-mata tentang teknologi pengeringan pupuk atau besarnya angka hasil panen.
Lebih dari itu, program ini membuka cara pandang baru bahwa sumber daya di sekitar mereka dapat dimanfaatkan untuk menjawab persoalan sehari-hari.
Seabad setelah pengeboran sumur panas bumi pertama di Kamojang, manfaat energi dari perut bumi itu kini semakin beragam.
Jika dahulu panas bumi lebih dikenal sebagai sumber pembangkit listrik, kini energinya ikut mengambil bagian dalam mengembangkan pertanian dan menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat.
Di kebun-kebun Desa Laksana, perubahan itu terlihat dari kubis-kubis yang tumbuh besar, hasil panen yang mencapai puluhan ton, serta biaya produksi yang dapat ditekan.
Dari panas bumi, tumbuh harapan baru bagi petani. Bahwa energi bersih tidak hanya mampu menerangi rumah dan menggerakkan industri, tetapi juga dapat menyuburkan tanah, menciptakan nilai tambah dari limbah, dan memperkuat kemandirian masyarakat.
Sebab, keberhasilan transisi energi pada akhirnya bukan hanya diukur dari besarnya listrik yang dihasilkan, melainkan juga dari seberapa jauh manfaatnya dapat dirasakan oleh manusia dan lingkungan di sekitarnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.