Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sumbang Mesin Pengolah Sampah Jadi Pupuk & Pakan Ternak
Pertamina Bantu Warga Raup Cuan Ratusan Juta
Sabtu, 31 Oktober 2026 06:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Bank Sampah Cemara 001 di Koja, Jakarta Utara, membuktikan sampah bisa menjadi sumber nilai ekonomi bagi masyarakat. Melalui pengolahan sampah organik, budidaya ikan dan perkebunan di kawasan Gang Cemara Hijau 1 menghasilkan nilai ekonomi sirkular hingga Rp 200 juta per tahun.
Kesuksesan menjaga lingkungan hingga meraih Kalpataru Tahun 2023, tak membuat Ketua Kelompok Pengelola Bank Sampah Gang Cemara Hijau 1, Dani Arwanto (52 tahun) puas diri. Dengan berbagai prestasi yang sudah ia terima, Dani tetap memilih konsisten menyibukkan diri setiap hari di Bank Sampah Cemara 001 yang ia dirikan bersama pengurus RT di RW 001 Gang Cemara Hijau 1, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara.
Sebagai informasi, persoalan sampah di Jakarta menjadi fokus pembenahan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Sejak 1 Agustus 2026, program pilah sampah dari rumah digencarkan.
Program ini dilakukan untuk mengurangi jumlah sampah yang dikirim ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat.
Persoalan sampah tersebut justru tak menjadi masalah bagi Dani Arwanto. Saat ditemui di Bank Sampah Cemara 001 pada Agustus 2026 lalu, Dani terlihat sedang sibuk menyortir sampah organik dan anorganik dari warga yang sudah diletakkan di bank sampah.
Sampah organik diolah menggunakan beberapa mesin untuk diubah menjadi pelet pakan ternak dan komposter.
Setiap sampah organik yang masuk dari masyarakat, sudah tak perlu lagi diangkut keluar lingkungan. Semua pengolahan dengan alat ini sudah menghasilkan produk yang bisa dipakai untuk pakan ternak.
Meski saat itu dia bekerja seorang diri, Dani terlihat enjoy dan happy. Pergerakannya perlahan namun pasti.
Dia bercerita, bahwa mesin-mesin pencacah sampah untuk membentuk pelet atau komposter ini adalah pemberian PT Pertamina Lubricants. Pemberian mesin dilakukan secara bertahap.
Diawali pada 2022, pemberian mesin berlangsung dari Pertamina hingga tahun ini. Mesin baru dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 4000 Watt sudah terpasang di atas atap Bank Sampah tersebut.
Kawasan Gang Cemara Hijau 1 ini tak hanya memiliki bank sampah saja, melainkan sebuah gang dengan konsep hijau. Memiliki green house anggur, peternakan ikan hingga sebuah sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Alhasil, apa yang menjadi hasil pengolahan sampah organik akan kembali lagi ke lingkungan. Pelet akan diberikan ke ikan-ikan. Sementara kompos akan digunakan untuk tanaman anggur dan lainnya. Hasil peternakan dan perkebunan akan dimanfaatkan untuk masyarakat.
Baca juga : Suaranya Serak, Trump Pilih Kampanye Virtual
Dani menjelaskan, kegiatan pengelolaan lingkungan berbasis komunitas tersebut juga memberikan hasil nyata bagi masyarakat.
Budidaya buah dan ikan menghasilkan produksi pangan lokal sekitar 1 ton-1,5 ton per tahun.
Dari sisi ekonomi sirkular, Bank Sampah, maggot, dan Bengkel Sampah tercatat memberikan nilai ekonomi bagi komunitas sekitar Rp 150 juta-Rp 200 juta per tahun.
Hasil penjualan tersebut kemudian dikelola kembali untuk pembelian bibit ikan, kegiatan lingkungan, serta biaya operasional. Pasalnya, pengelolaan lingkungan di kawasan tersebut tidak membebankan iuran bulanan kepada warga.
Teriknya udara Jakarta Utara siang itu seakan tidak terasa saat memasuki di Gang Cemara Hijau 1. Hampir tiap rumah di gang itu dihiasi tanaman yang tumbuh di depan rumah. Kehadirannya sukses membuat suasana lebih asri dan sejuk di tengah panasnya udara perkotaan.
Belum lagi, di area green house-nya, ada gemercik air di kolam ikan, ditambah rangkaian pohon anggur di bagian atas. Suasananya seperti bukan di utara Jakarta.
Bagi Dani, transformasi saat ini bukan hanya soal lingkungan yang berubah, namun pola hidup bermasyarakat juga turut berubah. Kepedulian terhadap pengolahan sampah, menjaga lingkungan hingga keberlanjutan alam dari lingkungan terdekat.
Hampir di setiap sudut gang ini pun ada logo PT Pertamina Lubricants, termasuk di Bank Sampah dan Green House.
Dani mengatakan, bahwa Pertamina Lubricants datang sebagai tetangga yang peduli dan memiliki visi yang sama untuk membangun lingkungan dan sosial di Jakarta Utara.
Pemberian berbagai mesin pencacah terus dirasakan manfaatnya hingga saat ini. Hal nyata yang dirasakan adalah soal merosotnya jumlah sampah yang keluar dari wilayah tersebut. Jika sebelumnya jumlah sampah yang dihasilkan mencapai belasan ton per hari untuk satu RW, saat ini jumlahnya berkurang jauh dari angka tersebut.
Sampah organik sudah diselesaikan dari hulunya. Langsung dari pintu-pintu rumah warga. Setiap pagi, warga terbiasa menggantungkan kantong sampah organik yang telah dipilah untuk diambil petugas, lalu diolah menjadi pelet pakan ternak dan komposter tersebut.
Selain itu, pemberian PLTS berkapasitas 4.000 watt dari Pertamina ini pun memberikan manfaat. Mesin-mesin pencacah di Bank Sampah Cemara 001 berputar secara mandiri. Tanpa memerlukan tambahan biaya listrik lagi. Semua sudah bisa ter-cover oleh PLTS tersebut.
Baca juga : AC Milan Vs Inter Milan, Mengincar Takhta Tetangga
Namun, Dani menyadari, bahwa tantangan terbesar menjaga lingkungan adalah pada sumber daya manusianya. Rasa malas juga terkadang hadir di tengah masyarakat.
Bisa saja hari ini rajin memilah sampah, besok sudah tidak dipilah lagi. Untuk itu, Dani bersama pengurus RT saat ini terus menggelorakan semangat menjaga lingkungan. Termasuk kepada warga yang baru tinggal di lingkungan tersebut.
Tak sampai di situ, Dani mulai mengajak generasi muda untuk turut aktif dengan berbagai kegiatan. Misalnya dengan Kampung Pramuka se-Jakarta Utara.
Sementara itu, beberapa pengurus Karang Taruna juga mendapatkan tugas di bengkel khusus. Bengkel ini mengusung “tukar sampah dengan oli”.
Ini juga termasuk dukungan Pertamina Lubricants di wilayah tersebut. Jadi, setiap warga yang menyetorkan sampah ke bank sampah tersebut, akan mendapatkan uang atau poin yang dikumpulkan. Nanti jika sudah memenuhi syarat, bisa ditukarkan dengan satu liter oli.
Meski sudah meraih Kalpataru tahun 2023, Dani terus aktif menggerakkan warga. Bagi dirinya, menjaga lingkungan adalah panggilan hati.
“Saya siap membantu wilayah lain yang datang ke sini, atau saya diminta datang ke sana,” ujarnya sambil senyum.
Harapan terbesarnya, suatu saat nanti Gang Cemara Hijau 1 ini akan menjadi wilayah wisata hijau atau wisata edukasi.
Menurut Dani, dengan semakin banyak orang yang mengetahui sistem bank sampah di tempatnya, akan semakin banyak wilayah hijau dan persoalan sampah di Indonesia akan cepat teratasi.
Dia mengungkapkan, selama ini sudah banyak orang yang hadir ke tempatnya. Bukan hanya dari Pulau Jawa saja, melainkan dari berbagai wilayah di luar Pulau Jawa.
“Belum lama ada kunjungan dari warga Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Mereka mau belajar cara olah sampah di sini,” ungkap Dani.
Dihubungi terpisah, Staff Senior Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina Lubricants Asep Saputra menjelaskan, lokasi Gang Hijau Cemara masih termasuk dalam ring 1 Pertamina Lubricants, khususnya Production Unit Jakarta.
Baca juga : Jakarta Targetkan 2028 Neraca Sampah 0 Persen
“Selain itu, program green house Cemara juga sesuai dengan kriteria program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Lubricants kategori lingkungan,” ujar Asep Saputra kepada Rakyat Merdeka, Senin (19/10/2026).
Asep menjelaskan, PT Pertamina Lubricants telah melakukan pendampingan sejak 2022 dan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pada 2023.
Dia menjelaskan, Program Pertamina Lubricants tidak hanya di Bank Sampah Cemara saja, tetapi dalam satu kesatuan.
“Yakni di Program Kampung Iklim Gang Hijau Cemara RW 01,” ucapnya.
Mengenai bantuan PLTS 4000 Watt yang terpasang di Bank Sampah, Asep menjelaskan, hal tersebut merupakan sinergi dengan program energi hijau dan menuju program desa energi berdikari.
Sementara itu, dalam hal lingkungan dan berkelanjutan, nilai yang ditanamkan dan dilakukan oleh Pertamina Lubricants sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs).
“Khususnya SDGs Nomor 3 tentang kesehatan, Nomor 13 tentang perubahan iklim, dan Nomor 8 tentang pekerjaan yang layak,” jelasnya.
Asep pun menjelaskan, pihaknya sangat mendukung langkah penghijauan atau keberlanjutan lingkungan. Salah satunya pilah sampah yang menjadi gerakan Pemprov DKI Jakarta.
“Kami sangat support program tersebut. Hal itu bisa dilihat dari peralatan yang diberikan untuk pengelolaan sampah (di Bank Sampah Cemara 1), khususnya organik. Sinergi juga dilakukan untuk sebagian pengelolaan sampah organik/anorganik dari Production Unit Jakarta,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya