BREAKING NEWS
 

Arunala Ungkap Bisnis Perawatan Lansia Punya Prospek Cerah

Reporter : BOY SAKTI HAPSORO
Editor : FAQIH MUBAROK
Sabtu, 31 Oktober 2026 16:04 WIB
Dialog Kebijakan Perawatan Lansia yang digelar dalam rangka menyambut Hari Lanjut Usia Internasional 2026. Foto: Arunala

RM.id  Rakyat Merdeka - Sektor ekonomi perawatan (care economy) di Indonesia menyimpan peluang bisnis besar seiring meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (lansia). Namun, keterjangkauan harga masih menjadi tantangan utama dalam mengembangkan pasar layanan perawatan lansia.

Kajian terbaru Arunala Institute and Foundation Indonesia mengungkapkan, sebanyak 74 persen keluarga di perkotaan hanya mampu mengalokasikan anggaran di bawah Rp 3 juta per bulan untuk membiayai perawatan lansia.

Temuan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara harga layanan dan daya beli masyarakat. Panti lansia swasta dengan tarif Rp 4,5 juta hingga Rp 8,5 juta per bulan, misalnya, memiliki tingkat keterisian rata-rata hanya 60 persen. Sebaliknya, fasilitas dengan tarif sekitar Rp 1,5 juta per bulan mampu beroperasi dengan kapasitas penuh.

Temuan ini dipaparkan dalam Dialog Kebijakan Perawatan Lansia yang digelar dalam rangka menyambut Hari Lanjut Usia Internasional 2026.

Arunala menilai, rendahnya tingkat keterisian sejumlah panti lansia swasta bukan disebabkan minimnya kebutuhan pasar, melainkan keterbatasan daya beli masyarakat.

Baca juga : Panti Lansia Publik Overkapasitas 144 Persen, Arunala Dorong Integrasi Perawatan

Karena itu, pelaku industri layanan kesehatan, pengembang senior living, dan investor didorong mengubah strategi bisnis dengan menghadirkan layanan perawatan harian atau bulanan (day care/care centre) yang lebih fleksibel dan terjangkau.

Model tersebut dapat menjadi pintu masuk sebelum mengembangkan fasilitas hunian lansia jangka panjang (residential live-in). Kajian cepat mengenai kemauan dan kemampuan membayar (willingness to pay/WTP dan ability to pay/ATP) yang dilakukan Arunala terhadap keluarga di perkotaan memperlihatkan bahwa daya beli masyarakat sangat menentukan pilihan layanan perawatan lansia.

Untuk layanan day care dasar dengan tarif Rp 1,5 juta per bulan, sebanyak 72 persen responden menyatakan bersedia membayar. Namun, ketika tarif meningkat menjadi Rp 2,4 juta per bulan dengan tambahan aktivitas sosial, tingkat kesediaan membayar turun menjadi 45 persen.

Sementara itu, layanan day care dengan tambahan pemeriksaan kesehatan bertarif Rp 3,2 juta per bulan hanya diminati 26 persen responden. Adapun layanan residential live-in penuh dengan tarif Rp 8 juta per bulan hanya memperoleh tingkat kesediaan membayar 25 persen.

Penurunan kesediaan membayar sebesar 27 poin persentase ketika tarif naik dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 2,4 juta per bulan memperlihatkan sensitifnya pasar terhadap perubahan harga. Untuk menutup kebutuhan biaya perawatan, sebanyak 62 persen keluarga mengandalkan skema patungan antar-saudara kandung (cost pooling).

Baca juga : BAZNAS-PNM Luncurkan Program Lansiapreneur, Dorong Lansia Tetap Produktif

Direktur Eksekutif Arunala Institute Indonesia Dyah Larasati mengatakan, pasar perawatan lansia di Indonesia bukan kekurangan permintaan, melainkan menghadapi ketidaksesuaian antara desain produk dan kemampuan finansial konsumen.

"Pasar perawatan lansia di Indonesia bukan kurang permintaan, melainkan mengalami kesenjangan antara desain produk dan daya beli konsumen. Mengembangkan fasilitas senior living berbiaya terjangkau dapat memperbesar potensi pasar dan bisnis pengembangan ekosistem lansia," ujar Dyah.

Menurutnya, pengembang swasta dapat memfokuskan investasi pada layanan perawatan berbasis komunitas melalui care centre. Selain menyediakan unit hunian lansia, pelaku usaha juga dapat menawarkan paket perawatan dan aktivitas yang mendukung kehidupan aktif para lansia.

Riset Arunala juga mengidentifikasi pergeseran karakter konsumen, khususnya di kawasan perkotaan Jabodetabek. Kelompok usia 40-50 tahun atau generasi sandwich mulai menjadi segmen potensial pasar perawatan lansia.

Adsense

Mereka tidak hanya memikirkan kebutuhan orang tua, tetapi juga mulai merencanakan fasilitas perawatan untuk masa tua mereka sendiri. Sebanyak 91 persen responden perkotaan menyatakan terbuka untuk memanfaatkan care centre jika dibutuhkan.

Baca juga : Bappenas Ingin Lansia Mandiri & Produktif

Sementara itu, 95 persen menilai penggunaan fasilitas perawatan lansia tidak bertentangan dengan nilai agama dan keluarga selama anak tetap terlibat dalam proses pengasuhan.

Mayoritas responden dewasa berusia 40-an juga mulai mencari alternatif senior living atau day care untuk menjaga kemandirian fisik, memperoleh interaksi sosial dengan kelompok sebaya, serta mengurangi beban pengasuhan anak di masa depan.

Adapun faktor yang mendorong konsumen bersedia membayar lebih mahal meliputi keberadaan tenaga pendamping profesional bersertifikat atau caregiver (68 persen), pemantauan kesehatan rutin (58 persen), dan fasilitas kenyamanan (37 persen).
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense