Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Pertamina Buka Akses Digital bagi Anak Disabilitas Netra di MotoGP Mandalika
- Kinerja Melesat, Bank Mandiri Buyback Saham Dan Tebar Dividen
- Mbappe Brace, Real Madrid Hajar RB Leipzig
- Jakmania Dilarang Hadiri 6 Laga Tandang, PSSI Sanksi Persija-Persita
- Madura United Vs Persib Bandung, Jadwal Padat Jadi Kendala
Kembangkan Ekonomi Perak
Bappenas Ingin Lansia Mandiri & Produktif
Jumat, 23 Oktober 2026 07:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) melihat pertambahan penduduk lanjut usia (lansia) sebagai peluang pertumbuhan ekonomi baru. Karena itu, Pemerintah menyiapkan desain Ekonomi Perak atau Silver Economy agar lansia tetap produktif, mandiri dan berdaya.
Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard menilai, bertambahnya jumlah penduduk lansia membawa tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia. Selain menuntut penguatan sistem perlindungan sosial dan kesehatan, kondisi ini juga membuka peluang investasi, lapangan kerja dan pengembangan industri baru.
“Penuaan penduduk adalah kenyataan demografi. Tapi apakah penuaan menjadi beban atau peluang, itu akan sangat bergantung bagaimana kita mempersiapkan diri,” kata Febrian dalam acara peluncuran buku Muda Menata, Tua Berdaya dan Kick Off Pengembangan Desain Ekonomi Perak Indonesia di Kantor Bappenas, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Febrian mencontohkan Jepang yang melihat penuaan penduduk sebagai peluang ekonomi. Negara tersebut mengembangkan berbagai sektor usaha untuk memenuhi kebutuhan lansia. Sektor itu mencakup kesehatan, teknologi pendukung kemandirian, dan layanan perawatan profesional. Jepang juga mengembangkan produk dan jasa khusus bagi lansia.
Febrian mengatakan, Indonesia telah memasuki era aging society atau masyarakat menua. Pada 2050, jumlah penduduk berusia 65 tahun ke atas diproyeksikan mencapai 50 juta orang. Angka tersebut setara dengan 16 persen dari total populasi Indonesia.
Menurutnya, proyeksi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak memiliki banyak waktu untuk menyiapkan sistem kelanjutusiaan. Karena itu, peringatan Hari Lanjut Usia Internasional 2026 yang dirangkaikan dengan peluncuran buku menjadi momentum penting untuk menempatkan isu kelanjutusiaan sebagai bagian dari strategi pembangunan.
“Umur panjang merupakan keberhasilan pembangunan. Namun, membawa tanggung jawab baru. Kita harus memastikan bahwa bertambahnya usia juga diikuti dengan meningkatnya kualitas kehidupan,” ujarnya.
Baca juga : Masayu Anastasia, Didoakan Rujuk Dengan Lembu
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Febrian memaparkan tiga agenda utama yang perlu menjadi perhatian dalam pembangunan kelanjutusiaan di Indonesia.
Pertama, membangun sistem kelanjutusiaan yang terintegrasi. Menurutnya, layanan kesehatan, jaminan pendapatan, perawatan jangka panjang, perumahan, dan partisipasi sosial tidak bisa lagi ditangani secara terpisah.
Pemerintah perlu memperkuat jaminan sosial, mengembangkan layanan perawatan berbasis keluarga dan komunitas, serta memastikan tersedianya lingkungan yang aman dan ramah bagi lansia. Regulasi, kelembagaan dan tata kelola data juga perlu diperkuat agar kebijakan yang disusun benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Kedua, menjadikan Ekonomi Perak sebagai peluang investasi dan pengembangan industri nasional.
Febrian menilai, pemerintah tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan layanan dan infrastruktur kelanjutusiaan secara mandiri. Karena itu, keterlibatan dunia usaha diperlukan melalui pengembangan model bisnis yang inovatif, berkelanjutan, dan layak secara ekonomi.
“Dengan pendekatan demikian, kita tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan, sekaligus membangun industri baru dan menciptakan kesempatan kerja,” jelasnya.
Ketiga, memperluas ruang bagi lansia untuk tetap berpartisipasi dan berkontribusi dalam kehidupan sosial maupun ekonomi.
Baca juga : MSCI Mau Takut-takuti Kita, Prabowo Tidak Gentar
Febrian melihat banyak lansia yang masih memiliki pengalaman, pengetahuan, keterampilan, dan kebijaksanaan yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
“Bertambahnya usia tidak seharusnya berarti berakhirnya kesempatan untuk berkarya,” ucapnya.
Menurutnya, Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang generasi muda yang produktif tetapi juga kemampuan negara memastikan setiap warga dapat menikmati masa tua secara sehat, aman, mandiri, sejahtera dan bermartabat.
“Bangsa yang benar-benar maju harus mampu memberikan kehidupan yang bermartabat bagi generasi tuanya,” ucap Febrian.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Imran Pambudi mengatakan, usia harapan hidup masyarakat Indonesia telah mencapai sekitar 72,4 tahun, sedangkan usia harapan hidup sehat masih di bawah 63 tahun.
“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan usia harapan hidup perlu diikuti upaya menjaga kesehatan dan kemandirian masyarakat hingga usia lanjut,” katanya.
Menurut Imran, persoalan kesehatan lansia juga perlu dilihat dari dampaknya terhadap kehidupan sosial dan ekonomi.
Baca juga : Siswa Mual-Muntah Setelah Minum Susu dan Makan Sayur Telur Puyuh
Di tingkat global, potensi kontribusi ekonomi kelompok usia lanjut disebut mencapai 19 triliun dolar AS dan diproyeksikan meningkat menjadi 34 triliun dolar AS.
Potensi tersebut memperkuat pentingnya pendekatan yang tidak hanya berfokus pada penanganan penyakit, tetapi juga mendorong lansia tetap sehat, aktif, dan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.
“Orang saat ini fokus bukan hanya untuk memperpanjang usia, tetapi bagaimana di usia lanjut tetap aktif dan produktif,” ujarnya. KPJ
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 3, edisi Jumat, 23 Oktober 2026 dengan judul "Kembangkan Ekonomi Perak Bappenas Ingin Lansia Mandiri & Produktif"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya