RM.id Rakyat Merdeka - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) memperkuat hilirisasi komoditas perkebunan melalui pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis kelapa sawit, kelapa, dan kakao. Langkah ini diarahkan untuk menciptakan produk bernilai tambah sekaligus memperluas peluang ekonomi masyarakat di pedesaan.
Pengembangan tersebut dipaparkan dalam Indonesia Villages Expo & Forum (INDOVEX) 2026 di Kota Batu, Jawa Timur, yang berlangsung pada 2–4 November 2026. Dalam kegiatan tersebut, BPDP memperkenalkan enam program unggulan untuk memperkuat ekosistem perkebunan nasional dari hulu hingga hilir.
Kepala Divisi Umum dan SDM BPDP, Adi Sucipto, mengatakan pengembangan perkebunan tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi bahan baku. Diperlukan penguatan sumber daya manusia (SDM), penelitian dan inovasi teknologi, pembangunan sarana-prasarana, promosi, serta pengembangan industri hilir.
“Transformasi tersebut penting agar komoditas perkebunan tidak berhenti diperdagangkan sebagai bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk olahan dengan nilai tambah lebih besar. Pada saat bersamaan, manfaat ekonominya diharapkan menjangkau masyarakat, terutama pekebun dan pelaku UMKM di wilayah sentra perkebunan,” kata Adi di Batu, Senin (3/11/2026).
Adi menjelaskan, mandat BPDP mengalami perluasan setelah terbitnya Peraturan Presiden Nomor 132 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Dana Perkebunan. Regulasi tersebut menggantikan Perpres Nomor 61 Tahun 2015 sebagaimana diubah melalui Perpres Nomor 66 Tahun 2018.
Penguatan kelembagaan juga didukung Peraturan Menteri Keuangan Nomor 6 Tahun 2025 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja BPDP.
Melalui regulasi baru tersebut, cakupan pengelolaan dana perkebunan tidak lagi terbatas pada kelapa sawit, tetapi juga mencakup kakao dan kelapa. BPDP menjalankan fungsi penghimpunan, pengelolaan, dan penyaluran dana untuk mendukung pengembangan ketiga komoditas strategis tersebut.
Adi memaparkan, enam program utama BPDP meliputi peremajaan perkebunan, penelitian dan pengembangan, pengembangan SDM, pembangunan sarana dan prasarana, promosi perkebunan, serta pemenuhan kebutuhan pangan dan bahan bakar nabati melalui pengembangan hilirisasi.
Baca juga : GAPKI Sumut & BPDP Dorong Percepatan Peremajaan Sawit Rakyat
Program peremajaan perkebunan, khususnya Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), diarahkan untuk memperbaiki kondisi kebun dan meningkatkan produktivitas pekebun. Sementara dukungan penelitian dan pengembangan ditujukan untuk menghasilkan inovasi teknologi dari sektor hulu hingga hilir.
Di bidang SDM, BPDP memberikan dukungan pendidikan, pelatihan, penyuluhan, pendampingan, serta peningkatan kapasitas pekebun dan pelaku usaha. Adapun pengembangan sarana-prasarana diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi perkebunan.
Program promosi dilakukan untuk memperkenalkan produk, memperluas jaringan pemasaran, dan membuka akses pasar melalui berbagai kegiatan maupun kerja sama dengan mitra.
Sementara program pemenuhan kebutuhan pangan, bahan bakar nabati, dan hilirisasi diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan dan energi nasional sekaligus mengembangkan industri pengolahan produk perkebunan.
“Melalui enam program tersebut, BPDP berharap komoditas sawit, kelapa, dan kakao tidak hanya menjadi sumber bahan baku industri, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru di daerah. Penguatan UMKM menjadi bagian penting agar nilai tambah perkebunan dapat dinikmati lebih luas oleh masyarakat, terutama di kawasan pedesaan,” jelasnya.
Inovasi Produk Berbasis Sawit dan Kelapa
Potensi hilirisasi perkebunan terlihat dari berbagai inovasi produk yang dikembangkan UMKM binaan BPDP. Kelapa sawit, kelapa, dan kakao kini dapat diolah menjadi produk kerajinan, kosmetik, batik, hingga material industri.
Adi menyebut sejumlah UMKM mitra telah menghasilkan produk inovatif, di antaranya helm komposit dan rompi antipeluru berbasis serat sawit, batik dengan malam berbahan sawit, produk kriya dari tempurung dan pelepah kelapa, kosmetik, hingga cokelat artisan.
Diversifikasi produk tersebut membuka peluang pemanfaatan bahan baku perkebunan yang selama ini lebih banyak diperdagangkan dalam bentuk primer menjadi produk akhir dengan nilai jual lebih tinggi.
Baca juga : PT RPN, BPDP dan Ditjenbun Latih 85 Pekebun Sumut Buat Pupuk Organik
Untuk memperkenalkan hasil inovasi tersebut, BPDP meluncurkan Katalog 100 Produk UKMK Sawit 2025. Katalog ini menjadi sarana promosi berbagai produk UMKM kepada masyarakat, calon konsumen, dan mitra pasar.
Selain promosi, BPDP menerapkan sistem klasterisasi terhadap 86 UMKM mitra yang tersebar di 20 provinsi. Pemetaan dilakukan dalam empat tingkatan berdasarkan kesiapan dan perkembangan usaha.
Klaster I atau subsisten diarahkan pada validasi data dan pemenuhan legalitas usaha. Klaster II atau berkembang difokuskan pada penguatan fondasi bisnis dan kualitas produk.
Selanjutnya, Klaster III atau tumbuh diarahkan untuk mempercepat akses pasar, promosi, dan ekspansi usaha. Sementara Klaster IV atau mapan mendapat dukungan promosi lebih terarah, replikasi model usaha, serta pengembangan kemitraan strategis.
Melalui pengelompokan tersebut, pembinaan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat kesiapan masing-masing pelaku usaha. Dukungan tidak hanya berfokus pada pelatihan dan produksi, tetapi juga penguatan bisnis agar UMKM mampu berkembang secara berkelanjutan.
Digitalisasi Jadi Kunci UMKM Naik Kelas
Selain paparan BPDP, INDOVEX 2026 menghadirkan Suharno, Bidang Media dan Promosi DPP Apkasindo sekaligus Direktur Utama PT Media Hortus Archipelago. Dia memaparkan strategi penguatan kapasitas dan daya saing UMKM melalui tiga fondasi utama, yakni peningkatan omzet dan kapasitas produksi, pemanfaatan teknologi digital, serta pengelolaan usaha secara profesional.
Menurut Suharno, produk berkualitas perlu didukung identitas produk yang kuat, pemasaran luas, pengelolaan keuangan, standar mutu, dan legalitas usaha.
“Untuk memperluas pasar, ada empat pilar pemasaran digital yang perlu dimanfaatkan UMKM, yaitu Google Business, media sosial, e-commerce, serta pembayaran digital melalui QRIS dan dompet elektronik,” ujarnya.
Baca juga : Percepat Peremajaan Sawit Rakyat, BPDP Perkuat Program PSR dan SPPKS
Google Business membantu konsumen menemukan lokasi usaha, sedangkan Instagram dan TikTok dapat dimanfaatkan untuk promosi visual. Marketplace memperluas akses transaksi, sementara QRIS mempermudah pembayaran dan pencatatan keuangan.
Promosi juga perlu diperkuat melalui konten autentik, seperti proses produksi, testimoni pelanggan, dan edukasi mengenai keunggulan produk.
Dari sisi produksi, efisiensi biaya menjadi perhatian, terutama bagi UMKM kuliner. Suharno menyebut minyak sawit memiliki keunggulan karena ketersediaannya melimpah, harga kompetitif, serta produktivitas mencapai sekitar 4,17 ton minyak per hektare per tahun.
Karakteristik minyak sawit yang stabil pada suhu tinggi juga dinilai sesuai untuk kebutuhan pengolahan pangan.
Sinergi pemerintah, asosiasi, dunia usaha, dan komunitas UMKM diharapkan memperkuat hilirisasi perkebunan. Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari pertumbuhan industri pengolahan, tetapi juga peningkatan omzet UMKM, perluasan pasar, inovasi produk, dan penciptaan lapangan kerja.
“Di sinilah peran BPDP menjadi penting, yakni menjembatani potensi besar perkebunan nasional dengan peluang ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Hilirisasi tidak lagi hanya berbicara tentang industri besar, tetapi juga tentang bagaimana nilai tambah komoditas perkebunan dapat tumbuh dari desa, melalui kreativitas dan kemampuan masyarakat mengembangkan usaha,” pungkas Suharno.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.