RM.id Rakyat Merdeka - Hubungan antara kesehatan saluran pencernaan dan sistem pernapasan semakin banyak dikaji dalam penelitian microbiome. Salah satu konsep yang berkembang adalah gut-lung axis, yakni komunikasi biologis yang melibatkan microbiome, sistem imun, metabolit dan organ pernapasan.
Konsep tersebut juga menjadi perhatian dalam penelitian mengenai potensi probiotic sebagai terapi tambahan pada asma. Salah satu penelitian yang dilakukan Divya Balan, Tejaswini Baral, Mohan K. Manu, Aswini Kumar Mohapatra dan Sonal Sekhar Miraj mengevaluasi efektivitas probiotic sebagai terapi tambahan pada pasien asma.
Tim peneliti tersebut antara lain berasal dari Department of Respiratory Medicine, Kasturba Medical College, Manipal Academy of Higher Education.
Dalam penelitian berupa systematic review dan meta-analysis tersebut, peneliti menganalisis 12 randomized controlled trials (RCT) dengan total 1.401 peserta.
Hasil meta-analysis menunjukkan adanya perbaikan skor Asthma Control Test (ACT) setelah peserta mendapatkan suplementasi probiotic. Namun, hasil pada sejumlah parameter lainnya belum menunjukkan temuan yang konsisten.
Baca juga : Yakult Luncurkan Varian Stroberi, Diperkaya Vitamin D
Pooled data untuk fractional exhaled nitric oxide (FeNO) dan jumlah eosinofil tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Salah satu penelitian yang dianalisis juga melaporkan jumlah eksaserbasi asma yang lebih rendah pada kelompok yang mendapatkan probiotic. Namun, durasi eksaserbasi tidak menunjukkan perbedaan.
Penelitian lain berupa meta-analysis yang melibatkan delapan RCT dengan 902 anak juga menemukan hubungan antara pemberian probiotic dan penurunan episode asma akut. Dalam analisis tersebut, probiotic dikaitkan dengan risk ratio sebesar 0,38 serta peningkatan rasio FEV1/FVC.
Meski demikian, para peneliti menekankan adanya heterogenitas dalam hasil penelitian. Mereka juga menyebut perlunya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pengaruh perbedaan strain probiotic, dosis serta durasi pemberian.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara microbiome saluran pencernaan dan kesehatan pernapasan masih menjadi bidang penelitian yang berkembang. Probiotic menjadi salah satu komponen yang banyak diteliti karena potensinya dalam memengaruhi lingkungan microbiome dan respons sistem imun.
Selain probiotic, perhatian mulai diarahkan pada postbiotic. Namun, penelitian mengenai postbiotic untuk kesehatan pernapasan masih berada pada tahap yang lebih awal.
Baca juga : 3 Biotik Dalam Probilab Atasi Maag, GERD Dan Gangguan Pencernaan
Sejumlah review membahas potensi komponen postbiotic dalam memodulasi sistem imun dan inflamasi. Kendati demikian, bukti klinis yang tersedia saat ini dinilai belum cukup untuk menjadikan postbiotic sebagai terapi penyakit paru.
Founder Probilab mengatakan, penelitian mengenai gut-lung axis menunjukkan adanya hubungan yang semakin banyak dipelajari antara kesehatan saluran pencernaan, sistem imun dan sistem pernapasan.
Menurutnya, perkembangan penelitian tersebut menjadi salah satu alasan Probilab mengembangkan dan mengeksplorasi probiotic serta postbiotic.
“Penelitian mengenai gut-lung axis menunjukkan bahwa kesehatan saluran pencernaan dan sistem imun memiliki hubungan yang semakin banyak dipelajari dengan sistem pernapasan,” ujar Founder Probilab.
Ia mengatakan, Probilab menempatkan produk probiotic dan postbiotic sebagai bagian dari upaya pemeliharaan kesehatan, bukan sebagai pengganti terapi untuk penyakit paru.
Baca juga : Yakult Mangga: Inovasi Segar Probiotik yang Diperkuat Filosofi Shirota-ism
“Probilab melihat perkembangan penelitian ini sebagai bagian dari pengembangan dan eksplorasi probiotic serta postbiotic untuk pemeliharaan kesehatan, bukan sebagai pengganti terapi penyakit paru,” ujarnya.
Konsep gut-lung axis sendiri menggambarkan komunikasi dua arah antara saluran pencernaan dan paru-paru. Komunikasi tersebut melibatkan berbagai mekanisme, termasuk interaksi microbiome dengan sistem imun serta metabolit yang dihasilkan mikroorganisme di dalam tubuh.
Perkembangan penelitian di bidang ini membuka peluang untuk memahami lebih jauh bagaimana perubahan komposisi dan aktivitas microbiome dapat berkaitan dengan respons imun di organ lain, termasuk sistem pernapasan.
Namun, temuan mengenai potensi probiotic dan postbiotic masih perlu dilihat berdasarkan kualitas dan hasil masing-masing penelitian. Khusus untuk postbiotic, bukti klinis terkait penggunaannya pada penyakit paru masih terbatas.
Karena itu, pengembangan produk berbasis probiotic dan postbiotic perlu berjalan seiring dengan penelitian lebih lanjut untuk memahami strain, dosis, durasi penggunaan serta kelompok yang dapat memperoleh manfaat.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.