Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - 8 September 2026 hari ini, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) berulang tahun yang ke 53. Kini, kita juga sedang menghadapi dua masalah polusi udara yang besar, yaitu kebakaran hutan dan lahan serta abu vulkanik akibat letusan Gunung Anak Krakatau.
Kejadian kebakaran hutan dan lahan -yang pada dasarnya akibat ulah manusia yang diperburuk dengan keadaan alam- serta erupsi Anak Krakatau -yang sepenuhnya karena alam- kembali mengingatkan kita tentang pentingnya udara bersih dan sehat.
Tentu ada banyak faktor yang mempengaruhi tidak bersihnya udara kita, termasuk tidak terkontrolnya industri, transportasi dll. Udara bersih dan sehat harus jadi prioritas penting kita semua.
Kalau ada makanan atau minuman tercemar maka kita bisa cari pilihan makanan/minuman lain, atau kalau ada sungai yang tercemar maka kita bisa hindari menggunakan air sungai itu. Tetapi, kalau udara yang tercemar maka mau tidak mau kita harus menghisapnya, dan menerima segala dampak buruknya.
Baca juga : Deklarasi Maju Ketum PB PDHI, Mirjawal: PDHI Harus Berdampak Bagi Masyarakat
Selain itu, makan dan minum kan hanya beberapa kali dalam sehari, sementara kalau bernapas maka akan kita lakukan setiap waktu selama 24 jam, tentu dengan segala dampaknya.
Karena itu memang harus ada jaminan udara kita bersih dan sehat. WHO sudah menetapkan rekomendasi yang ketat untuk polusi udara, termasuk PM 2.5 dengan batas tahunan lima mikrogram permeterkubik, PM₁₀, nitrogen dioxide (NO₂), sulfur dioxide (SO₂), carbon monoxide (CO), dan ozone (O₃).
Udara yang tidak bersih juga berhubungan dengan fenomena “climate change” dengan segala masalahnya.
Ada tiga hal utama yang perlu dilakukan. Pertama adalah kebijakan yang berorientasi ke udara bersih. Silahkan beraktifitas dan melakukan pembangunan, tapi pastikan jaminan udara kita tetap bersih sehat.
Baca juga : PDPI Jakarta ke PDPI NTT
Kedua, kalau memang sudah terjadi polusi udara karena apapun penyebabnya maka harus diatasi segera, baik dalam bentuk pemadaman bila ada kebakaran hutan misalnya, ataupun kebijakan pengaturan industri, transportasi dll.
Ketiga, kita anggota masyarakat juga harus memprioritaskan udara bersih dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam hal ini ditekankan untuk jangan merokok, karena merokok adalah polusi yang dibuat sendiri, di hisap sendiri, dan berakibat buruk para diri sendiri dan juga bahkan pada orang disekitar si perokok.
Tentu masalah kesehatan paru bukan hanya polusi udara. Ada infeksi (dari tuberkulosis sampai COVID-19 dan antisipasi pandemi mendatang, ada Asma dan PPOK, ada kanker paru, masalah Imunologi, ada tindakan intervensi pulmonologi, penyakit paru akibat kerja dll,.
Hari ini, ada 1986 Dokter Spesialis Paru di seluruh Indonesia. Tentu jumlahnya belum memadai, dan harus ditambah. Di sisi lain, kami para anggota PDPI juga selalu menjalankan kegiatan peningkatan ilmu untuk dapat melayani bangsa dengan baik. Penelitian-penelitian juga dilakukan di bidang kesehatan paru dan pernapasan, untuk menjawab masalah-masalah yang ada.
Baca juga : PDHI Jabar V Pelopori Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi Dokter Hewan
Secara langsung para Dokter Spesialis Paru bekerja di lapangan, di berbagai penjuru Nusantara, demi kesehatan paru dan pernapasan bangsa kita.
Prof Tjandra Yoga Aditama.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI).
Dokter Spesialis Paru sejak 1988 dan Guru Besar Pulmonologi sejak 2008
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya