Dark/Light Mode
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Pada 1-2 Agustus 2026, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Jawa Barat menyelenggarakan Pertemuan Ilmiah Respirologi (PIR) di Cirebon. Acara ini dihadiri sekitar 280 dokter, tidak hanya dari Jawa Barat, tetapi juga dari sejumlah provinsi di sekitarnya.
Saya menyampaikan plenary lecture pada acara tersebut mengenai berbagai virus penyebab penyakit infeksi paru di dunia serta penanganannya.
Ada delapan penyakit yang saya bahas. Lima di antaranya tercantum dalam Disease Outbreak News WHO sejak Desember 2025 hingga Juli 2026.
Pertama adalah flu burung. Ternyata, jenis virusnya bukan hanya H5N1 yang sudah banyak dikenal, tetapi juga H3N8, H7N4, H7N9, H10N3, dan H10N5. Perlu diketahui pula bahwa angka kematian akibat flu burung tergolong tinggi, yakni mencapai 66,3 persen.
Baca juga : Pengendalian Malaria Di Kepulauan Tanimbar
Kedua adalah influenza musiman (seasonal influenza). Salah satu varian yang belakangan banyak dibahas adalah H3N2 subclade K, yang dikenal masyarakat sebagai “super flu”. Pada pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit dapat diberikan oseltamivir atau peramivir. Yang paling penting dalam pengendalian influenza musiman adalah pemberian vaksin influenza, terutama kepada kelompok berisiko tinggi, seperti lanjut usia.
Ketiga adalah Middle East Respiratory Syndrome (MERS) yang disebabkan oleh virus korona atau MERS-CoV. Tentu virus korona penyebab MERS berbeda dengan virus penyebab Covid-19. Sesuai namanya, penyakit ini berasal dari Jazirah Arab dan ditularkan oleh unta berpunuk satu (dromedary). Hingga kini belum tersedia obat maupun vaksin yang spesifik untuk MERS.
Penyakit keempat adalah Nipah. Penyakit ini pertama kali muncul dari kasus di Desa Sungai Nipah, Malaysia, kemudian menyebar ke Singapura, India, dan Bangladesh. Terdapat dua manifestasi klinis utama, yaitu ensefalitis dan radang paru (pneumonia).
Penyakit kelima adalah infeksi virus Hanta yang belakangan kembali banyak dibahas. Penyakit ini memiliki dua gambaran klinis, yaitu Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS) yang terjadi di Benua Amerika dengan angka kematian hingga 50 persen, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) di Asia dengan angka kematian antara 1 hingga 15 persen.
Baca juga : Dokter Internship Kita Kembali Meninggal
Selain lima penyakit tersebut, saya juga membahas penyakit keenam, yaitu Covid-19. Berdasarkan data global selama 28 hari hingga 5 Juli 2026, masih terdapat penambahan 17.860 kasus Covid-19 di dunia, dengan jumlah terbanyak berasal dari Thailand, yaitu sekitar 9.900 kasus. Pada Juni 2025, WHO telah menerbitkan pedoman terbaru penanganan klinis Covid-19 dalam bentuk living guideline, yang akan terus diperbarui sesuai perkembangan ilmu pengetahuan.
Penyakit ketujuh adalah infeksi Respiratory Syncytial Virus (RSV), yang setiap tahun menyebabkan sekitar 100 ribu kematian di seluruh dunia. Saat ini telah tersedia vaksin RSV dengan efektivitas yang cukup baik.
Penyakit kedelapan adalah infeksi Human Metapneumovirus (HMPV), yang sempat menjadi perhatian di Indonesia maupun China pada awal 2025.
Saya menutup paparan dengan menegaskan bahwa pada masa mendatang sangat mungkin akan terjadi pandemi lagi. Kita hanya belum mengetahui kapan pandemi itu akan terjadi—bisa dalam waktu dekat, bisa juga masih sangat lama—serta penyakit apa yang akan menjadi pemicunya. Jika melihat pengalaman sebelumnya, pandemi selalu berkaitan dengan penyakit paru dan saluran pernapasan atau penyakit yang ditularkan melalui udara (airborne).
Baca juga : Dokter Kita Kembali Meninggal, Amat Menyedihkan
Artinya, bukan tidak mungkin pandemi berikutnya juga berasal dari penyakit yang menular melalui udara dan disebabkan oleh virus. Karena itu, pemahaman mengenai berbagai penyakit akibat virus saluran pernapasan sangat penting, bukan hanya untuk menangani pasien sehari-hari, tetapi juga sebagai bekal dalam mengantisipasi kemungkinan pandemi di masa mendatang.
Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.