RM.id Rakyat Merdeka - Pertumbuhan industri tempe dan tahu saat ini menunjukkan tren positif. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, tantangan utama yang harus dijaga adalah kualitas produksi, efisiensi biaya, serta keberlanjutan rantai pasok bahan baku kedelai.
Sekjen Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Wibowo Nurcahyo mengatakan, salah satu kendala utama para perajin tahu tempe adalah biaya produksi, khususnya energi bahan bakar.
Karena itu, Gakoptindo telah menyiapkan mesin produksi baru yang mampu menghemat energi hingga 52 persen. Mesin tersebut direncanakan akan diluncurkan pada Mei 2026 di Yogyakarta.
“Untuk 2026, Gakoptindo menyusun beberapa program strategis, di antaranya mempersiapkan pabrik tempe tahu yang bersih, higienis, layak, dan hemat energi,” ujar Sekjen Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Wibowo Nurcahyo di Jakarta, Senin (15/12/2025).
Wibowo menambahkan, efisiensi ini diharapkan mendorong peningkatan kapasitas produksi para perajin tanpa harus menaikkan harga jual.
Baca juga : Pemerintah Siapkan Hunian Sementara Korban Bencana
Selain modernisasi pabrik, Gakoptindo juga menyiapkan program penciptaan wirausaha baru produk turunan tempe dan tahu.
Wibowo menilai regenerasi perajin menjadi persoalan serius karena banyak anak perajin yang enggan melanjutkan usaha keluarga. Menurutnya produk turunan kedelai itu jauh lebih menguntungkan.
“Kami ingin menciptakan ekosistem baru, minimal 100 wirausaha baru yang akan dilatih dan dipantau melalui program inkubator,” katanya.
Selain itu, program lain yang menjadi perhatian Gakoptindo berkaitan langsung dengan penyediaan pasokan tempe dan tahu untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Gakoptindo akan menyiapkan pabrik-pabrik yang layak dan memenuhi standar untuk masuk ke rantai pasok MBG.
Baca juga : Banjir dan Longsor Sumatera, Putin Ucapkan Belasungkawa Kepada Prabowo
Sejalan dengan itu, program berikutnya difokuskan pada dukungan terhadap penggunaan kedelai lokal untuk MBG guna mendukung program Asta Cita Presiden Prabowo.
“Kedelai lokal itu non-GMO. Oleh karenanya, bahan baku tempe dan tahu untuk MBG harus yang terbaik. Saat ini pilihannya adalah kedelai lokal,” ujar Wibowo.
Dia menambahkan, produksi kedelai lokal saat ini belum mencukupi. Dalam setahun, kebutuhan kedelai nasional mencapai sekitar 2,9 juta ton, sementara serapan dari kedelai lokal tidak sampai 100 ribu ton.
Wibowo mengungkapkan, di beberapa daerah sudah mulai terjadi kenaikan harga tahu tempe, serta kesulitan pasokan.
“Kalau ini tidak kita kendalikan sejak awal, dan program-program MBG ini terus berjalan hingga 2045, kita berusaha untuk terus menyediakan tahu dan tempe” ucapnya.
Baca juga : TKDN Tinggi, Mobil Hybrid Produksi Lokal Layak Dapat Insentif Lebih
Untuk itu, Gakoptindo mendorong strategi segmentasi pasar kedelai. Kedelai impor diarahkan untuk konsumsi masyarakat umum agar harga tetap terjangkau, termasuk produksi susu kedelai non-GMO.
“Segmentasinya harus jelas supaya tidak saling mengganggu. Susu kedelai untuk MBG pakai lokal, sedangkan kedelai impor untuk pasar umum,” ujarnya.
Dia menambahkan, komunikasi dengan para importir sejauh ini berjalan baik. Gakoptindo, kata dia, berada di posisi menjaga stabilisasi rantai pasok, baik dari serapan kedelai lokal maupun impor.
“Kami ingin semua pihak aman dan nyaman. Kedelai lokal kita fokuskan pada segmen tertentu, impor tetap berjalan, harga dan pasokan aman. Dengan strategi ini, diharapkan kebutuhan dalam negeri tetap bisa terpenuhi,” pungkas Wibowo.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.