RM.id Rakyat Merdeka - Bagi pasangan suami istri Nurjannah (48) atau akrab disapa Ummi Labib dan Dwi Kuncoro (47) yang biasa dipanggil Babah Fina, usaha gado-gado yang mereka jalani saat ini bukan sekadar mata pencaharian biasa.
Hal itu merupakan warisan keluarga yang telah berjalan sejak tahun 1980-an, sekaligus penyelamat ekonomi keluarga di saat masa-masa sulit. Usaha mereka bermula pada tahun 2019, ketika Babah Fina harus kehilangan pekerjaannya sebagai karyawan proyek akibat PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).
Di tengah ketidakpastian, sang istri Ummi Labib teringat kembali keahlian turun-temurun dari keluarganya, yaitu nenek yang sudah berjualan gado-gado sejak tahun 1980-an.
“Dari nenek, diteruskan ke ibu saya, dan sekarang giliran kami sebagai generasi ketiga yang melanjutkannya,” kenang Ummi saat ditemui Rakyat Merdeka/RM.id di depot usaha Gado Gado Plus miliknya di kawasan Ciracas, Jakarta Timur, Kamis (25/6/2026).
Awalnya, usaha ini hanya berjalan secara konvensional. Penjualan hanya mengandalkan kedatangan pembeli langsung ke tempat usaha, sehingga hasilnya pun terasa tidak menentu.
Dorongan untuk berubah datang ketika mereka mulai mengenal berjualan secara online. Pada tahun 2020, mereka memberanikan diri mendaftarkan usahanya di platform, Shopee Food dengan nama merek ‘Gado Gado Plus’
Baca juga : Konsumsi Pertalite Turun 9 Persen, Pemerintah Lanjutkan WFH ASN Selama 2 Bulan
Tak disangka, langkah ini menjadi titik balik yang mengubah jalur usaha mereka. Gado-Gado Plus bergabung di Shopee Food dan kini telah meraih Star Resto.
Mereka juga kerap memanfaatkan berbagai program promosi dan fitur Shopee Food untuk meningkatkan penjualan, di antaranya Checkout Murah, Shopee Food Deals, dan Shopee Food Pickup.
Hasilnya, penilaian toko mereka mencapai 4,8 bintang dari lebih dari 2.500 ulasan, dengan rata-rata pesanan mencapai 50 hingga 150 porsi per hari, bahkan bisa melonjak hingga ratusan porsi pada momen tertentu.
“Dari jualan di Shopee Food sekarang pesanan tidak hanya datang dari warga sekitar, tetapi juga menjangkau hingga ke daerah penyangga seperti Depok dan Bekasi. Omzet harian bisa mencapai ratusan ribu rupiah, bahkan lebih,” ujar Ummi.
Sejak orderan di Shopee Food melonjak, Ummi mengaku kewalahan. Sehingga bumbu yang tadinya diulek secara manual, kini menggunakan blender agar pesanan cepat teratasi.
“Kami memberanikan diri beralih menggunakan blender. Awalnya khawatir rasanya akan berubah, tapi setelah melihat tanggapan dan ulasan positif dari pelanggan, kami yakin. Ternyata tetap enak dan lebih efisien,” tutur Ummi.
Baca juga : Diaspora Indonesia Rela Tempuh Perjalanan Jauh Demi Sambut Prabowo
Meskipun menggunakan alat bantu, mereka tetap menjaga kualitas dan keaslian rasa. Kunci keistimewaan racikan mereka terletak pada paduan bumbu yang menggunakan campuran kacang tanah dan kacang mede, menjadikannya memiliki cita rasa khas yang berbeda dari gado-gado pada umumnya.
Bagi pasangan ini, kunci utama bertahan di tengah persaingan yang ketat adalah konsistensi. Mereka membuka usaha setiap hari mulai pukul 07.00 WIB pagi hingga pukul 17.00 WIB sore, bahkan saat bulan puasa pun kadang memperpanjang jam operasional untuk melayani pembeli yang ingin membatalkan puasa dengan gado-gado.
“Kalau berjualan secara daring, aturannya ketat. Kalau satu hari saja tutup, algoritma bisa menurunkan posisi toko kita dan pelanggan bisa lari ke penjual lain. Makanya kami berusaha tetap buka, sekalipun sedang tidak enak badan,” ujar Babah Fina.
Cara penyajian pun dirancang agar tetap terjaga kesegarannya, dengan memisahkan sayuran segar dan bumbu, sehingga pelanggan bisa mengaduknya sendiri saat akan disantap.
Lebih dari sekadar menjual makanan, mereka mengutamakan pelayanan. Ada kisah menyentuh ketika seorang pelanggan yang bukan beragama Islam menelepon khusus meminta agar warung dibuka sebentar saat jam puasa, karena neneknya hanya berselera makan gado-gado racikan mereka.
“Meskipun sedang istirahat, kami tetap buka sebentar. Bagi kami, kepercayaan pelanggan adalah hal yang paling berharga,” ujar Ummi.
Baca juga : Kakorlantas Polri Respons Tindakan Negatif Anggota Viral Di Medsos
Selain gado-gado, mereka juga mengembangkan menu lain seperti ketoprak, nasi goreng, mie goreng, hingga soto. Bahan baku semuanya dibeli setiap hari agar kesegarannya terjamin.
Ke depan, Ummi dan Babah yang memiliki empat orang putra putri ini terus memiliki harapan besar. Selain ingin memperluas jangkauan pasar, impian terbesar pasangan ini adalah mendirikan restoran tetap yang lebih besar, agar warisan kuliner khas Betawi ini bisa terus dinikmati oleh generasi mendatang.
“Kami ingin resep ini tetap hidup dan berkembang. Apa yang kami dapatkan hari ini tidak lepas dari kerja keras, dukungan keluarga, serta kepercayaan dari pelanggan. Semoga ke depannya usaha ini bisa terus maju dan membuka lapangan kerja lebih luas lagi,” harapnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.