BREAKING NEWS
 

Jaga Stabilitas

Lemhannas Kaji Dampak Perang Iran-Israel Terhadap Ekonomi Nasional

Reporter : FAJAR EL PRADIANTO
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Selasa, 24 Juni 2025 11:42 WIB
Gubernur Lemhannas RI Ace Hasan Syadzily memberikan keterangan pers terkait kajian dampak konflik Iran-Israel terhadap stabilitas nasional, di Jakarta, Senin (23/6/2025). Foto: RM.ID/JAR

RM.id  Rakyat Merdeka - Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) tengah mengkaji dampak perang Iran-Israel terhadap ekonomi dan ketahanan nasional. Kajian ini disiapkan sebagai masukan strategis bagi Presiden untuk menjaga stabilitas dalam negeri.

Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily menyampaikan hal tersebut saat membuka The 9th Jakarta Geopolitical Forum 2025 Geoeconomic Fragmentation (JGF) and Energy Security di Jakarta, Senin (23/6/2025). 

Menurut Ace, peningkatan eskalasi militer antara Iran dan Israel yang turut melibatkan dukungan militer Amerika Serikat kepada Israel harus menjadi perhatian serius, tidak hanya bagi kawasan, tetapi juga bagi negara-negara nonterlibat seperti Indonesia. Untuk itu, Lemhannas melakukan kajian krisis sebagai bagian dari tanggung jawab lembaga dalam memberi masukan strategis kepada pemerintah.

“Lemhannas sudah memulai kajian terhadap dampak atau skenario terburuk yang mungkin dihadapi Indonesia bila perang ini berlangsung dalam jangka panjang,” ujar Ace saat konferensi pers, jelang dimulainya forum JGF.

Forum tahunan yang diinisiasi Lemhannas ini mengangkat tema “Fragmentasi Geoekonomi dan Keamanan Energi” dan dihadiri berbagai kalangan strategis.

Ace menegaskan, Lemhannas bertugas menyampaikan masukan kepada Presiden Prabowo Subianto. Kajian itu menyasar seluruh aspek yang berpengaruh terhadap stabilitas nasional, mulai dari dinamika politik global, gejolak ekonomi internasional, hingga kondisi dalam negeri.

Baca juga : Banjir, Macet, Pemerataan Ekonomi, Masih Jadi PR

“Seluruh masukan tersebut disusun melalui kajian dalam tiga tahapan: cepat, menengah, dan jangka panjang,” paparnya.

Ace mengatakan, selain memantau perkembangan geopolitik dan geoekonomi global secara aktif. Selain itu Lemhannas juga secara berkala menyusun analisis dan proyeksi situasi, yang hasilnya disampaikan langsung kepada Pemerintah. Sayangnya berbagai kajian dan masukan tersebut bersifat tertutup untuk publik.

“Masukan kami kepada pemerintah tentu tertutup, sesuai dengan aturan yang berlaku,” tegasnya.

Dampak krisis energi, pelemahan ekonomi, dan risiko sosial-politik turut menjadi perhatian utama dalam kajian tersebut. Untuk itu, Lemhannas menggunakan pendekatan analisis skenario dengan kerangka kuadran, yakni kuadran 1 hingga kuadran 4, untuk memetakan risiko dan tingkat urgensi. Setiap skenario diposisikan ke dalam kuadran tertentu sesuai intensitas dan dampaknya terhadap Indonesia. "Kami punya roadmap proyeksi dan prediksi, dan itu sudah biasa dilakukan di Lemhannas sebagai bagian dari kajian strategis,” kata Ace.

Adsense

Dijelaskan bahwa pelaksanaan JGF IX/2025 berada di bawah koordinasi Kedeputian Pengkajian Lemhannas. Forum ini juga mendapat dukungan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ace menilai pelaksanaan forum ini sangat tepat karena bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-498 Kota Jakarta.

“Karena kita menggunakan nama Jakarta Geopolitical Forum, maka momentumnya sangat pas dengan HUT ke-498 Jakarta,” ucap mantan Anggota DPR ini. Ace menambahkan, pemilihan nama ‘Jakarta’ dalam JGF tidak sekadar mencerminkan lokasi acara, melainkan juga mengafirmasi peran Jakarta sebagai kota global yang aktif dalam transformasi energi. Ia menyebut bahwa pada hari kedua forum, Gubernur DKI Jakarta dijadwalkan menjadi pembicara untuk menyampaikan pengalaman Jakarta dalam penggunaan energi baru terbarukan (EBT) di sektor publik.

Baca juga : Pengusaha Ajak Kolaborasi Perkuat Ekonomi Nasional

“Jakarta telah menjadi kota global yang mempraktikkan penggunaan energi baru terbarukan di sektor-sektor publik,” kata Ace.

Politisi Partai Golkar ini menilai transformasi energi menjadi salah satu kebutuhan mendesak yang perlu terus diupayakan solusinya. Menurutnya, ketahanan energi merupakan bagian penting dari pertahanan nasional secara luas apalagi di tengah konflik global seperti sekarang. "Energi kita harus terus dicarikan solusinya supaya kita memiliki ketahanan energi,” tuturnya.

Terpisah, Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menyebut konflik di Timteng berpotensi besar mengerek harga minyak dunia. Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran bisa berdampak terhadap harga minyak Indonesia. "Ke Indonesia dampaknya bisa harga hingga ketersediaan pasokan,” jelasnya.

Menurut dia, sejumlah analisis menyebut harga minyak mentah bisa menembus 100 dolar AS per barel. Kementerian ESDM pun menyadari lonjakan itu bakal berpengaruh langsung terhadap harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP). “Untuk saat ini, perkembangan harga minyak mentah masih terus dipantau pergerakannya,” lanjutnya.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Deni Surjantoro, menyatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Ia mengatakan, konflik Iran-Israel bisa memicu lonjakan harga energi, gejolak keuangan global, dan gangguan rantai pasok. Dampaknya terhadap Indonesia akan sangat bergantung pada skala dan durasi konflik. 

“Kalau konflik berlangsung lama selain berdampak energi juga memicu tekanan terhadap inflasi, dan defisit fiskal akan meningkat,” ujarnya.

Baca juga : Tenang, Dampak Perang Iran Vs Israel Masih Kecil

Sementara itu, PT Pertamina (Persero) memastikan stok BBM dan minyak mentah di dalam negeri masih aman. Meski begitu, perusahaan pelat merah ini tetap menyiapkan langkah antisipasi jika Selat Hormuz benar-benar ditutup.

VP Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menyebut pihaknya siap mengalihkan rute kapal pengangkut minyak ke jalur alternatif. Pertamina telah mengantisipasi hal tersebut dengan mengamankan kapalnya.

“Kami mengalihkan rute kapal ke jalur aman melalui Oman dan India misalnya. Terkait biaya operasional masih kita cek,” jelasnya.

Tak hanya itu, Pertamina juga terus menggenjot produksi dalam negeri demi menekan ketergantungan impor. Target lifting minyak tahun ini dipatok 748 ribu barel per hari. "Produksi domestik terus kami tingkatkan,” tandasnya. JAR

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense