RM.id Rakyat Merdeka - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum refleksi untuk menuntaskan persoalan pembangunan manusia. Khususnya tentang bonus demografi, stunting, dan disrupsi nilai sosial dalam keluarga akibat dampak negatif internet.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Wihaji menegaskan, kemerdekaan Indonesia yang sudah berusia delapan dekade harus dimaknai lebih luas dari sekadar bebas dari penjajahan politik.
“Indonesia telah merdeka secara politik. Kini tugas kita adalah merdeka dari tantangan pembangunan manusia, mulai dari stunting hingga krisis sosial dalam keluarga,” kata Menteri Wihaji kepada Rakyat Merdeka, Minggu (17/8/2025).
Menurut Wihaji, Indonesia saat ini tengah menikmati bonus demografi yang diperkirakan berlangsung hingga 2040. Namun, ia mengingatkan situasi ini tidak otomatis menjadi berkah.
Baca juga : HUT RI Di Beirut Dimeriahkan Kolaborasi Kontingen Garuda Dan WNI Di Lebanon
“Bonus demografi ibarat mobil mewah. Tapi kalau tidak ada bahan bakar berupa keterampilan, pendidikan, kesehatan, dan moralitas, maka mobil itu tidak bisa bergerak,” ungkapnya.
Karena itu, Wihaji menekankan pentingnya pembangunan keluarga sebagai pondasi utama pembentukan SDM unggul. Salah satu isu yang mendapat perhatian serius adalah stunting.
Meski prevalensinya menurun menjadi 19,8 persen, kondisi ini tetap berpotensi melemahkan generasi mendatang.
“Stunting bukan sekadar soal anak yang pendek. Ini soal otak, soal daya pikir, soal daya saing bangsa. Kalau tidak kita tuntaskan, anak-anak yang stunting hari ini akan menjadi tenaga kerja yang tidak kompetitif besok,” tegas Wakil Ketua Umum Partai Golkar itu.
Baca juga : HUT Ke-80 RI, Satgas Garuda Merah Putih II Berhasil Bawa Bantuan Ke Gaza
Dia menyambut baik arahan Presiden Prabowo Subianto terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang salah satunya diprioritaskan untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
“Alhamdulillah, melalui program MBG yang diperintahkan Presiden, gizi bagi ibu hamil, menyusui, dan balita mendapat perhatian khusus. Ini penting bagi pemenuhan 1.000 hari pertama kehidupan yang menentukan kualitas generasi Indonesia,” urai Wihaji.
Selain masalah gizi, Wihaji juga menyoroti tantangan keluarga di era digital. Menurutnya, internet memberi peluang besar bagi perkembangan, namun juga bisa merusak jika tidak dibarengi literasi digital.
“Anak-anak sekarang lebih dekat dengan gawai daripada orang tuanya. Makan malam yang dulu penuh canda, kini sunyi karena masing-masing sibuk dengan gadget. Kalau tidak dikendalikan, keluarga bisa kehilangan fungsinya sebagai pelindung moral dan nilai,” jelasnya.
Baca juga : Gema Bangsa Luncurkan Aplikasi Resmi Partai
Dia menambahkan, literasi digital keluarga harus menjadi prioritas. “Orang tua sekarang bukan hanya pencari nafkah. Mereka juga harus menjadi pendamping digital, tahu apa yang dikonsumsi anak di dunia maya, dan aktif membangun komunikasi terbuka dalam keluarga,” ucap mantan Bupati Batang itu.
Wihaji menegaskan bahwa peringatan HUT ke-80 RI adalah momentum penting untuk menatap Indonesia Emas 2045.
“Kemerdekaan yang kita rayakan hari ini bukan hanya soal sejarah perjuangan. Ini juga refleksi mendalam bahwa kita harus merdeka dari stunting, merdeka dari krisis keluarga, dan merdeka dari ancaman degradasi nilai sosial,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.