Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sambut HUT RI Ke-80, Indonesia Perlu Penguatan Kemerdekaan Batin
Jumat, 15 Agustus 2025 14:41 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Memperingati 80 Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Indonesia, Founder Restorasi Jiwa Indonesia Syam Basrijal mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk selalu menyelami makna kemerdekaan yang lebih dalam, yakni kemerdekaan batin.
Syam mengingatkan bahwa usia 80 tahun bukan sekadar angka, melainkan jarak panjang yang ditempuh sebuah bangsa melewati berbagai tantangan sejarah, politik, dan perubahan zaman.
Dia menegaskan bahwa usia kemerdekaan ini seharusnya melahirkan kebijaksanaan dan kejelasan arah masa depan, bukan hanya kebanggaan akan masa lalu.
“Usia ini adalah fase kematangan yang seharusnya melahirkan kebijaksanaan, bukan sekadar kebanggaan masa lalu, melainkan kejelasan arah masa depan,” kata Syam Basrijal dalam keterangan persnya, Jumat (15/8/2025).
Syam pun mengajak seluruh bangsa Indonesia untuk mempertanyakan kembali, apakah kemerdekaan yang selalu dirayakan selama ini sudah benar-benar menjadi kemerdekaan sejati.
“Kita memang tak lagi di bawah kolonialisme fisik, tetapi benarkah kita telah merdeka dari penjajahan bentuk lain, penjajahan pikiran, keserakahan, korupsi nilai, dan ketakutan kolektif yang membuat kita saling curiga?” ujarnya.
Meskipun Indonesia sudah terbebas dari kolonialisme fisik, masih banyak warga yang terbelenggu oleh bentuk penjajahan lain, seperti penjajahan pikiran, keserakahan, korupsi nilai, dan ketakutan kolektif yang menimbulkan saling curiga.
Baca juga : Ketua MPR: Indonesia Konsisten Dukung Kemerdekaan Palestina
Syam menggambarkan situasi ini sebagai kemerdekaan yang tersisa di luar, namun terpenjara di dalam, di mana banyak jiwa belum bebas karena takut bersuara akibat ancaman sosial dan politik.
“Adanya kelompok yang memandang perbedaan sebagai ancaman, serta pejabat yang menjual integritas demi keuntungan sesaat. Inilah bentuk penjajahan batin yang mengendalikan hati dengan ego, nafsu, dan prasangka,” tandasnya.
Syam menegaskan, jika kemerdekaan 1945 adalah pembebasan tubuh bangsa, maka kemerdekaan saat ini haruslah pembebasan jiwa bangsa.
Pembebasan tersebut hanya mungkin terjadi dari keberanian kolektif untuk mengakui luka sejarah, melihat ketidakadilan masa kini, dan memilih jalan penyembuhan daripada dendam.
“Kemerdekaan sejati berdiri di atas integritas yang tak bisa ditawar. Dia menolak segala bentuk manipulasi, korupsi, dan penyelewengan, meski di baliknya ada janji kekuasaan atau keuntungan,” tutur Syam.
Oleh sebab itu, Syam mengajak seluruh elemen bangsa Indonesia untuk bersama-sama membangun fondasi kemerdekaan batin melalui empat pilar kesadaran yang saling terkait.
Pertama, kesadaran akan nilai, yakni kemerdekaan sejati yang berdiri di atas integritas tanpa kompromi dan menolak segala bentuk manipulasi, korupsi, serta penyelewengan meski ada janji kekuasaan atau keuntungan di baliknya.
Baca juga : Kemenag Kabupaten Kuningan Gelar Aksi Tanam Pohon
Kedua, kesadaran akan kebersamaan, yang menempatkan Indonesia sebagai satu tubuh di mana luka satu bagian adalah luka seluruh tubuh, sehingga perbedaan suku, agama, bahasa, dan pandangan politik harus diletakkan dalam bingkai persatuan.
Ketiga, kesadaran akan batas, yaitu saling menghormati hak orang lain dan menjaga ruang bersama, dengan memahami bahwa kebebasan seseorang berhenti di titik kebebasan orang lain dimulai.
Keempat, kesadaran akan tanggung jawab, di mana kemerdekaan dipandang sebagai amanah yang harus dirawat terus-menerus, bukan sekadar hadiah yang dirayakan sesaat.
Syam juga menyoroti pentingnya membangun infrastruktur jiwa yang terdiri dari kejujuran, empati, dan solidaritas, yang selama ini sering terlupakan di tengah fokus pembangunan infrastruktur fisik seperti jalan, pelabuhan, dan gedung pencakar langit.
Tanpa fondasi jiwa yang kuat, dia memperingatkan bahwa kemerdekaan akan menjadi rapuh dan bendera hanya berkibar di tiang, bukan di hati.
Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur jiwa berarti mendidik anak-anak untuk berpikir kritis namun penuh empati, melatih para pemimpin agar mau mendengar suara rakyat tanpa menutup telinga terhadap kritik, serta mengukur kemajuan bangsa tidak hanya dari angka produk domestik bruto (PDB), tetapi juga dari kualitas kepercayaan sosial, tingkat keadilan, dan ketangguhan moral.
Lebih jauh, Syam menyatakan bahwa kemerdekaan batin juga berarti merdeka untuk memaafkan, bukan karena kelemahan, melainkan sebagai cara agar tidak terikat oleh beban masa lalu. Kemerdekaan batin juga membuka ruang untuk berkolaborasi lintas perbedaan, bukan karena kesamaan, tetapi karena memahami bahwa perbedaan adalah bahan bakar inovasi dan kekuatan kolektif bangsa.
Baca juga : Harga Daging Tinggi, Asosiasi Dorong Penguatan Peran BUMN
“Kemerdekaan batin juga berarti merdeka untuk memaafkan, bukan karena kita lemah, tetapi karena kita tidak ingin terikat pada beban masa lalu,” paparnya.
Menghadapi usia 80 tahun, Syam menekankan bahwa momentum ini adalah masa transisi menuju perayaan 100 tahun kemerdekaan Indonesia pada 2045. Dua dekade ke depan akan menjadi ujian penting apakah bangsa mampu menyatukan pembangunan fisik dengan pembangunan batin.
Dia mengajukan pertanyaan penting, apakah Indonesia akan dikenang sebagai bangsa yang hanya megah di infrastruktur namun kehilangan hati, atau sebagai bangsa yang berdiri tegak karena memiliki jiwa yang bersih dan utuh?
Maka dari itu, Syam Basrijal pun mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menjaga agar bendera merah putih tetap berkibar di hati, bukan sekadar di tiang sebagai sarana seremonial semata.
“Merdeka untuk mencintai, merdeka untuk membangun, merdeka untuk menjadi manusia yang utuh,” pungkas Syam Basrijal.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya