RM.id Rakyat Merdeka - Menjelang peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) yang jatuh pada 10 Oktober 2025, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah tekanan sosial, ekonomi, dan bencana yang kian kompleks.
Tahun ini, tema global HKJS mengusung tajuk “Global Access to Service Mental Health in Catastrophes and Emergencies” atau “Akses Global terhadap Layanan Kesehatan Mental dalam Situasi Bencana dan Darurat.” Adapun tema nasionalnya adalah “Sehat Jiwa dalam Segala Situasi.”
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi menegaskan, momentum ini harus dijadikan ajang untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya layanan kesehatan mental yang mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama di masa-masa krisis.
“Apalagi banyak masyarakat tidak bisa mengakses layanan kesehatan. Akibatnya, gangguannya bisa semakin berat," ujarnya dalam media briefing di Jakarta, Rabu (8/10/2025).
Menurut Imran, gangguan jiwa dapat menyerang siapa saja, tanpa batas usia. Dia mencatat, saat ini terdapat sekitar dua juta orang dengan demensia di Indonesia.
Bahkan, menurut pandangan medis Barat, demensia adalah kelainan organik di otak manusia yang bisa menyebabkan demensia. "Jadi bukan semata akibat faktor usia,” tambahnya.
Baca juga : Pemeriksaan Radiografis Kedokteran Gigi dalam Deteksi Risiko Osteoporosis
Untuk memperkuat layanan, Kemenkes menyiapkan penambahan dua tenaga baru di puskesmas, yakni fisioterapis dan psikolog klinis. Namun, Imran mengakui, layanan kesehatan jiwa di puskesmas belum sepenuhnya optimal.
Selain itu, Imran menyoroti meningkatnya tekanan mental akibat krisis ekonomi, perubahan iklim, konflik sosial, hingga disrupsi digital yang dapat memicu stres nasional.
Pemerintah, kata dia, tidak tinggal diam. Saat ini tersedia layanan konsultasi melalui Hotline 119 ekstensi 8, yang telah digunakan oleh 15.424 pengguna hanya dalam tujuh minggu pada periode Juli–Agustus 2025.
Kemenkes juga memperluas edukasi mengenai Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP), sebuah pendekatan sederhana untuk menolong orang yang mengalami tekanan mental.
“Prinsipnya ada tiga, yaitu melihat, mendengarkan, dan menghubungkan. Melihat perubahan perilaku teman, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menghubungkan mereka dengan tenaga profesional," ungkapnya.
Pemerintah juga memperkuat layanan rehabilitasi berbasis restorative justice untuk pengguna NAPZA, dengan menambahkan 50 ribu fasilitas rehabilitasi baru di berbagai daerah.
Baca juga : Astra Komit Kembangkan Ekonomi Keberlanjutan Desa Di Ajang Lestari Summit 2025
Nantinya, pada puncak peringatan HKJS yang digelar Kemenkes di Tangerang pada 30 Oktober 2025 bakal tersedia pemeriksaan kesehatan jiwa gratis. Kegiatan itu akan menjadi ajang refleksi bersama untuk mengingatkan bahwa jiwa yang sehat adalah fondasi ketahanan bangsa.
"Seperti pesan Konfusius, untuk menata dunia pertama-tama harus menata negara. Untuk menata negara harus menata keluarga, dan untuk menata keluarga harus mengatur diri sendiri. Itu semua bisa dimulai dari jiwa yang sehat," pungkas Imran.
Di tempat yang sama, Dr. Irmansyah, Sp.KJ(K), spesialis kedokteran jiwa konsultan, menambahkan bahwa kondisi darurat kini tidak hanya disebabkan oleh bencana alam, tetapi juga bencana non-alam seperti pandemi, kebakaran, kekerasan sosial, bahkan bencana digital.
“Dulu bencana hanya soal alam. Sekarang kita menghadapi bencana digital. Dampaknya nyata terhadap kesehatan mental masyarakat,” katanya.
Sementara psikolog Ratih Ibrahim menekankan pentingnya orkestrasi lintas sektor untuk memperkuat layanan kesehatan jiwa di Indonesia.
“Pemerintah harus menggerakkan kampanye kesehatan jiwa dan mendorong media massa untuk menerapkan responsible reporting,” ujarnya.
Baca juga : Mendagri Tito Tekankan Peran Daerah Dalam Pemerataan Dokter Spesialis
Ratih juga menilai, peran sektor swasta dan masyarakat tak kalah penting. Menurutnya, perusahaan bisa ikut membantu lewat program CSR dan kerja sama dengan BNPB, Kemensos, dan Kemenkes.
"Sementara masyarakat bisa membuka rumah sebagai tempat aman sementara bagi korban krisis,” jelas CEO dan founder Personal Growth itu.
Terakhir, Ratih menyoroti mayoritas keluhan yang masuk ke layanan healing 119 justru bersumber dari konflik dalam keluarga. Padahal, kata dia, seharusnya keluarga menjadi tempat subur untuk menumbuhkan jiwa yang sehat.
"Artinya, keluarga memegang peran kunci dalam menjaga kesehatan jiwa anggotanya," tandasnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.