“PLTS Terapung Saguling akan menjadi salah satu tonggak penting dalam transformasi energi bersih di Indonesia.”
[Dirut PLN, Darmawan Prasodjo, PLTS Terapung Saguling, Bandung Barat, Jumat, 3 Oktober 2025]
(*)
RM.id Rakyat Merdeka - Pada 2025, wacana transisi energi di Indonesia kian berubah, dari sekadar janji, menjadi tindakan. Aktor sentralnya, PLN.
Setelah bertahun-tahun berada di pusat kritik karena ketergantungan pada batu bara dan model bisnis yang lambat beradaptasi, perusahaan listrik negara ini mulai mencetak capaian nyata: perencanaan strategis yang lebih hijau, peningkatan produk energi bersih yang dapat diperdagangkan, dan proyek berskala besar yang menunjukkan komitmen pada praktik energi terbarukan.
Baca juga : Position Tegaskan Komitmen Pembangunan Berkelanjutan Di Halmahera Timur
Salah satu langkah paling kentara adalah, dokumen perencanaan 10 tahun PLN, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, yang diterbitkan pada akhir Mei 2025.
RUPTL baru itu menempatkan porsi signifikan dari penambahan kapasitas ke sumber terbarukan —dengan target ambisius untuk menambah puluhan gigawatt tenaga surya, air, dan panas bumi dalam satu dekade ke depan— sebagai bagian dari jawaban PLN atas tekanan nasional untuk menurunkan emisi dan memperkuat ketahanan energi. (Sumber: RUPTL PLN 2025–2034, 26 Mei–3 Juni 2025).
Di level operasional, capaian yang mudah dilihat publik adalah upaya PLN mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung. Pada 3 Oktober 2025, PLN memulai konstruksi PLTS Terapung Saguling (Bandung Barat, Jawa Barat) — proyek 92 MW yang diproyeksikan menghasilkan lebih dari 130 GWh per tahun dan memangkas emisi ratusan ribu ton karbon per tahun setelah beroperasi penuh.
Baca juga : TAMENG, Living Lab Pertanian Berkelanjutan Pertama di Malang
Terkait hal ini, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menggambarkan proyek itu sebagai tonggak penting. “PLTS Terapung Saguling akan menjadi salah satu tonggak penting dalam transformasi energi bersih di Indonesia,” ujarnya, saat peresmian PLTS Terapung Saguling, di Waduk Saguling, Bandung Barat, Jumat, 3 Oktober 2025.
Selain proyek fisik, PLN memperluas instrumen pasar hijau. Pada paruh pertama 2025, PLN melaporkan kenaikan penjualan Renewable Energy Certificates (REC) — refleksi bahwa permintaan korporasi terhadap listrik bersih (untuk tujuan keberlanjutan dan kepatuhan) semakin nyata.
Bahkan, Laporan Agustus 2025 mencatat peningkatan penjualan REC sekitar 14% YoY. Hal ini, mencerminkan pertumbuhan segmen “green as a service” PLN yang menghubungkan pasokan terbarukan dengan pembeli industri/komersial yang ingin mengurangi jejak karbon. (Sumber: Laporan PLN, Agustus 2025).
Baca juga : ISDC Diperbarui, Kakorlantas Tegaskan Keselamatan Di Jalan Jadi Utama
Lebih jauh, para pengamat dan akademisi memberi penilaian yang hati-hati namun mengakui momentum. Institute for Essential Services Reform (IESR) dan jejaring ilmiah yang berkumpul di Indonesia Net-Zero Summit 26 Juli 2025 misalnya, mengeluarkan seruan kolektif agar pemerintah dan pelaku industri menaikkan ambisi dan menerjemahkannya ke aksi konkret.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.