BREAKING NEWS
 

Penjelasan Lengkap Luhut Soal Hilirisasi, Investor China & Bandara IMIP Morowali

Reporter : KINTAN PANDU JATI
Editor : FIRSTY HESTYARINI
Senin, 1 Desember 2025 15:14 WIB
Ketua DEN yang juga mantan Menko Marves, Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Dewan Ekonomi Nasional yang juga mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan lugas mengungkap fakta hilirisasi, kerja sama Indonesia dengan investor China dan alasan di baliknya, serta polemik Bandara Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang belakangan ini mengemuka. Berikut penjelasan lengkap Luhut dalam keterangan yang diterima redaksi, Senin (1/12/2025).

Teman-teman sekalian,

Sebagai mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, saya bertanggung jawab atas perencanaan dan pengembangan investasi nasional selama kurang lebih sebelas tahun.

Sejak awal, kami melihat perlunya perubahan besar agar Indonesia mendapatkan nilai tambah yang lebih baik dari sumber daya yang kita miliki. Gagasan hilirisasi sesungguhnya sudah saya pikirkan, sejak saya menjabat di Kementerian Perindustrian dan Perdagangan pada tahun 2001.

Salah satu tonggak awalnya adalah pembangunan kawasan industri Morowali yang dimulai pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan diresmikan pada era Presiden Joko Widodo. Dari situlah lahir pemikiran bahwa Indonesia tidak boleh terus mengekspor bahan mentah.

Namun, mendatangkan investor asing bukanlah hal yang mudah. Setelah mempelajari kesiapan negara-negara dari segi investasi, pasar, dan teknologi, hanya China yang saat itu siap dan mampu memenuhi kebutuhan kita.

Atas izin Presiden Joko Widodo, saya bertemu Perdana Menteri Li Qiang untuk menyampaikan permintaan Indonesia agar China dapat berinvestasi dalam pengembangan industri hilirisasi.

Teman-teman sekalian,

Hilirisasi nikel dimulai dari penghentian ekspor nickel ore, yang sebelumnya hanya menghasilkan sekitar 1,2 miliar dolar Amerika Serikat (AS) per tahun. Itu pun sebagian besar berupa tanah dan air, karena hanya sekitar 2 persen kandungannya yang dapat diambil.

Presiden Joko Widodo awalnya khawatir, karena kita berpotensi kehilangan nilai ekspor tersebut. Banyak menteri juga tidak setuju, karena takut kehilangan pemasukan jangka pendek.

Namun, setelah melalui pembahasan mendalam, saya mengusulkan hilirisasi secara formal kepada Presiden. Saya sampaikan bahwa dua hingga tiga tahun pertama akan berat, tetapi setelah itu manfaatnya akan terlihat jelas.

Dalam waktu satu bulan, Presiden menyetujui langkah tersebut, dan China pun siap bekerja sama. Amerika Serikat (AS) tidak memiliki teknologi ini. Hal tersebut dikonfirmasi langsung oleh Elon Musk ketika bertemu saya beberapa waktu lalu, bahwa AS tertinggal cukup signifikan dari China.

Dari situ, hilirisasi di Morowali mulai berjalan, dari nickel ore menuju produk bernilai tambah seperti stainless steel, precursor, dan cathode yang hari ini digunakan di berbagai industri global.

Tahun lalu, ekspor sektor ini mencapai 34 miliar dolar AS dan akan meningkat menjadi 36-38 miliar dolar AS pada tahun 2025. Ini menjadi salah satu faktor stabilnya ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Baca juga : Luhut Blak-Blakan Soal Polemik Bandara IMIP Morowali, Ini Penjelasannya

Tentu, dalam perjalanannya terdapat banyak tantangan. Tetapi, setiap keputusan kami buat melalui proses yang terpadu, transparan, dengan perhitungan untung–rugi yang jelas, dan yang menjadi titik pijak utama saya adalah kepentingan nasional. Dalam sebuah kerja sama, mustahil semua pihak menang: selalu ada proses give and take.

Dalam setiap kerja sama investasi strategis, terdapat sejumlah ketentuan yang kami tetapkan dan sampaikan kepada China untuk memastikan bahwa investasi tersebut membawa manfaat maksimal bagi Indonesia. Ketentuan-ketentuan ini berlaku bagi seluruh mitra internasional, termasuk China, dan menjadi landasan dalam setiap proses negosiasi, di antaranya:

    1.    Penggunaan Teknologi Terbaik

Seluruh investor diwajibkan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan dan tidak diperkenankan membawa teknologi kelas dua (second-class technology). Kami memastikan bahwa standar lingkungan Indonesia dipatuhi secara ketat.

    2.    Pemanfaatan Tenaga Kerja Lokal

Investor asing wajib memprioritaskan tenaga kerja Indonesia. Kami memahami bahwa di daerah luar Jawa, khususnya wilayah Timur yang masih berkembang, terdapat keterbatasan tenaga ahli. Namun, kewajiban penggunaan tenaga kerja lokal tetap menjadi prinsip utama, dengan ruang pendampingan dan pelatihan untuk mengisi kekurangan keahlian tersebut.

    3.    Pembangunan Industri Terintegrasi dari Hulu ke Hilir

Setiap investasi harus berkontribusi pada pembangunan industri yang terintegrasi dari proses hulu hingga hilir, agar menghasilkan nilai tambah signifikan bagi perekonomian nasional.

Dengan begitu, Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi negara industri yang berdaya saing.

Saat ini, Indonesia memiliki ekosistem lithium baterai, baik LFP atau NCM, yang cukup lengkap, saya kira nomor tiga setelah China dan Korea Selatan.

Kita sudah bisa mengekspor anoda, katoda dan lithium hydroxide/carbonate yg merupakan elemen penting dalam lithium baterai. Banyak negara negara lain yang ingin mencontoh kita.

    4.    Transfer Teknologi dan Capacity Building

Dalam pertemuan resmi dengan Perdana Menteri China, Menteri Perdagangan, dan Menteri Luar Negeri mereka, saya menegaskan bahwa kerja sama harus mencakup transfer teknologi. Mereka menyetujui ini, sehingga program capacity building dapat berjalan untuk meningkatkan kemampuan SDM Indonesia.

Hari ini, total nilai investasi di sektor hilirisasi mencapai 71 miliar dolar AS. Untuk Morowali, nilainya mencapai lebih dari 20 miliar dolar AS, mempekerjakan lebih dari 100 ribu tenaga kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara signifikan sampai saat ini.

Adsense

Terkait persoalan lingkungan dan yang lainnya, saya berkoordinasi langsung dengan Wang Yi, yang ditunjuk Presiden Xi Jinping sebagai mitra utama Indonesia, untuk memastikan seluruh operasi mematuhi standar dan tidak ada “negara dalam negara” yang melanggar hukum kita.

Mengenai izin pembangunan lapangan terbang, keputusan itu diambil dalam rapat yang saya pimpin bersama sejumlah instansi terkait. Itu diberikan sebagai fasilitas bagi investor, sebagaimana lazim dilakukan di negara-negara seperti Vietnam dan Thailand.

Baca juga : Mentan Percepat Modernisasi Pertanian Indonesia Dan Berantas Mafia Pangan

Jika mereka berinvestasi 20 miliar dolar AS, wajar mereka meminta fasilitas tertentu selama tidak melanggar ketentuan nasional.

Bandara khusus diberikan hanya untuk melayani penerbangan domestik, dan memang tidak memerlukan bea cukai atau imigrasi sesuai aturan perundang-undangan.

Tidak pernah kami pada saat itu mengizinkan bandara di Morowali atau Weda Bay menjadi bandara internasional.

Terkait masalah lingkungan, sejak 2021, saya meminta Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan agar menindak tegas perusahaan-perusahaan industri hilir asal China, yang belum memenuhi standar lingkungan.

Teman-teman sekalian,

Selama menjabat, saya menjaga agar tidak ada konflik kepentingan. Saya tidak pernah terlibat dalam bisnis apa pun, demi menjaga integritas dan memastikan kepentingan bangsa menjadi prioritas.

Karena itu, apabila ada pihak yang menuduh keputusan ini dibuat sepihak oleh Presiden Joko Widodo, saya tegaskan bahwa koordinasi penuh dijalankan oleh saya.

Saya persilakan siapa pun datang kepada saya dengan membawa data, jika ingin mempertanyakan keputusan tersebut. Kita tidak berpihak kepada China atau Amerika; kita berpihak kepada Indonesia. Faktanya, saat itu China adalah satu-satunya negara yang siap masuk.

Tanpa hilirisasi, Indonesia tidak akan berada pada posisi ekonomi seperti hari ini.

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, kita juga sedang mendorong hilirisasi di sektor pertanian, herbal dan hortikultura melalui program TSTH2 di Humbang. Kita sedang mengembangkan bibit tanaman terbaik, dan tiga tahun ke depan kita akan melihat hasil yang berdampak signifikan terhadap ketahanan pangan Indonesia.

Akhir kata, saya ingin mengajak kita semua untuk tidak mudah berburuk sangka. Kita semua memiliki hati nurani dan logika yang jernih untuk menempatkan kepentingan NKRI di atas segalanya.

Jangan cepat berburuk sangka. Kita semua memiliki hati nurani dan logika untuk menjaga NKRI yang kita cintai ini. Karena itulah, saya tidak percaya pada pandangan bahwa pemerintahan itu berdiri sendiri-sendiri.

Pemerintahan harus berkelanjutan, karena tidak ada satu pun proyek strategis yang bisa selesai dalam lima tahun. Setiap pembangunan besar membutuhkan waktu setidaknya lima belas tahun untuk menunjukkan hasil yang nyata.

Hilirisasi adalah contoh nyata. Prosesnya panjang, bertahap, dan membutuhkan konsistensi lintas pemerintahan. Namun inilah yang akan membawa Indonesia menuju status high income country.

Baca juga : Mentrans Ajak Investor China Ke Pasel Dan Malut

Kita tidak perlu berpolemik pada hal-hal yang justru menghambat langkah maju bangsa. Ini pandangan saya berdasarkan pengalaman sebelas tahun bekerja di pemerintahan.

Tidak ada pemerintahan yang sempurna, semua memiliki kekurangan. Namun kekurangan tidak boleh dijadikan bahan polemik yang merusak kepercayaan publik. Kekurangan harus diperbaiki, bukan dijadikan alasan untuk memulai dari nol lagi. 

Sekarang saatnya kita bergandengan tangan, mendukung pemerintahan yang sedang bekerja dengan strategi jangka panjang lima hingga sepuluh tahun ke depan. Kita harus solid. Bonus demografi kita hanya bertahan hingga tahun 2035; jika lewat dari itu kita tidak mengoptimalkannya, kita berisiko terjebak dalam middle income trap.

Ini juga soal keteladanan. Saya bersyukur selama ini tidak pernah menjadi bagian dari konflik, dan selalu menjaga agar keputusan yang saya ambil tidak menimbulkan perpecahan.

Setiap proyek besar sejak era Presiden Joko Widodo pun menghadapi tantangan yang dilimpahkan dari pemimpin sebelumnya, misalnya proyek Kertajati, Pelabuhan Patimban dan lain-lain. Namun segalanya dapat diperbaiki, ketika kita bekerja dengan pikiran jernih dan semangat kolaboratif.

Membangun negara adalah proses panjang yang membutuhkan kesinambungan kebijakan, keberanian mengambil keputusan, dan kesediaan untuk bekerja sama lintas pemerintahan.

Hilirisasi adalah contoh bagaimana konsistensi dapat menghasilkan manfaat besar bagi ekonomi Indonesia. Tantangan pasti ada, tetapi dengan sikap tidak saling menyalahkan, saling melengkapi, dan mendukung visi jangka panjang, Indonesia memiliki peluang besar untuk keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah dan mencapai kemajuan yang kita cita-citakan bersama.

Tulisan ini saya buat agar masyarakat dapat memahami kondisi secara utuh. Apa yang menjadi tantangan, apa yang telah diperjuangkan, dan apa yang sedang diupayakan pemerintah hari ini.

Kita tidak perlu terpecah oleh informasi yang tidak lengkap atau oleh polemik yang tidak membawa manfaat. Pemahaman yang menyeluruh akan membuat kita lebih bijak dalam melihat kebijakan strategis bangsa, dan lebih kuat sebagai satu kesatuan.

Semoga penjelasan ini dapat membantu kita semua menjaga keutuhan, memperkuat rasa percaya, dan menempatkan kepentingan nasional di atas segalanya.

01 Desember 2025 

Luhut Binsar Pandjaitan

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense