BREAKING NEWS
 

Nyawa Dapur SPPG Ada di Tangan Pengawas Gizi dan Jurutama Masak

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Minggu, 24 Mei 2026 18:56 WIB
Pekerja menyiapkan paket MBG di dapur SPPG Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (Foto: Khairizal Anwar/RM).

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang menegaskan, nyawa dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berada di tangan para Pengawas Gizi dan Jurutama Masak. Namun, mereka yang selama ini banyak bertugas di dapur, justru jarang dilibatkan dalam kegiatan sosialisasi, pendidikan, dan pelatihan yang diselenggarakan BGN. 

“Diteruskan atau tidaknya Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) ini, sesungguhnya ada di tangan Anda semua,” kata Wakil Kepala BGN yang membidangi urusan Komunikasi Publik dan Investigasi itu, dalam acara Sosialisasi Keamanan Pangan untuk Pengawas Gizi dan Jurutama Masak SPPG se-Provinsi DKI Jakarta, di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Di tahun 2026, Program MBG akan fokus pada persoalan keamanan pangan atau food safety. Karena itu, Nanik menggencarkan kegiatan sosialisasi, pendidikan, dan pelatihan mengenai gizi dan tata kelola memasak untuk para Pengawas Gizi dan Jurutama Masak di seluruh Indonesia. Hal ini sangat penting agar mereka dapat memahami dan mengelola proses memasak di dapur SPPG dengan baik, aman, dan sehat. 

Nanik mengungkapkan kesedihannya saat menceritakan banyak dapur SPPG yang dia inspeksi selama ini, sebenarnya jauh sekali dari cita-cita Presiden saat merancang Program MBG. Misalnya, Presiden Prabowo Subianto menghendaki agar dapur SPPG adalah bangunan baru. Tapi, pada pelaksanaannya, dengan alasan mengejar target penerima manfaat, sekitar 80 persen dapur SPPG berasal dari bangunan eksisting, seperti bekas bangunan rumah, café, rumah makan, dan ruko. 

Baca juga : IBSW Apresiasi Langkah Prabowo dan Danantara Awasi Ekspor

Padahal bangunan itu banyak yang sempit dan tak memenuhi petunjuk teknis tentang luas dan layout dapur. Akibatnya, alur dapur kacau dan sering menjadi penyebab terjadinya kontaminasi silang serta berdampak pada kasus-kasus insiden keamanan pangan.

“Kalau toh itu (bekas) rumah, seharusnya tetap mengikuti juknis, bukan juknis mengikuti rumah,” ujar Mantan Jurnalis Senior itu.

Adsense

Ketua Harian Tim Koordinasi 17 Kementerian dan Lembaga untuk Pelaksanaan Program MBG itu juga mengungkapkan keheranannya soal luas dapur SPPG yang sempit tapi bisa beroperasi. Menurut petunjuk teknis, luas dapur seharusnya 400 meter persegi. Tapi, saat sidak, Nanik masih menemukan banyak “rumah liliput” yang dijadikan dapur SPPG.

“Kalau kayak gini belum kejadian, mungkin doa pemiliknya kenceng banget, jadi masih dicintai sama Allah, sehingga belum kejadian,” ujarnya.

Baca juga : Alyssa Daguise, Sebel Anak Jadi Bahan Candaan

Dari hasil temuan saat sidak di berbagai SPPG di hampir seluruh wilayah di Indonesia, Nanik kemudian menginisiasi penyusunan petunjuk teknis SPPG yang baru. Petunjuk teknis itu meliputi Petujuk Teknis tentang layout, tentang peralatan, dan tentang tata kelola memasak di dapur SPPG. Selain itu, akan disusun petunjuk tentang penanganan bahan pangan, dan bank menu. 

Nanik menekankan bahwa di tahun 2026 ini, Presiden telah memerintahkan agar Program MBG harus berkualitas. Karena itu, penambahan dapur SPPG baru akan distop dulu. BGN akan lebih berkonsentrasi dalam mengurus perbaikan kualitas dan tata kelola program MBG. “Dan yang paling penting, Pengawas Gizi sama Juru Masak ini harus klop,” ujarnya. 

Ia lalu mengungkapkan temuannya saat sidak di lapangan, yang membuatnya sering tak habis pikir. “Kadang-kadang juru masaknya ngeyel, merasa paling pinter, pengawas gizinya juga sok pinter… Ya kan? Nggak ketemu… Nggak komunikasi yang terjadi… Ayo bener nggak…?” tanya Nanik. “Betuuul…,” kata para peserta pelatihan.

“Itulah… Terus gimana mau aman makanan, kalau pengawas gizi dan juru masaknya tidak pernah akur, bahkan tidak pernah ketemu. Beneran… Ada dapur yang Pengawas Gizinya nggak pernah datang. Ada juga Pengawas Gizi yang datangnya pagi sementara masaknya sudah selesai. Gimana? Ditambah Kepala SPPG-nya nggak pernah ke dapur,” ujarnya, yang disambut tepuk tangan dan teriakan setuju para peserta. 

Baca juga : Gandeng Yayasan Al Azhar Syifa Budi, DADA Kembangkan Pendidikan Internasional

Nanik mengaku kasihan tiap kali mendengar Presiden berpidato tentang MBG. Sebab, selama ini Presiden tidak mengetahui kondisi riil di lapangan, ketika di bawah ternyata dapur dijalankan secara amburadul. Karena itu, Nanik berusaha keras meluruskan peraturan, SOP, dan petunjuk teknis pengelolaan dapur, termasuk peningkatan mutu sumber daya manusia, seperti sosialisasi dan pelatihan Pengawas Gizi dan Jurutama Masak ini.

Untuk itu, Nanik berharap agar ke depan para pengawas gizi dan juru masak saling bekerja sama dengan baik dalam mengelola dapur SPPG, sehingga bisa memproduksi MBG yang aman, sehat, dan bergizi. Selain itu, ia juga berencana membuat semacam kursus-kursus atau sekolah untuk para juru masak yang akan dibiayai oleh BGN, serta penyusunan bank menu.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense