BREAKING NEWS
 

Warga Binaan Menyongsong Masa Depan

Batik Vermis, Karya Nusakambangan Yang Mendunia

Reporter & Editor :
ANGGOWO ADI SEPTANINGRAT
Selasa, 30 Juni 2026 11:24 WIB
Paulo (60), Warga Binaan Pemasyarakatan asal Brazil sedang memeragakan pengerjaan batik tulis. Foto: GO/RM.ID

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas), melalui 15 Program Aksi Menteri Imipas Agus Andrianto, telah sukses menyulap Nusakambangan. Dari dulu yang terkenal seram, kini bersih, terang, terawat dan menjadi lumbung ketahanan pangan nasional.

Dari sekian banyak dan level lembaga pemasyarakatan (Lapas) di dalam "Alcatraz-nya Indonesia" itu, ada Lapas Kelas IIA Permisan yang ikonik. Penjara dengan kategori medium security itu dibangun pada masa kolonial Belanda, tepatnya pada tahun 1908, menjadikannya salah satu kompleks bui tertua di Indonesia.

Dari Permisan, terlahir hasil karya seni yang telah mendunia, yakni Batik Vermis. Di tangan para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), selembar kain putih berubah menjadi karya bernilai seni tinggi. Bukan sekadar batik tulis, tetapi juga batik cap, syal hingga batik ecoprint yang kini menjadi produk unggulan workshop Permisan.

Didampingi oleh jajaran Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Publik Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Pusdatin Kemenimipas), beberapa wartawan dari media nasional berkesempatan mengunjungi lapas di ujung pulau yang kini adem dan hijau di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah itu, pada Senin (29/6/2026).

Masuk ke dalam, tampak suasana bengkel kerja batik jauh dari kesan menyeramkan. Aroma malam panas menyeruak dari kompor. Beberapa WBP duduk tekun memegang canting, mengikuti garis demi garis motif di atas kain. Di sudut lain, beberapa orang sibuk mencampur warna di bak pewarnaan. Ada pula yang mengangkat kain dari tungku pelorotan, tahap akhir untuk menghilangkan lapisan malam.

Suara percakapan terdengar pelan. Sesekali diselingi canda. Tangan mereka bekerja nyaris tanpa henti. Saat ini terdapat sekitar 30 warga binaan yang menjadi perajin Batik Vermis. Menariknya, bukan hanya WBP pribumi yang berkarya di sana. Sejumlah Warga Negara Asing (WNA) juga menjadi bagian penting dalam lahirnya motif-motif unik Batik Vermis.

Ada Paulo dari Brasil, Riaz dari Pakistan yang piawai mendesain motif, Mustafa asal Iran yang menguasai teknik pewarnaan, hingga Abraham dari Nigeria yang juga bertugas pada proses pewarnaan.

Keberadaan mereka membuat Batik Vermis memiliki karakter yang berbeda. Motif-motif klasik Indonesia dipadukan dengan sentuhan budaya dari berbagai negara sehingga menghasilkan desain yang lebih modern dan berani.

Baca juga : Agar Pengunjung Nyaman, Rano Karno Turun Tangan Atasi Bau Taman Bendera

Kalapas Permisan Dedi Cahyadi mengungkapkan, pembinaan batik mulai dijalankan sekitar 2019 sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian WBP.

"Semua diawali dari proses asesmen. Kami melihat minat dan kemampuan mereka. Yang punya bakat menggambar, melukis, menulis kaligrafi, diarahkan ke bengkel kerja batik. Di sini mereka belajar dari awal sampai benar-benar mampu menghasilkan karya," ungkapnya.

Program Bimbingan Kerja (Bimker) menjadi salah satu implementasi program pembinaan kemandirian yang terus diperkuat Kemenimipas. Tujuannya sederhana tetapi penting, membekali warga binaan dengan keterampilan agar siap kembali ke masyarakat setelah bebas.

Di dalam, ada salah satu sosok yang paling menarik perhatian yakni Paulo. Bapak ganteng berusia 60 tahun asal Brazil itu telah menjalani hukuman selama 18 tahun dalam perkara narkotika. Dua tahun lagi ia akan menghirup udara bebas.

Empat tahun terakhir, hari-harinya diisi dengan membatik. Paulo dipercaya pada bagian desain sekaligus pewarnaan. Ia bahkan ikut memperkenalkan Batik Vermis kepada keluarga dan kenalannya di Brazil.

"Kalau membuat motif, kami sering mencari inspirasi dari internet. Selalu ada ide baru," ceplosnya dengan bahasa Indonesia yang lancar, sambil menunjukkan selembar kain yang sedang digarap.

Adsense

Salah satu karya favoritnya adalah motif perpaduan budaya Indonesia dan Brazil. Burung Flamingo menjadi ikon utama yang dipadukan dengan ornamen batik Nusantara. Ada pula motif merak dengan sentuhan khas Brazil.

Menurut Paulo, tantangan terbesar justru terletak pada detail.

Baca juga : Prabowo Bicara Di Depan 2.600 Akademisi: 4 Kali Kalah, Saya Tak Ganggu Pemimpin Yang Diberi Mandat

"Motif kecil-kecil yang paling sulit. Satu kain bisa selesai sekitar tiga minggu," bebernya.

Bagi Paulo, membatik bukan sekadar mengisi waktu selama menjalani pidana. Aktivitas itu memberinya harapan sekaligus penghasilan.

Setiap karya menghasilkan premi yang besarannya berbeda-beda. Mulai Rp 10 ribu untuk syal pashmina atau batik colet sederhana, Rp 30 ribu untuk batik cap, Rp 50 ribu untuk syal tulis dan batik cap colet, Rp 110 ribu untuk batik tulis, Rp 150 ribu untuk batik tulis premium, hingga Rp 175 ribu untuk batik tulis kombinasi emas.

Premi tersebut dibagikan kepada seluruh pekerja sesuai tahapan produksi, mulai dari pembatik, pembuat cap, pewarna hingga penyelesaian akhir.

"Uangnya saya pakai untuk makan dan beli rokok," kata Paulo sambil tersenyum.

Menurut Kalapas Dedi, sistem pembagian hasil memang menjadi penyemangat warga binaan. Sebanyak 50 persen keuntungan penjualan dialokasikan sebagai premi warga binaan. Sebanyak 15 persen menjadi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), sedangkan sisanya diputar kembali sebagai modal produksi.

"Premi inilah yang paling disukai warga binaan. Bisa untuk kebutuhan sehari-hari, ditabung, atau membantu keluarga," kata Dedi.

Batik Vermis kini tidak lagi primadona di Tanah Air. Produk-produk batik dari Lapas Permisan pernah dibawa hingga Amerika Serikat melalui rombongan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia saat berkunjung ke Lapas Permisan.

Baca juga : Mbak Titiek Puji Menteri Imipas, Sulap Nusakambangan Jadi Lumbung Pangan

Selain Amerika, Batik Vermis juga telah sampai ke Australia, Jerman, Brazil, dan Iran. Promosinya dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari pameran di lingkungan Kemenimipas, kunjungan kedutaan besar, LSM, tamu-tamu resmi, media sosial Lapas Permisan, hingga platform e-commerce.

Harga yang ditawarkan pun cukup beragam. Batik tulis dipasarkan mulai Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta, bergantung pada bahan dan tingkat kerumitan motif. Batik cap dan ecoprint dijual sekitar Rp 200 ribu sampai Rp 350 ribu, sedangkan syal batik mulai Rp 80 ribu.

Keunikan Batik Vermis juga terletak pada para pembuatnya. Seluruh pembatik adalah laki-laki karena Lapas Permisan memang tidak memiliki WBP perempuan. "Bahkan kreativitas mereka pernah melahirkan motif Covid-19 saat pandemi beberapa tahun lalu. Motif itu sempat menjadi perhatian karena memadukan simbol virus dengan corak batik modern," ungkap Dedi.

Selain batik, Bengkel Kerja Lapas Permisan juga memiliki sejumlah unit usaha lain seperti bakery yang memproduksi roti dan aneka kue, kerajinan kulit berupa tas, dompet, sandal, sabuk hingga wadah STNK dari kulit sapi asli.

Di sektor ketahanan pangan, WBP juga mengembangkan peternakan ayam Arab serta greenhouse modern yang membudidayakan anggur dan melon unggulan.

Semua itu menjadi bukti bahwa pembinaan di balik jeruji tidak hanya berbicara soal menjalani hukuman, tapi juga menyiapkan masa depan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense