RM.id Rakyat Merdeka - Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah melaksanakan pemeriksaan kesehatan berkala terhadap burung maleo (Macrocephalon maleo) di Pusat Konservasi Maleo Eksitu PT Donggi Senoro LNG (DSLNG), Selasa (28/7/2026).
Pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari upaya pemantauan kondisi kesehatan burung endemik Sulawesi yang berstatus terancam punah.
Medic Veteriner BKSDA Sulawesi Tengah drh. Anang mengatakan, kegiatan tersebut merupakan pemeriksaan rutin sekaligus pendataan kondisi kesehatan burung maleo yang ditangkarkan di fasilitas konservasi DSLNG.
Baca juga : Ketelitian Laboratorium Donggi Senoro Jadi Kunci Bisnis LNG
Berdasarkan hasil pemeriksaan, sebanyak 21 ekor burung maleo yang berada di fasilitas tersebut secara umum berada dalam kondisi sehat. Namun, dua ekor di antaranya mengalami diare dan telah mendapatkan penanganan.
Pemeriksaan meliputi pengecekan suhu tubuh, berat badan, kondisi mulut dan paruh, kloaka, serta pemeriksaan terhadap kemungkinan adanya parasit pada kulit maupun penyakit lainnya.
"Adapun hari ini kami melakukan pemeriksaan meliputi pemeriksaan suhu, kemudian pemeriksaan kloaka atau anus, lalu pemeriksaan mulut untuk memastikan ada atau tidaknya kandidiasis atau jamur pada mulut. Selanjutnya pemeriksaan terhadap parasit yang berada pada kulit. Secara umum kondisi satwa dalam keadaan sehat, hanya ditemukan dua yang diare dan telah dilakukan tindakan," ujar drh. Anang.
Baca juga : Pakar UGM Soroti Pengerahan Gajah Untuk Bersihkan Puing Pasca Banjir Sumatera
Sementara itu, Corporate Communication Manager DSLNG, Adhika Paramanandana mengatakan, sejak diresmikan pada 5 Juni 2013, Pusat Konservasi Maleo Eksitu DSLNG telah berhasil melepasliarkan 127 anakan burung maleo ke habitat alaminya di Suaka Margasatwa Bakiriang, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
Menurutnya, fasilitas yang berada di kawasan Kilang DSLNG tersebut merupakan pusat konservasi maleo eksitu pertama di Indonesia.
Fasilitas itu juga menjadi yang pertama berhasil menetaskan generasi filial pertama (F1) menggunakan inkubator dari indukan maleo yang ditangkarkan.
Baca juga : Bamsoet: Merak Biru di Duren Sawit Miliki Izin dari BKSDA dan Bukan Satwa Dilindungi
"Konservasi maleo eksitu ini merupakan upaya nyata kami dari DSLNG untuk meningkatkan populasi maleo yang terancam di alam liar. Sebagai perusahaan LNG yang beroperasi di Sulawesi Tengah, upaya ini menjadi salah satu wujud komitmen kami terhadap pelestarian lingkungan hidup," kata Adhika.
Melalui program konservasi tersebut, DSLNG bersama BKSDA Sulawesi Tengah terus berupaya mendukung pelestarian burung maleo, sekaligus meningkatkan peluang keberlangsungan hidup salah satu satwa endemik khas Pulau Sulawesi di habitat alaminya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.