BREAKING NEWS
 

Perpusnas Kembangkan Human Library, Perjalanan Hidup Jadi Sumber Pembelajaran

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Sabtu, 3 Oktober 2026 05:34 WIB

RM.id  Rakyat Merdeka - Perpustakaan Nasional (Perpusnas) mengembangkan Human Library sebagai ruang berbagi pengetahuan melalui pengalaman dan perjalanan hidup seseorang. Konsep ini diperkenalkan dalam Kelas Literasi Budaya Nusantara #3: Musik Tradisional Sawah Rhythm, di Jakarta, Jumat (2/10/2026), yang menghadirkan musisi ternama Gilang Ramadhan.

Melalui konsep Human Library, pengalaman, perjalanan hidup, dan pengetahuan seseorang dihadirkan sebagai sumber pembelajaran yang dapat dibagikan dan didiskusikan bersama masyarakat.

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Suharyanto, menjelaskan bahwa perpustakaan tidak hanya berperan sebagai tempat menyimpan dan menyediakan koleksi, tetapi juga dapat menjadi ruang hidup, kreativitas, dan inovasi.

Baca juga : Perpusnas-Kemenbud Bersinergi dalam 4 Ruang Lingkup Pemajuan Warisan Budaya

“Perpustakaan Nasional tidak hanya sebagai jajaran koleksi, tetapi sebagai ruang hidup, ruang kreativitas,” ujarnya, Jumat (2/10/2026).

Menurut Suharyanto, melalui Human Library, pengalaman seseorang dapat menjadi sumber pengetahuan yang dibagikan dan didiskusikan bersama masyarakat. Konsep ini juga memperluas ruang interaksi Perpusnas dengan masyarakat, termasuk pelaku seni dan budaya.

Gilang Ramadhan berbagi pengalaman selama 30 tahun berkesenian, khususnya dalam mengenali dan mencatat ritme musik tradisional Nusantara. (Foto: Dok. Perpusnas)
Adsense

Dalam kegiatan tersebut, Gilang Ramadhan berbagi pengalaman selama 30 tahun berkesenian, khususnya dalam mengenali dan mencatat ritme musik tradisional Nusantara. Ia telah mencatat sekitar 100 ritme dari berbagai daerah dan mendigitalisasikannya melalui gagasan yang diberi nama Sawah Rhythm.

Baca juga : Kepala BNPB Klarifikasi Pernyataan Roda Kehidupan Normal di Tengah Karhutla

Ketertarikannya terhadap musik perkusi membawanya mengunjungi berbagai daerah, dari Aceh hingga Papua. Gilang menemukan bahwa kekayaan ritme musik tradisional Indonesia sangat beragam, bahkan berbeda antardaerah dan antar desa.

“Ribuan. Karena memang ketukan setiap daerah berbeda. Bahkan di Papua, beda desa sudah beda ketukan,” jelas Gilang.

Bagi Gilang, pencatatan tersebut tidak cukup jika hanya disimpan sebagai dokumentasi. Ia berharap berbagai ritme yang telah dikumpulkannya dapat terus dimainkan dan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk menciptakan karya baru.

Baca juga : Perpusnas Tetapkan 11 Warisan Dokumenter sebagai Ingatan Kolektif Nasional

“Yang saya inginkan adalah bergairah, dimainkan, diciptakan, memberikan inspirasi bagi anak-anak muda supaya bisa berkreasi dengan catatan Sawah Rhythm,” ujarnya.

Melalui Human Library, pengalaman dan pengetahuan para pelaku seni dan budaya dapat dibagikan secara langsung kepada masyarakat, sehingga pengetahuan tidak hanya tersimpan dalam koleksi, tetapi terus hidup melalui interaksi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense