Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Indonesia dan 7 Negara Kompak Tekan Israel, Dorong Sanksi Atas Permukiman E1
- Andalkan Sayap Macarena, McLaren Incar Hattrick Di Sirkuit Zandvoort
- Hanura Bidik Generasi Muda, Angkat Isu Lapangan Kerja
- Kepala Buperta Buktikan Mampu Jadi Tuan Rumah Perhelatan Pramuka Skala Nasional
- KPK: Calon Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsoed Dimintai Ratusan Juta Rupiah
4 Pegawai Perpusnas Bawa Gagasan Indonesia ke Forum Perpustakaan Dunia IFLA WLIC 2026
Rabu, 19 Agustus 2026 13:54 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) membawa perspektif Indonesia dalam percakapan global mengenai masa depan perpustakaan melalui keikutsertaan empat pegawainya dalam rangkaian 90th IFLA World Library and Information Congress (WLIC) 2026 di Busan serta IFLA Satellite Meeting di Seoul, Republik Korea. Keempatnya mempresentasikan gagasan mengenai kecerdasan artifisial (AI), keterbukaan pengetahuan, budaya populer dan generasi muda, relawan literasi masyarakat, hingga penguatan kemampuan berpikir kritis dan orisinalitas di era AI.
Sebanyak 10 peserta dari Indonesia mengikuti rangkaian WLIC 2026. Dari jumlah tersebut, lima peserta tampil sebagai presenter, dua peserta mengikuti poster sessions, dan tiga lainnya mengikuti kongres sebagai peserta. Empat dari lima presenter tersebut merupakan pegawai Perpusnas, yakni Irhamni Ali, Suci Indrawati Irwan, Sadariyah Ariningrum Wijiastuti, dan Yaya Ofia Mabruri.
IFLA WLIC 2026 berlangsung pada 10–13 Agustus 2026 dengan tema “Libraries Powering Transformation”. Kongres ke-90 International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) tersebut menghadirkan lebih dari 200 sesi dan pertemuan yang membahas berbagai isu, antara lain AI, kebebasan intelektual, literasi iklim, berbagi pengetahuan, memori budaya, dan transformasi perpustakaan. WLIC 2026 mempertemukan 3.191 delegasi dari 111 negara dan teritori. Separuh di antaranya merupakan peserta yang untuk pertama kalinya mengikuti kongres tersebut.
Kepala Perpusnas Prof. E. Aminudin Aziz mengapresiasi partisipasi pegawai Perpusnas yang membawa gagasan dan pengalaman Indonesia ke forum perpustakaan internasional. Menurutnya, keterlibatan dalam forum global tidak semata-mata untuk meningkatkan kapasitas individu, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi institusi dan masyarakat.
“Kami mendukung pegawai Perpusnas untuk terus meningkatkan kapasitas, membangun jejaring, dan berpartisipasi dalam forum internasional. Pengetahuan, pengalaman, serta jejaring yang diperoleh harus dibawa pulang dan diterjemahkan menjadi gagasan maupun praktik yang relevan untuk memperkuat perpustakaan dan budaya literasi di Indonesia,” ujar Prof. Amin.
Ia menyatakan, Indonesia memiliki pengalaman dan praktik baik yang layak menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan global. Prof. Amin berharap semakin banyak pustakawan dan profesional Perpusnas melakukan penelitian, mendokumentasikan praktik baik, serta membagikannya melalui forum internasional. “Memang kita perlu belajar dari dunia, tetapi dunia juga perlu mendengar pengalaman Indonesia,” katanya.
Delegasi Indonesia dalam 90th IFLA World Library and Information Congress (WLIC) 2026. (Foto: Dok. Perpusnas)
Baca juga : Semarakkan HUT ke-81 RI, Perpusnas Hadirkan Pameran ‘Jejak Perlawanan, Akar Peradaban’
Salah satu kontribusi tersebut dibawa Sadariyah Ariningrum Wijiastuti, pustakawan Perpusnas yang terpilih sebagai salah satu dari 16 peserta IFLA Emerging Leaders 2026. Ariningrum tampil dalam tiga sesi dengan mengangkat budaya populer sebagai pintu masuk literasi, dampak perpustakaan bagi masyarakat, serta model Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA).
Melalui makalah “Manga and Libraries: Bridging Popular Culture and Literacy Institutions in Indonesia” yang ditulis bersama Mohammad Bagus Yodha, Ariningrum mengangkat potensi manga untuk mendekatkan generasi muda dengan perpustakaan. Dalam sesi lain, ia mengkritisi asumsi “Big is Better” dengan menunjukkan bahwa dampak perpustakaan tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya gedung maupun anggaran.
Ariningrum juga memperkenalkan RELIMA melalui makalah “Building Connections, Powering Transformation: Indonesia’s Community Literacy Volunteer Model (RELIMA)”. Program tersebut berkembang dari 180 relawan di 177 kabupaten/kota pada 35 provinsi pada 2025 menjadi 360 relawan di 321 kabupaten/kota pada 2026.
“Di WLIC 2026, saya mencoba menyerap sebanyak mungkin pengalaman dan gagasan, bukan hanya dari sesi-sesi resmi, tetapi juga dari diskusi dan obrolan dengan rekan-rekan dari berbagai negara. Banyak hal yang bisa kita bawa pulang untuk pengembangan perpustakaan di Indonesia. Saya juga punya satu mimpi: suatu hari Indonesia tidak hanya hadir di WLIC, tetapi juga menjadi tuan rumah,” ujar Ariningrum.
Perspektif mengenai literasi di tengah perkembangan AI dibawa Yaya Ofia Mabruri, penerima Angela Bersekowski Grant pada IFLA WLIC 2026. Dalam sesi ARL Hot Topics, Yaya mempresentasikan makalah “Centering Collaboration to Strengthen Critical Thinking and Safeguard Originality in the Age of AI: A Case Study of the Sepekan 1 Buku Initiative”.
Melalui pengalaman Gerakan Indonesia Membaca #Sepekan1Buku, Yaya menekankan pentingnya kolaborasi perpustakaan, sekolah, pendidik, keluarga, dan komunitas dalam membangun kebiasaan membaca sekaligus menjaga kemampuan berpikir kritis dan orisinalitas di tengah semakin luasnya penggunaan AI.
Baca juga : Buku Takhta, Darma & Karsa Ungkap Warisan Keteladanan Bapak Pramuka Indonesia
“AI memang banyak membantu, tetapi jangan sampai kemudahan itu membuat kita jadi malas membaca, berpikir kritis, atau menghasilkan gagasan sendiri. Dari pengalaman #Sepekan1Buku, saya melihat perpustakaan juga tidak bisa berjalan sendiri. Perlu kolaborasi dengan sekolah, pendidik, keluarga, dan komunitas agar AI benar-benar membantu proses belajar, bukan justru menggantikannya,” ujar Yaya.
Sementara itu, Suci Indrawati Irwan membawa perspektif Indonesia mengenai komunikasi ilmiah melalui sesi “The Transformative Power of Diamond Open Access: Building Knowledge as a Global Good”. Ia mempresentasikan kajian “When Open Infrastructure Fails: Fragmentation in Repository-Based Scholarly Communication—Insights from Indonesia” pada 12 Agustus 2026.
Kajian tersebut menyoroti bahwa keberadaan infrastruktur terbuka belum otomatis membuat pengetahuan dapat bergerak dan bersirkulasi secara efektif. Repositori, menurut Suci, perlu ditempatkan bukan hanya sebagai ruang penyimpanan hasil penelitian, tetapi sebagai bagian dari infrastruktur pengetahuan yang memungkinkan informasi ditemukan, diakses, digunakan kembali, dan dipertukarkan.
“Kita tidak cukup hanya membangun repositori dan membuka aksesnya. Yang lebih penting adalah memastikan pengetahuan di dalamnya benar-benar mudah ditemukan, terhubung, dan bisa dimanfaatkan kembali. Bagi saya, keberhasilan diamond open access bukan soal berapa banyak hasil penelitian dengan akses terbuka dan repositori yang kita punya, tetapi seberapa jauh pengetahuan itu bisa bergerak dan memberi manfaat,” ujar Suci.
Kontribusi Perpusnas berlanjut melalui Irhamni Ali dalam IFLA Satellite Meeting bertema “Practical Implementations of Artificial Intelligence in Public Libraries” di Seoul pada 14 Agustus 2026. Irhamni membawakan topik “From Library Data to Action: A Practical Hybrid AI Approach to Public Library Performance Monitoring — The Indonesian Case”, yang memperkenalkan pengalaman Indonesia memanfaatkan data dan pendekatan AI untuk mendukung pemantauan kinerja perpustakaan publik.
Menurut Irhamni, pemanfaatan teknologi seharusnya membuat data perpustakaan lebih berguna dalam pengambilan keputusan. Data tidak cukup berhenti sebagai angka dalam laporan, tetapi perlu diolah untuk membantu memahami kondisi, membaca pola, dan menentukan tindakan.
Baca juga : Wiyata Kinarya, Kompetensi Tenaga Perpustakaan dan SKKNI
“Data perpustakaan jangan hanya berhenti menjadi angka di dalam laporan. Dengan bantuan AI, data itu bisa kita olah untuk melihat pola, memahami kondisi, dan membantu menentukan langkah yang perlu dilakukan. Tapi teknologi tetap alat bantu. Keputusan akhirnya harus melihat kualitas data, konteks, dan yang paling penting, kebutuhan masyarakat yang kita layani,” ujar Irhamni.
Rangkaian WLIC juga memberi peserta kesempatan melihat praktik perpustakaan di Republik Korea melalui Library Visits Tour pada 13 Agustus. Kunjungan tersebut memperlihatkan bagaimana perpustakaan terhubung dengan ruang pendidikan, budaya, seni, dan masyarakat, sekaligus memberikan referensi bagi pengembangan layanan perpustakaan di Indonesia.
Keempat perspektif yang dibawa pegawai Perpusnas menunjukkan bahwa transformasi perpustakaan tidak hanya berkaitan dengan digitalisasi dan AI. Transformasi juga menyangkut manusia, komunitas, budaya baca, keterbukaan pengetahuan, pengelolaan data, tata kelola, serta kemampuan perpustakaan merespons kebutuhan masyarakat.
Melalui penelitian, presentasi, diskusi, dan pembangunan jejaring, keikutsertaan tersebut menempatkan Perpusnas tidak sekadar sebagai peserta dalam percakapan global tentang masa depan perpustakaan. Perpusnas membawa pengalaman Indonesia untuk dibagikan kepada dunia, sekaligus membawa pulang pengetahuan, praktik baik, dan jejaring global untuk memperkuat transformasi perpustakaan dan literasi di Indonesia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya