RM.id Rakyat Merdeka - Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming mencatat sejumlah capaian di sektor pangan. Salah satunya, Indonesia mencapai swasembada beras pada akhir 2025. Produksi beras dan jagung meningkat, kebutuhan ayam dan telur dalam negeri terpenuhi, serta sektor perikanan dan garam terus berkembang.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan, capaian tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat kemandirian pangan nasional. Pemerintah juga mencatat delapan komoditas pangan strategis telah mencapai swasembada.
“Pangan kita sudah berhasil swasembada di 8 komoditas. Beras sudah penuh swasembada,” kata Zulkifli Hasan dalam wawancara dengan Rakyat Merdeka di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Berikut wawancara lengkap dengan Zulkifli Hasan.
Dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming, bagaimana capaian sektor pangan sejauh ini?
Dalam dua tahun ini, kemampuan produksi pangan dalam negeri semakin kuat. Capaian ini patut diapresiasi karena berlangsung di tengah situasi pangan dunia yang masih rapuh. Laporan FAO SOFI 2026 mencatat sekitar 645 juta orang masih menghadapi kelaparan pada 2025. Sekitar 2,1 miliar orang mengalami kerawanan pangan sedang hingga berat, sementara hampir 2,7 miliar orang belum mampu membeli makanan sehat. FAO juga mengingatkan bahwa perbaikan global masih belum merata dan rentan terhadap berbagai guncangan.
Di tengah kondisi itu, produksi beras Indonesia pada 2025 mencapai 34,69 juta ton, naik 13,29 persen dibandingkan 2024. Produksi jagung juga meningkat menjadi 16,16 juta ton, naik 6,74 persen.
Baca juga : Rakyat Mudah Daftar Bansos, Kini Penerima Tepat Sasaran
Tren itu berlanjut pada 2026. Sepanjang Januari–Agustus, produksi padi mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling, setara dengan 25,29 juta ton beras. Produksi jagung pada periode yang sama mencapai 11,86 juta ton, naik 3,84 persen. Angka delapan bulan ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, bukan dengan produksi satu tahun penuh.
Dari sisi petani, Nilai Tukar Petani atau NTP pada September 2026 mencapai 131,11, naik 1,49 persen dari bulan sebelumnya. Ini menunjukkan perbandingan harga yang diterima dan dibayar petani membaik. Namun, produksi yang meningkat harus diikuti dengan penyerapan hasil panen, biaya usaha tani yang terkendali, dan akses pasar yang lebih baik.
Bagaimana perkembangan sektor peternakan, khususnya dalam memenuhi kebutuhan ayam, telur, daging sapi, dan susu?
Di sektor perunggasan, kebutuhan ayam dan telur dalam negeri sudah dapat dipenuhi, bahkan produknya mulai menembus pasar ekspor. Pemerintah kini mendorong penguatan industri ayam dari hulu sampai hilir—mulai dari pakan, budi daya, pemotongan, pengolahan, hingga pemasaran—agar peternak juga mendapat manfaat lebih besar. Untuk daging sapi dan susu, kita masih harus bekerja lebih keras karena produksi dalam negeri belum mencukupi kebutuhan.
Sektor perikanan juga terus diperkuat. Hingga triwulan III 2026, produksi ikan budi daya diperkirakan mencapai 5,38 juta ton, sementara produksi rumput laut mencapai 9,12 juta ton. Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih mulai menunjukkan hasil. Dari 65 lokasi tahap pertama yang pembangunan fisiknya sudah selesai, rata-rata kesiapan operasional mencapai 69,7 persen. Di 24 lokasi percontohan, pengiriman ikan mencapai 614 ton dengan nilai transaksi Rp16,67 miliar pada Juni–September 2026. Untuk tahap kedua, 16 dari 35 lokasi telah selesai dibangun.
Lalu bagaimana capaian sektor perikanan dan garam, termasuk perkembangan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih?
Untuk garam, Indonesia mulai mampu memproduksi garam untuk kebutuhan farmasi yang selama ini dipenuhi lewat impor. Produksi garam nasional hingga 30 September 2026 diperkirakan mencapai 1,03 juta ton. Pemerintah juga mempercepat pembangunan kawasan industri garam di Rote Ndao. Tahap pertama di Zona 1 mencakup sekitar 616 hektare, sebagai bagian dari rencana pengembangan kawasan seluas sekitar 10.764 hektare. Kawasan ini diharapkan membantu memenuhi kebutuhan garam industri yang sebagian masih bergantung pada impor.
Baca juga : Survei Kepuasan Pemerintah, Bansos Dan MBG Jadi Juru Selamat
Jadi, kemajuan terlihat pada produksi beras dan jagung, penguatan perunggasan, perikanan, dan garam. Tantangan berikutnya adalah memastikan hasilnya sampai ke masyarakat dan memberi manfaat lebih besar bagi petani, peternak, nelayan, serta pelaku usaha pangan.
Apakah kita sudah berada di jalur yang benar menuju target swasembada?
Untuk beras, kita sudah mencapai tonggak penting. Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia mencapai swasembada beras pada akhir 2025, lebih cepat dari target awal empat tahun. Produksi beras mencapai 34,69 juta ton dan kebutuhan beras konsumsi nasional dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri tanpa impor beras konsumsi umum.
Namun, swasembada harus dijaga agar berkelanjutan. Produksi padi sepanjang Januari–Agustus 2026 masih tumbuh 0,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Untuk September–November, produksi diperkirakan turun 11,96 persen menjadi 12,24 juta ton gabah kering giling. Dengan demikian, produksi padi Januari–November diperkirakan mencapai 56,13 juta ton, turun 2,82 persen. Angka ini masih berupa proyeksi.
Sementara itu, produksi jagung Januari–Agustus 2026 mencapai 11,86 juta ton, naik 3,84 persen. Untuk Januari–November, produksinya diperkirakan mencapai 15,35 juta ton, naik 1,56 persen. Ini menunjukkan kebijakan pangan harus disesuaikan dengan kondisi produksi dan kebutuhan masing-masing komoditas.
Untuk daging sapi dan susu, kita masih perlu mempercepat upaya menuju swasembada. Pemerintah menyiapkan penguatan jumlah ternak, pembibitan, pakan, kesehatan hewan, pembiayaan, infrastruktur, serta kemitraan peternak dengan industri.
Jadi, kita berada di jalur yang tepat menuju kedaulatan pangan. Swasembada beras menjadi tonggak penting, tetapi keberhasilan ini harus dijaga keberlanjutannya sekaligus diperluas ke komoditas pangan lainnya.
Baca juga : Kondisi IHSG Mirip Di Era Covid
Swasembada pangan tercapai jauh sebelum target awal empat tahun. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, capaian atau lompatan besar apa yang ingin dijadikan target, termasuk untuk swasembada ikan dan garam?
Di sektor pertanian, kita akan meningkatkan produktivitas melalui perbaikan irigasi, penggunaan benih yang sesuai, mekanisasi, dan penyuluhan. Kita juga akan mengembangkan sumber pangan alternatif, seperti sagu, sorgum, dan umbi-umbian, sesuai potensi daerah.
Selain meningkatkan produksi, kita perlu memperkuat penyimpanan, pengolahan, dan distribusi agar hasil panen terserap pasar. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga dapat membuka pasar bagi petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha pangan lokal.
Untuk daging sapi dan susu, kita memperkuat ekosistem peternakan dari pembibitan, pakan, dan budi daya hingga pengolahan dan pemasaran. Sementara itu, sektor perikanan dan garam terus dikembangkan untuk menjaga pasokan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Jadi, lompatan besar dua hingga tiga tahun ke depan adalah memperluas keberhasilan swasembada beras menjadi kemandirian pangan yang lebih menyeluruh. Ukurannya bukan hanya peningkatan produksi, tetapi juga pasokan yang stabil, harga terjangkau, dan kesejahteraan petani, peternak, serta nelayan yang semakin baik.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.