RM.id Rakyat Merdeka - Regenerasi seni pedalangan menjadi perhatian Kementerian Kebudayaan (Kemenbud). Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengajak generasi muda tidak sekadar mengenal wayang, tetapi berani meneruskan tradisi menjadi dalang.
Langkah itu dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan seni pewayangan sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan selera hiburan masyarakat.
Ajakan tersebut disampaikan Fadli saat menghadiri Grand Final Festival Dalang Anak (FDA) ke-19 di Gedung Pewayangan Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Kamis (5/11/2026). Festival ini menjadi ruang bagi anak-anak dari berbagai daerah untuk menunjukkan kemampuan, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap seni pedalangan.
Menteri asal Partai Gerindra itu mengatakan, dalang memiliki posisi sentral dalam sebuah pertunjukan wayang. Tidak hanya menggerakkan tokoh dan mengendalikan jalannya cerita, dalang juga bertanggung jawab menyampaikan pengetahuan, nilai kehidupan, serta kearifan lokal yang terkandung dalam setiap lakon.
Dalang merupakan pusat pengendali dari pementasan wayang. Keberadaannya sangat penting agar anak-anak mengenal dan melanjutkan tradisi pedalangan, menjaga ilmu pengetahuan dan kearifan dalam lakon pewayangan sebagai refleksi kehidupan.
Baca juga : Cepat Tuntaskan Kasus Penyadapan Presiden!
“Sekaligus mengembangkan seni pewayangan dengan inovasi dan kreativitas agar terus hidup di tengah perubahan zaman,” ujar Fadli dalam keterangan tertulisnya, Jumat (6/11/2026).
Menurutnya, Festival Dalang Anak menjadi salah satu sarana penting untuk menjaring bibit-bibit muda berbakat.
Melalui kompetisi tersebut, anak-anak memperoleh kesempatan mengembangkan kemampuan sekaligus mengenal lebih dekat kekayaan seni tradisional Indonesia.
Mantan Wakil Ketua DPR itu menilai, proses regenerasi harus dilakukan secara berkelanjutan agar seni pedalangan tidak hanya bertahan sebagai peninggalan masa lalu. Anak-anak perlu diberi ruang untuk belajar, berlatih, tampil dan mengembangkan kreativitas tanpa meninggalkan pakem serta nilai-nilai budaya yang diwariskan para pendahulu.
Fadli juga mengingatkan, wayang memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah kebudayaan Indonesia. UNESCO mengakui wayang sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 2003, sebelum kemudian ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) pada 2008.
Baca juga : Stimulus Nataru Dan Investasi Jadi Andalan
Pengakuan internasional tersebut menjadikan wayang sebagai elemen budaya Indonesia pertama yang memperoleh pengakuan UNESCO. Karena itu, Pemerintah memiliki tanggung jawab memastikan tradisi tersebut terus diwariskan dan semakin dikenal masyarakat dunia.
“Semoga melalui kolaborasi, wayang yang sudah menjadi warisan budaya takbenda dunia ini semakin dikenal dunia lewat kreasi dan terobosan baru,” harapnya.
Fadli menegaskan, pelestarian wayang tidak berarti harus menutup diri dari perkembangan teknologi. Justru, inovasi diperlukan agar pertunjukan tradisional mampu menjangkau penonton yang lebih luas. Termasuk generasi muda dan masyarakat internasional.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan teknologi digital dalam penyelenggaraan pertunjukan. Pementasan wayang berbahasa Jawa maupun Sunda, misalnya, dapat dilengkapi teks terjemahan bahasa Indonesia dan Inggris serta disiarkan secara daring.
Kemenbud, lanjut Fadli, juga berkomitmen mendukung organisasi dan komunitas yang selama ini konsisten menjaga keberlangsungan seni pedalangan. Di antaranya Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi), Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi), serta komunitas pewayangan di berbagai daerah.
Baca juga : Lantik Pengurus Baru, PBB Aceh Optimis Bangkitkan Kekuatan
Dukungan tersebut diperlukan karena regenerasi dalang tidak bisa hanya mengandalkan festival tahunan. Pembinaan di daerah, keberadaan sanggar, keterlibatan keluarga, serta kesempatan tampil bagi anak-anak menjadi bagian penting dalam melahirkan dalang-dalang penerus.
Semangat regenerasi itu terlihat dari capaian peserta asal Banten dalam Festival Dalang Anak Nasional ke-19. Dua wakil daerah tersebut berhasil membawa pulang gelar juara. Rizqi Wahyu Rohman meraih juara pertama kategori usia 12-15 tahun, sedangkan Altan memperoleh juara keempat kategori usia 8-11 tahun. ASI
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Minggu, 8 November 2026 dengan judul "Jaga Seni Budaya Pewayangan Fadli Zon Ajak Generasi Muda Berani Jadi Dalang"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.